JAKARTA, BISNISJAKARTA.ID – Tingkat literasi sektor perasuransian tercatat sebesar 42,84 persen, sementara tingkat inklusinya mencapai 29,55 persen. “Tingkat inklusi perasuransian mengalami peningkatan dari 28,50 persen, meskipun tingkat literasinya mengalami penyesuaian dari sebelumnya 45,45 persen,” kata Ketua Dewan Asuransi Indonesia (DAI), Yulius Bhayangkara saat Peringatan Hari Asuransi di Jakarta, Selasa (20/10).
Hari Asuransi tahun ini mengusung tema “Literasi Asuransi Untuk Negeri” dan sub tema “Pahami – Miliki – Lindungi”, sebagai komitmen bersama seluruh asosiasi perasuransian, untuk berupaya terus meningkatkan Literasi kepada masyarakat agar lebih memahami asuransi dengan cara memberikan edukasi lalu mengajak masyarakat untuk memiliki produk asuransi, dan merasakan perlindungan dan manfaat dari berasuransi.
Yulius mengatakan, kondisi tersebut menunjukkan masih adanya ruang yang besar untuk memperkuat pemahaman masyarakat terhadap manfaat, karakteristik, serta produk dan layanan asuransi, sekaligus mendorong pemahaman tersebut menjadi penggunaan produk asuransi yang lebih luas.
Momentum Hari Asuransi 2026, kata dia, menjadi wadah bagi seluruh industri perasuransian untuk meneguhkan komitmen bersama dalam membangun budaya literasi asuransi Nasional. Melalui rangkaian program literasi yang terus diselenggarakan secara berkesinambungan kepada Media dan Masyarakat Umum.
Langkah ini diharapkan mampu memperkuat inklusi asuransi yang mana saat ini sebagai salah satu tantangan besar yang masih dihadapi industri, sekaligus menciptakan masyarakat yang lebih siap menghadapi berbagai risiko di masa depan.
Yulius mengingatkan pentingnya berasuransi masih menjadi tantangan, terutama karena tingkat pemahaman masyarakat mengenai asuransi yang masih perlu peningkatan. Oleh karena itu, Panitia Hari Asuransi setiap tahunnya menjadikan literasi dan edukasi sebagai fokus utama. “Kami meyakini bahwa literasi asuransi bukan hanya tentang mengenalkan produk, tetapi juga memberikan pemahaman yang benar mengenai pentingnya perlindungan keuangan melalui asuransi,” katanya.
Melalui berbagai kegiatan literasi di beberapa Kota, Yulius mengajak masyarakat untuk tidak hanya mengetahui, tetapi juga memiliki produk asuransi dan merasakan langsung manfaatnya. Dengan demikian, kepercayaan masyarakat terhadap asuransi sebagai instrumen proteksi dapat terus tumbuh, sehingga semakin banyak keluarga dan pelaku usaha yang terlindungi dari risiko di masa depan.
Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) ditunjuk sebagai pelaksana rangkaian Kegiatan Hari Asuransi 2026. Ketua Bidang Kanal Distribusi Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Hengky Djojosantoso mengatakan, peningkatan literasi dan inklusi asuransi adalah langkah strategis dalam membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya perlindungan dari berbagai risiko kehidupan. Asuransi bukan lagi sekadar produk keuangan, melainkan sudah menjadi kebutuhan dasar masyarakat untuk menghadapi risiko yang dapat terjadi kapan saja, seperti bencana alam maupun kecelakaan.
Oleh karena itu, ia mengajak seluruh elemen dan pemangku kepentingan serta insan perasuransian untuk terus aktif memberikan edukasi yang menyentuh langsung masyarakat, agar mereka tidak hanya memahami, tetapi juga memiliki produk asuransi dan merasakan manfaatnya. Hengky menekankan bahwa kontribusi seluruh perusahaan asuransi sangat besar dalam menyebarluaskan literasi. Ia juga mengingatkan perlunya inovasi dan terobosan baru agar industri asuransi semakin dikenal, dipercaya, dan mampu menjadi pilar penting dalam menjaga stabilitas perekonomian nasional.
Ketua Panitia Hari Asuransi 2026, Cicilia Nina Triana, menyatakan, komitmennya untuk melaksanakan rangkaian literasi dan inklusi asuransi bagi pelaku UMKM bekerjasama dengan PT Permodalan Nasional Madani, sebagai bentuk apresiasi atas peran UMKM yang menjadi tulang punggung perekonomian nasional.
Melalui program ini, panitia optimis dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya berasuransi guna menciptakan kestabilan dan perlindungan dari berbagai risiko di masa depan.
Melalui kerja bersama seluruh asosiasi dan pelaku industri perasuransian untuk melakukan Literasi, Yuliua berharap, kepercayaan masyarakat terhadap asuransi dapat terus tumbuh. Edukasi dan literasi asuransi perlu dilakukan secara masive dan berkesinambungan, agar asuransi lebih mudah dipahami dan diterima oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia.
Dengan demikian, masyarakat akan semakin menyadari pentingnya perencanaan keuangan untuk perlindungan, sehingga mampu memberikan rasa aman dan nyaman di masa depan, sekaligus menjadikan asuransi sebagai salah satu pilar penting dalam menjaga ketahanan perekonomian nasional. (son)










