Press "Enter" to skip to content

Lider Waterfall, Destinasi ‘Tertinggal’ di Kabupaten Banyuwangi

Media Social Share

TIDAK seperti destinasi lain di Kabupaten Banyuwangi, yang gegap gempita menyambut wisatawan – destinasi Air Terjun Lider belum tersentuh bahkan terkesan dianak-tirikan oleh Pemkab Banyuwangi, padahal keunikan waterfall di kaki Gunung Raung ini luar biasa menakjubkan.

Udara sejuk, pemandangan air terjun yang ketinggiannya lebih dari 50 meter serta volume atau debitnya air yang tak pernah berkurang meski musim kemarau sekalipun, menjadikan destinasi ini eksotik dan langka.

Kesan destinasi tertinggal terekam dari belum tersentuhnya pengelolaan kawasan air terjun ini dalam menyambut wisatawan. Jangankan penataan kawasan, jaringan transportasi menuju lokasi pun sangat memprihatinkan.

Konon, untuk menuju lokasi air terjun Lider, sebenarnya banyak jalur, namun semua jalur nyaris tak tersentuh kata pembangunan. Jalur terdekat mungkin melewati Desa Parastembok – Kecamatan Sempuh.

Namun, sebagai destinasi tetinggal, maka untuk menuju lokasi air terjun sangat berat. Jaringan transportasi atau infrastruktur jalan nyaris tak tersentuh aspal. Jangankan menggunakan mobil, kendaraan roda dua saja sangat berbahaya dan tak nyaman melintasi jalan sepanjang 15 kilometer itu.

Jalan berbatu sangat berbahaya bagi kendaraan roda dua, karena jika ban kempes di jalan – derita panjang akan menyergap, karena jalur menuju lokasi sepi dan belum berpenghuni. Hanya ada dua perkampungan yang jaraknya berjauhan di sepanjng rute perjalanan.

Sepanjang kiri kanan jalan hanya ditumbuhi pohon pinus, dan pada musim tertentu di sebagian lahan ditanami pohon tebu. Tampak bukit menyerupai dataran tinggi memanjang sepanjang jalur menuju lokasi Lider Waterfall. Sunset tampak diantara pepohonan, jika melintas pada sore hari.

Sebelum menuju lokasi air terjun, wisatawan mengakhiri perjalanan menggunakan kendaraan bermotor di sebuah lahan dengan beberapa pondokan terbuat dari batang kayu lapuk, dan sebuah bangunan toilet yang tak terurus dengan menebar aroma yang tak sedap.

Perjuangan berikutnya dimulai saat wisatawan menuruni lembah. Dibantu beberapa utas tali saat menuruni lembah, medan yang dilalui sangat berat, karena harus menuruni tebing curam yang sangat berbahaya jika hujan turun, jalan licin.

Dari tebing curam itu, wisatawan tidak langsung menemukan lokasi air terjun, tetapi harus melintasi sungai dan naik turun tebing yang minim rambu-rambu, sehingga wisatawan atau masyarakat yang belum pernah mendatangi lokasi akan dibuat frustasi, karena jejak atau rute yang terputus. Beruntung, saat kembali ke titik awal tak tersesat.

Ancaman lainnya, rute yang dilalui adalah bebatuan besar yang jika tidak hati-hati bisa tergelincir, dan pada lokasi tertentu bisa saja wisatawan hanyut terbawa arus deras limpahan air terjun.

Penat dan lelah setelah menuruni lembah dan melintasi medan yang berbahaya segera terobati setelah menemukan air terjun yang eksotis. Jejak pengunjung dan sampah berserakan di bibir kolam, menandai bahwa destinasi ini belum tersentuh kata Sapta Pesona.

Elmanda Krisnajaya yang memandu kami tak terlalu antusias menawarkan Lider Waterfall kepada masyarakat yang mengunjungi desanya, Parastembok. “Potensi ada, tapi tak didukung infrastruktur yang memadai, sehingga Lider Waterfall tenggelam diantara destinasi lain di Kabupaten Banyuwangi,” kata Alumnus Universitas Brawijaya – Malang ini.

Pemuda yang meraih juara kedua lomba foto Drone Internasional 2020 itu berharap, Lider Waterfall masuk dalam agenda Pemkab Banyuwangi pasca Pandemi Covid-19 untuk “diurusi” agar memberikan dampak ekonomi kepada masyatakat.

Ia menilai, untuk mengembangkan destinasi Lider Waterfall berbasis komunitas mustahil dilaksanakan, karena lokasinya yang saat ini sangat sulit dijangkau dan jauh dari perkampungan. Manda, begitu milenial ini dipanggil keluarganya optimis, jika infrastruktur jalannya bagus, Lider Waterfall menjanjikan segalanya, dan secara ekonomi masyarakat akan terbantu. Semoga. (son)

Mission News Theme by Compete Themes.