Press "Enter" to skip to content

James Talakua : Reshuffle Jadi Solusi Percepat Pelaksanaan Tol Laut

Media Social Share

MELAMBATNYA program Tol Laut, membuat geram Ketua Forum Komunikasi Maritim (FORKAMI) James Talakua, yang sejak 2014 LSM tersebut berjuang dan merapatkan barisan sebagai relawan pendukung Joko Widodo untuk menjadi Presiden. Terlebih dengan adanya pencanangan Indonesia sebagai poros maritim dunia yang salah satu programnya adalah Tol Laut.

Menurut James, dalam situasi akibat pandemi corona seperti ini, banyak celah yang bisa dimanfaatkan dari program Tol Laut secara maksimal untuk devisa. James melihat adanya peluang ekonomi dengan memanfaatkan secara maksimal Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) I, II dan III”.

Sebagaimana diketahui ALKI merupakan Alur laut yang ditetapkan sebagai alur untuk pelaksanaan Hak Lintas Alur Laut Kepulauan berdasarkan konvensi hukum laut internasional.

Alur ini merupakan alur untuk pelayaran dan penerbangan yang dapat dimanfaatkan oleh kapal atau pesawat udara asing diatas laut tersebut untuk dilaksanakan pelayaran dan penerbangan damai dengan cara normal dan dapat terselenggara secara terus menerus, langsung dan secepat mungkin serta tidak terhalang oleh perairan dan ruang udara teritorial Indonesia.

ALKI ditetapkan untuk menghubungkan dua perairan bebas, yaitu Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Semua kapal dan pesawat udara asing yang mau melintas ke utara atau ke selatan harus melalui ALKI.

Adapun pembagian ALKI I, II dan III adalah sebagai berikut Pembagian ALKI I, II & III. ALKI I melintasi Laut Cina Selatan, Selat Karimata, Laut Jawa, Selat Sunda, Samudra Hindia, ALKI II melintasi Laut Sulawesi, Selat Makassar, Laut Flores, Selat Lombok, ALKI III Melintas Samudra Pasifik, Laut Maluku, Laut Seram, Laut Banda, SelatOmbai, Laut Sawu, Samudra Hindia.

Putra Ambon Manise ini berpendapat bahwa pada masa pandemi corona ini, memanfaatkan ALKI I dapat memulihkan ekonomi negara pada sektor perdagangan dan kegiatan ekonomi, selain dari sektor lainnya karena peran selat Malaka sangat penting bagi kawasan Asia maupun dunia Internasional.

Selat Malaka ini merupakan selat tersibuk kedua di dunia dengan arus lalu lintas kapal mencapai kurang lebih 200 kapal per – hari dengan berbagai ukuran, dan jenis kapal serta muatan yang beraneka ragam menjadikan selat ini sarat dengan isu keselamatan maritim, pertahanan, keamanan dan serta kesinambungan maritim untuk masa depan masyarakat Indonesia, regional dan dunia Internasional.

Selain itu, pemanfaatan Selat Sunda sebagai bagian ALKI I dan Selat Lombok pada ALKI II akan menjadikan pelabuhan Tanjung Priok sebagai pelabuhan hub internasional karena sebagai jalur alternatif pelayaran kapal barang dari Tanjung Priok ke Asia dan Eropa demikian pula sebaliknya dari Eropa ke Asia.

Sedangkan pada ALKI III yang di bagian selatan bercabang tiga menjadi ALKI III A (sekitar perairan Laut Sawu, Kupang), ALKI III B, ALKI III C (sebelah timur Timor Leste), dan ALKI III D (sekitar perairan Aru). “Intinya ALKI bisa dimanfaatkan pemerintah untuk menambah pendapat negara. Terlebih di masa pandemi ini, di saat ekspor melemah,” kata James.

Keberadaan tiga jalur ALKI tersebut selain merupakan jalur pelayaran internasional juga berfungsi sebagai “pintu gerbang memanjang” yang seolah membelah wilayah kelautan Indonesia.

Kegeraman Forkami sangat beralasan, karena Tol laut seharusnya bisa berlari kencang, terlebih program tol laut dalam mewujudkan Indonesia menjadi poros maritim dunia, juga merupakan keinginan Bung Karno Presiden pertama sekaligus tokoh utama pendiri bangsa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dalam gagasan Indonesia sebagai negara maritim yang digdaya untuk meneruskan kejayaan Sriwijaya dan Majapahit.

Untuk itu, agar Tol Laut memenuhi target, James harap orang-orang yang menangani Tol Laut, seperti Dirjen Perhubungan Laut hingga jajaran ke bawahnya, haruslah orang yang kompeten. Benar-benar menguasai bidangnya, carilah figur yang betul-betul memiliki latar belakang terkait.Termasuk untuk posisi menterinya.

James Talakua mengingatkan keinginan besar sang proklamator adalah sebuah cita-cita besar yang harus dituntaskan, terlebih Bung Karno pada tanggal 27 Februari 1957 meresmikan Akademi Ilmu Pelayaran (AIP) di Jl. Gunung Sahari, Mangga Dua, Ancol, Jakarta Utara, pada Rabu, 27 Februari 1957.

Pada peresmian AIP tersebut Bung Karno menyematkan motto berbahasa Sansekerta untuk akademi “Nauyanam Avasyabhavi Jivanam Anavasyabhavi “ yang artinya di darat kita berkarya di laut kita Berjaya. Moto pada sekolah akademi pelayaran pertama ini yang juga tempat ketua umum Forkami ini dilahirkan sebagai pelaut dengan jurusan Tehnika pelayaran, menurut James dapat dimaknai bahwa dengan didirikannya pendidikan pelayaran pertama ini maka akan melahirkan insan kemaritiman yang mampu berkarya dalam menjayakan NKRI melalui maritimnya. “Diperlukan kolaborasi,koordinasi, dan kerjasama yang erat antar semua pemangku kepentingan agar Tol Laut segera terwujud,” harapnya lagi.

Lebih jauh James Talakua menjelaskan bahwa keseriusan Forkami dalam mendukung Presiden Jokowi selama ini terus menerus dilakukan. Pada awal pemerintahan Presiden tahun 2017 Forkami pernah menyerahkan surat bernomor : FK 001/KETUM/I/2017 tertanggal 16 Januari 2017 kepada Presiden dan juga kepada lembaga kepala staf kepresidenan yang berisikan rekomendasi penting yang merupakan hasil dari pemikiran para insan maritim yang pada saat itu menyambut gembira program Tol laut sehingga mendukung sepenuhnya program tersebut, dimana salah satu rekomendasi tersebut meminta ketegasan dari presiden terkait penempatan pemangku jabatan dilingkungan pemerintah khususnya pada lingkungan perhubungan laut yang memiliki kompetensi dan berdasarkan Undang-undang dan peraturan yang berlaku.

Menurut James, Presiden Jokowi harus tegas dengan cara segera me-resufle para pembantunya khususnya pada Kemenhub agar sesuai “The Right Man On The Right Place”.

Dalam penempatan pejabatnya nanti harus betul-betul diisi oleh orang-orang yang bukan hanya memiliki kompetensi profesionalisme dibidang kemaritiman tetapi juga setia mendukung Jokowi serta berjiwa patriotisme dan berkeinginan besar membantu presiden untuk mewujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim dunia sebagaimana cita-cita besar Bung Karno Sang Proklamator.

James menambahkan bahwa   urgensi resalufle yang sesuai dengan konsep The right man on the right place Kementerian Perhubungan sangat penting dan tidak bisa ditunda lagi guna mengembalikan program TOL

LAUT sesuai dengan jalurnya secara cepat (fast running on the track) terlebih untuk proses penguatan ekonomi Negara akibat badai covid-19 dalam rangka mencapai tujuan dari program yang ditetapkan. (son)

Mission News Theme by Compete Themes.