Press "Enter" to skip to content

Menyusuri “Kubangan Kerbau” Poros Muara Rupit – Karang Dapo

Media Social Share

DERITA masyarakat Rawas Ilir seakan tak pernah berakhir. Satu-satunya akses transportasi munuju ibukota Musirawas Utara, Muara Rupit tak pernah benar-benar sembuh dari penyakit kronisnya, rusak parah.

Pemimpin silih berganti, jalan poros Muara Rupit – Karang Dapo ini tak pernah berganti wajah. Bukan saat ini, tetapi sejak dulu kala jalan ini seperti dianaktirikan oleh program pembangunan.

Entah karena proyek dikerjakan secara asal-asalan atau karena memang faktor georgafis dimana jalan poros utama ini selalu digenangi air akibat banjir maupun curah hujan yang tinggi. Atau memang menjadi bagian dari bargining estafeta kepemimpinan Muratara.

Meski salah soramg putra daerah sudah pernah menjadi pemimpin di Musi Rawas, jalan ini tetap saja tak menampkan wajah indahnya sebagai jalan poros utama.

Padahal, jalan ini merupakan rute utama bagi masyarakat untuk membantu menghidupkan perekonomian daerah. Jalan ini menjadi satu-satunya akses bagi warga untuk menuju sentra ekonomi terdekat, kota Muara Rupit.

Kini, jalan tampak seperti kubangan kerbau. Untuk melintasi jalan, jangankan kendaraan roda dua, kendaraan roda empat saja harus berhati-hati. Jika nekad kendaraan dipacu dengan kecepatan tinggi, musibah menunggu baik kendaraan itu rusak atau selokan menanti.

Kondisi yang lebih memprihatinkan tampak pada ruas jalan Trans Subur. Jalan yang belum pernah tersentuh aspal yang konon akan menjadi jalan provinsi itu, pada beberapa bagian jalan tampak seperti kubangan babi.

Oleh karena itu, untuk menjadikan jalan tersebut bagus dan mulus, jalan hendaknya tak lagi dibangun dengan metode konvensional menggunakan aspal, tetapi harus sudah mengggunakan beton cor. Ini dimaksudkan untuk mengurangi resiko jalan rusak dalam waktu singkat baik itu akibat dilalui kendaraan odol atau Over Dimension Over Loading (kendaraan berat yang memiliki dimensi dan muatan berlebih) maupun akibat faktor alam seperti banjir yang rajin datang.

Jika APBD Muratara tak mampu membiayai pada satu tahun anggaran, skema multi year menjadi solusi. Jika jalan ini sebagai jalan provinsi, Pemkab Muratara harus mendorong kepedulian Pemprov Sumatra Selatan atau dianggarkan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Sumsel.

Sekarang, tinggal niat baik para pemimpin. Muratara sebagai salah satu kabupaten tertinggal, akan maju jika simpul-simpul ekonomi bergerak. Pergerakan ekonomi bisa dipercepat jika infrastruktur transportasi sebagai pendukung utama mobilitas masyarakat, barang dan jasa dapat diandalkan. (son)

Mission News Theme by Compete Themes.