Press "Enter" to skip to content

Menelisik Startup Indonesia Ditengah Pandemi

Media Social Share

LISTINGNYA start up Bukalapak di Bursa Efek Indonesia mau tidak mau merupakan  era baru bisnis E-commerce di Indonesia,mengapa tidak  ? karena Bukalapak bisa dibilang menjadi satu-satunya perusahaan Start up yang resmi melantai di bursa pada 6 Agustus lalu di tengah pandemi Covid-19.

Emiten baru dengan nama BUKA ini dibuka dengan penawaran harga saham senilai 850 per lembar saham melalui IPO (Initial Public Offering). Dari pantauan penulis di BEI, Hingga kini investor, masih melirik saham Bukalapak.

Melantainya BUKA di BEI, disinyalir akan menjadi pemicu dan akan diikuti oleh perusahaan Startup lain, dan ini menjadi menarik karena bisnis e-commerce, bisa dibilang menjadi bisnis yang cukup menjanjikan kedepan.

Tidak tanggung-tanggung, mengutip CNN.com, bahkan Bukalapak meraup dana segar sebesar US$1,5 miliar atau Rp21,4 triliun (kurs Rp14.300 per dolar AS) dari aksi korporasi IPO atau penawaran saham kepada masyarakat.

Bukan Hanya Bisnis Teman-Keteman

Semakin majunya teknologi membuat inovasi tentang berbagai hal, juga mengalami perkembangan, ini alami saja sebenarnya. Teknologi dan Inovasi harus selallu berjalan beriringan pada perusahaan-perusahaan E-commercem jika tidak tentu akan tertinggal dan dilupakan. Dibidang ekonomi, bisnis Start up merupakan peluang bagi para pengusaha ‘baru’ untuk mulai merintis usaha (Start up). DI Indonesia, semangat ini tidak surut ketika negara kita masih menghadapi pandemic Covid-19.

Ini dibuktikan bahwa Indonesia merupakan tanah yang subur untuk pertumbuhan Startup. Indonesia menduduki posisi lima dunia dengan 2.193 Startup pada 2019 setelah AS, India, Inggris, dan Kanada, (Kominfo:2021).

Tak hanya unggul kuantitas. Kualitas Startup di Indonesia pun kian tangguh dengan munculnya empat Unicorn (valuasi lebih dari 1 juta dollar AS) dan satu Decacorn (valuasi lebih dari 10 juta dollar AS).

Valuasi pasar Unicorn dan Decacorn itu juga mendominasi dunia Startup Asia Tenggara. Beberapa di antaranya Gojek (11 miliar dollar AS), Tokopedia (7 miliar dollar AS), Traveloka (4,5 miliar dollar AS), OVO (2,9 miliar dollar AS), dan Bukalapak (12 miliar dollar AS).

Tapi sebenarnya kalau melihat data Startup Rangking.Com, tahun 2019 Indonesia angka perkembangan jumlah Startup terlihat menurun. penurunan jumlah startup tersebut akibat dari pandemi Covid-19 yang berlangsung sejak awal 2020. Akibat penyebaran virus corona jenis baru tersebut, berbagai aktivitas sosial ekonomi masyarakat menjadi terganggu, disamping penyebab lainnya adalah pesaingan Startup karena jumlah yang sangat banyak.

Membuat Startup tidak hanya sebuah bisnis semata tetapi seharusnya juga sesuatu yang memiliki dampak bagi masyarakat.

Startup Company, intinya kita membuat bisnis tapi tidak sekedar bisnis teman keteman, tetapi kita juga punya misi sosial yaitu impact buat masyarakat. Jadi, Startupadalah perpaduan antara keuntungan dan impact yang akan dihasilkan untuk masyarakat

Ide Startup bisa dilakukan dengan tim atau sendiri tergantung pada setiap orang masing-masing. Tetapi yang terpenting adalah ide Startup harus realistis dan sesuai dengan yang dibutuhkan masyarakat.  

Jadi Startup itu bukan sekedar ide gila mengubah dunia, tetapi tetap harus realistis yang benar-benar dibutuhkan masyarakat bukan hanya sekedar trend saja di masyarakat. Boleh bermimpi tinggi tetapi harus tetap realistis.

Bertahan Ditengah Pandemi

Lantas apa yang harus dilakukan para new comer Startup, agar mereka bisa bertahan di tengah gempuran Startup besar dan Pandemi Covid-19.

Menurut penulis, tidak beda jauh dengan jualan atau ala-ala sales marketing sebuah, sebenarnya Cuma ada empat (4) strategi yang harus dilakukan para Startup baru, yang pertama adalah promotion, peningkatan pelayanan, inovasi, dan kolaborasi, jika keempat ini dijalankan, sangat diyakini bahwa Startup dapat bertahan dari terpaan covid-19 dan persaingan.

Untuk melakukan promosi, tidak perlu dengan anggaran yang besar dan membuat iklan yang tampil dimana-mana, sementara sebagai pedatang baru anggaran untuk promosi harus dialokasikan ke yang lain. Caranya bagaimana ? lakukan pendekatan dengan para endoser media sosial, agar bisa bekerjasama dengan produk kita tanpa harus mengeluarkan uang promosi yang besar karena anggaran minim.

Selain itu, pelayanan juga harus prima, jangan sampai pelanggan kabur karena pelayanan Startup kita tidak baik atau hadapi pelayanan dengan senyum yang terbaik. Inovasi menjadi perlu dari bisnis ini, karena jika inovasi tidak dilakukan makan tidak ada hal baru yang dapat kita promokan, inovasi bisa dilakukan dengan mengubah pola baru dan sesuai hal yang berbeda dari biasanya atau dengan menawarkan produk baru yang lebih hemat, murah dan rasa berbeda.

Dan yang terpenting agar Startup kita bisa bertahan adalah perlunya koloborasi, bangun kerjasama dengan  Startup yang berbeda jenis atau bahkan dengan yang sesama jenis, agar pelanggan bisa mengenal kita dari Startup yang lain.

Mau mencoba atau tetap bertahan ditengah pandemi adalah pilihan kita. Dan yang mampu bertahanan adalah Startup-Startup yang sudah teruji dengan segala Inovasi, update tehnologi dan produk service yang baru. ***

*Suhendra Atmaja – Dosen STIKOM InterStudi Jakarta

Mission News Theme by Compete Themes.