Press "Enter" to skip to content

Keterbukaan dan Niat Refleksi Terhadap Gejala Simbolisme Dalam Masyarakat Islam Pasca Kebenaran

Media Social Share

SEBUAH telaah menggelitik di tengah kian minimnya pemikiran Islam bahwa Simbolisme dalam arti yang sempit khusus untuk artikel ini adalah pemakaian ikon dan simbol untuk menjustifikasi suatu perbuatan yang sebenarnya dapat dievaluasi secara rasional dengan menyorot langsung pada fakta perbuatan tersebut.

Pemikiran itu dilontarkan dua orang pemerhati sekaligus peminat keilmuan dalam agama Islam , Widia Febriana alumnus UIN Syarif Hidayataullah Jakarta dan Tayo Sandoni (UIN Sunan Gunung Djati) Bandung dalam sebuah artikel ilmiah  yang dipublikasi di Jakarta baru-baru ini.

Menurut keduanya, contoh dari simbolisme adalah penokohan terhadap seseorang. Simbolisme terlihat pada masyarakat Islam kontemporer sebagai sebuah gejala dalam pergaulan sosial dimana masyarakat menggunakan simbol dan ikon untuk menjustifikasi perbuatan-perbuatan yang dinilai amoral atau pidana dari perspektif sebagian masyarakat, muslim atau non-muslim. 

Lebih jauh, ungkap keduanya, tujuan pertama artikel ini pertama, adalah untuk meninjau ajaran Islam mengenai simbolisme dengan latar belakang evolusioner dan sejarah kenabian.Tujuan kedua makalah ini adalah menawarkan solusi atas masalah simbolisme dengan berpijak pada ajaran Islam.

Di mana dalam membedah permasalahan tersebut, keduanya menggunakan metode intuisi linguistik dari bidang filsafat analitik untuk mencapai kedua tujuan tersebut.

Hasil analisisnya antara lain menunjukkan bahwa simbolisme adalah sebuah naluri purba manusia yang terus ditentang oleh nabi-nabi dari Adam hingga Muhammad. “Simbolisme memunculkan bahaya bagi kelangsungan hidup manusia karena dapat membawa pada perpecahan dan adu domba oleh pihak ketiga sehingga tanpa kesadaran bahwa dirinya telah diperalat, manusia menjalankan agenda-agenda pihak ketiga,” ungkap keduanya.

Untuk mengatasi masalah ini,  keduanya menawarkan dua solusi. Pertama, solusi vertikal dengan merujuk langsung pada niat dari pelaku dalam melakukan perbuatan.Kedua, solusi horizontal dengan melakukan diskusi dan silaturahmi antar kelompok.

Untuk itu, lanjut keduanya, menjadi sangat penting bagi umat Islam untuk mengambil langkah anikonisme, yaitu menghilangkan ikon-ikon dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dilakukan misalnya dengan tidak membuat patung, menghilangkan wajah para nabi dari ilustrasi, atau tidak menggunakan wujud manusia dan hewan dalam bangunan.

Salah satu ciri penentu yang membedakan arsitektur Islam dengan arsitektur lainnya adalah anikonisme di dalam bangunan, dimana tidak dapat ditemukan adanya figur manusia dan hewan dalam ilustrasi maupun konstruksi bangunan. Hal yang lebih tak kalah pentingnya lagi adalah menggunakan akal untuk memandu kehidupan.

Dalam kesimpulannya, disebutkan bahwa simbolisme adalah sebuah permasalahan purba yang terjadi bahkan semenjak Nabi Adam AS diciptakan.

Sepanjang sejarah, kecenderungan simbolisme telah dimanfaatkan oleh kekuatan politik maupun sosial dalam berbagai kepentingannya. Hal ini menunjukkan bahwa simbolisme merupakan naluri primordial manusia dalam hidup di dunia. Kami menunjukkan bahwa sifat sosial manusia yang berusaha berkumpul dalam kelompok yang dipimpin oleh seorang alpha dan kecenderungan personifikasi alam menjadi akar evolusioner dari permasalahan simbolisme.

Nabi dan rasul dari semenjak Adam hingga Muhammad SAW berjuang untuk mengalahkan simbolisme. Jika simbolisme dipertahankan, maka akan membawa pada syirik dengan menjadikan simbol sebagai berhala bagi manusia. Hal ini memecah belah umat karena dua hal.

Kedua, bahwa simbolisme memungkinkan pihak ketiga untuk memanfaatkan simbol untuk tujuan-tujuan batil yang merusak persatuan umat dan iman masyarakat.Ajaran Islam secara garis besar adalah ajaran yang meminta para penganutnya untuk menolak simbolisme yang tampak demi pengutamaan akal, sebagai modal manusia untuk mampu bertindak bebas di dunia.

Tetapi karena simbolisme memakan lebih sedikit energi dibandingkan berpikir, maka banyak manusia menggunakan simbolisme sebagai justifikasi perilaku, alih-alih menggunakan akalnya secara optimal.

Objektivitas adalah sebuah karakteristik dari pemikiran berbasis akal dan ini dapat dicapai dengan menjaga keterbukaan pikiran dari berbagai perspektif yang dapat muncul. Keterbukaan, yang diwujudkan dalam silaturahmi, memungkinkan akal menemukan titik-titik kesamaan ataupun menemukan solusi atau penjelasan yang paling logis yang dapat diterima.

Keterbukaan akan membawa pada niat yang menyentuh akar masalah sehingga menjamin agar umat tidak terpecah dan karenanya, mencegah efek buruk dari simbolisme. 

Tantangan umat manusia ke depan bukan lagi tantangan secara visual, seperti kegelapan, harimau, atau suara-suara keras, tetapi perpecahan, fitnah, virus, adu domba, korupsi, kemunafikan, dan hal-hal lain yang tidak lagi terlihat.

Pada situasi seperti ini, simbolisme tidak lagi dapat digunakan.Situasi tantangan yang bersifat tak tampak memerlukan analisis yang menggunakan akal yang membawa pada keterbukaan dan upaya untuk mencari niat. 

Walau begitu, akan ada kekuatan-kekuatan tak tampak yang menghalangi penggunaan akal dengan menarik manusia ke arah naluriahnya menggunakan simbol-simbol dengan upaya mengadu domba manusia. 

Musuh berusaha menarik manusia ke titik terendahnya yang sub optimal di bawah akal, yaitu kebertopangan pada aspek-aspek tampak yang memicu emosional. Karena setiap orang memiliki potensi menggunakan akal untuk analisis, maka upaya pemanfaatan akal untuk mengatasi masalah kemanusiaan perlu terus dipertajam dan digalakkan.

Singkat dan mudahnya, untuk mengatasi gejala simbolisme ini keduanya menawarkan solusi diskusi dan silaturahmi. Sebuah tawaran yang barangkali sangat aktual di era kekinian. ***

Mission News Theme by Compete Themes.