DEPOK, BISNISJAKARTA.ID – Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) memainkan peran penting dalam perekonomian Indonesia dengan meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB), memperluas kesempatan kerja, dan sebagai penyedia jaring pengaman bagi masyarakat berpendapatan rendah.
Data Smesco pada 2023 menunjukkan bahwa jumlah UMKM di Indonesia mencapai 64,2 juta unit dan menyerap 96,92% dari total tenaga kerja di unit usaha Indonesia.
Meskipun pandemi Covid-19 berdampak negatif pada pertumbuhan ekonomi Indonesia, UMKM tetap berupaya mempertahankan usahanya dengan berbagai inovasi.
Pada tahun 2020, pertumbuhan PDB tercatat minus 2,07%, namun dampak Covid-19 di Indonesia tidak seburuk negara-negara tetangga.
Oleh karena itu, UMKM memiliki potensi besar dalam membantu mengatasi resesi dan Indonesia memiliki potensi untuk menjadi basis ekonomi yang kuat.
Pemerintah Kota Depok bertekad untuk meningkatkan jumlah pelaku UMKM, untuk memajukan perekonomian kota Depok. Saat ini, ada sekitar 2.385 pelaku usaha mikro di Depok yang memiliki kontribusi besar dalam mengurangi angka pengangguran.
DKUM Kota Depok mengadakan berbagai pelatihan untuk meningkatkan kualitas produk UMKM dan membuka lapangan pekerjaan. Khususnya di Kelurahan Sawangan Baru memiliki 1.150 UMKM, dan penduduk sebanyak 17.693 jiwa dan kepadatan penduduk 8.191 jiwa/km2.
Terdapat 40 pelaku UMKM binaan IWAPI ranting Sawangan, yang membutuhkan pelatihan dan pendampingan tentang kewirausahaan dan pemasaran produk untuk meningkatkan kinerja usaha mereka.
Tim dosen dan mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, yaitu Suharyati, sebagai ketua tim dan anggota terdiri dari Tati Handayani, Kery Utami dan dua orang mahasiswa yaitu Qamilla Nurul Halimah, Khairul Aditya Kurniadi, melakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PkM) dengan fokus pada pemberdayaan UMKM di wilayah Sawangan.
Mereka mengidentifikasi beberapa permasalahan yang dihadapi UMKM di daerah tersebut, seperti kinerja yang belum maksimal, usaha yang masih bersifat kekeluargaan, dan kurangnya pola pikir kewirausahaan yang berorientasi pada otonomi, inovasi, dan pengambilan keputusan.

Kegiatan usaha yang dijalankan belum memiliki perencanaan usaha yang realistis dan matang, sehingga pertumbuhan penjualan masih lambat. Pemberdayaan UMKM sangat penting, terutama dalam menghadapi krisis ekonomi karena UMKM terbukti dapat bertahan.
Solusi yang ditawarkan dalam kegiatan PkM ini adalah memberikan pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan mereka tentang pola pikir kewirausahaan, memperbaiki manajemen usaha dengan membuat rencana usaha yang baik, meningkatkan pengetahuan tentang strategi pemasaran yang efektif dan efisien melalui media sosial, dan memberikan keterampilan membuat produk berkualitas dengan dari bahan olahan lidah buaya berupa minuman lidah buaya.
Tujuan kegiatan pengabdian ini adalah memberdayakan UMKM sektor mikro agar memiliki pola pikir kewirausahaan yang mandiri, inovatif, proaktif, berani mengambil risiko, dan kompetitif, serta memiliki keterampilan dalam membuat perencanaan usaha yang akan mendorong kinerja UMKM setelah dilakukan pelatihan.
Metode Pelaksanaan PkM dilakukan dengan memberikan pemahaman dan pelatihan dengan metode ceramah mengenai pola pikir kewirausahaan, perencanaan usaha, dan praktek membuat produk inovatif. Pelatihan ini diikuti oleh 27 orang peserta UMKM binaan IWAPI ranting Sawangan Kota Depok.
Mayoritas dari 27 pelaku UMKM bergerak dalam usaha kuliner, diikuti oleh Feysen, Rumah tangga, Salon, Alat tulis kantor, dan Handicraft. Sebagian besar usaha berumur pada kisaran 1-3 tahun, dengan modal usaha kurang dari Rp.5.000.000,- dan jumlah karyawan kurang dari 3 orang.
Total penjualan terbanyak berada pada kategori penjualan kurang dari Rp.5.000.000.- perbulan, penjualan terbanyak dilakukan secara offline dan online (hybrid). Whats Up dan Instagram adalah jenis media sosial yang paling banyak digunakan sebagai media penjualan online.
Selesai pelatihan peserta PkM diberikan kuesioner untuk mengukur pemahaman mereka mengenai pola pikir kewirausahaan, perencanaan usaha, dan praktek membuat produk inovatif.
Hasilnya menunjukkan bahwa peserta memiliki pemahaman yang baik, bahkan sebagian besar peserta sangat memahami materi tersebut. Oleh karena itu, diharapkan peserta yang merupakan pelaku UMKM, dapat menerapkan pola pikir kewirausahaan, perencanaan usaha, dan praktek membuat produk inovatif dalam kegiatan usahanya.
Melalui pelatihan kewirausahaan dan pemanfaatan media sosial sebagai sarana promosi dan penjualan diharapkan dapat meningkat dari omset saat ini dan mendorong kinerja UMKM lebih baik lagi. (son)










