Press "Enter" to skip to content

Pandemi Covid-19, Realitas Yang Terbatas

Media Social Share

MEMBACA judul tulisan ini sepertinya jauh panggang dari api. Bagaimana tidak, berniat membahas soal pandemi, kok judulnya Masih Ada Kereta Yang Lewat – mengingatkan pada sebuah judul film nasional yang cukup populer buah karya sutradara legendaris Teguh Karya berjudul -Arini : Masih adakah kereta yang lewat dengan pemeran utama aktor kondang Alex Komang.

Ya, secara bersamaan, Yudhi Hertanto, kandidat doktor komunikasi Universitas Sahid yang kerap menulis artikel di berbagai media terutama Kumparan dan Kompasiana, dua media nasional yang cukup diperhitungkan menerbitkan 5 buku sekaligus yang sebagian besar merupakan kumpulan tulisan baik yang sudah terbit maupun curahan hati dan opininya.

Dari lima buku yang diterbitkan sekaligus tersebut, empat buku berceloteh soal pandemi dan satu buku menyoroti refleksi media massa dalam kajian ekonomi politik dan kebijakan publik serta filsafat.

Masing-masing buku itu diberi judul Pandemi : Wabah, Krisis dan Dunia Terbatas, Dalam Dekap Pandemi Dunia Yang Menanti, Pandemi Hal Tersisa Setelahnya dan Normalisasi Baru dan Ancaman Pandemi. Serta terakhir adalah Refleksi : Media Masa Kita : Kajian Ekonomi Politik & Kebijakan Publik serta Filsafat. Buku terakhir ini relevan dan erat kaitannya dengan sang penulis yang kandidat doktor komunikasi.

Keempat buku termasuk buku kelima yang membahas refleksi media masaa,-semuanya- disajikan dengan gaya bahasa yang renyah, ringan, dan mudah dicerna. Singkat kata, apa yang disampaikan cukup mudah dipahami dan dimengerti.

Mayoritas isi buku membahas semua hal teraktual dan terkini terkait pandemi seperti  Jaga Kesehatan (3 M), Protokol Covid, Kepanikan, New Normal, lock down, Resesi Ekonomi, PSBB, Rapid Test, Test Swab, Bakti Sosial, Sense Crisis, Utak Atik Gaya Komunikasi Pemerintah, Kegagapan pemerintah dalam menangani pandemi, Media Sosial hingga bayang-bayang kepunahan mall-mall, pasar-pasar tradisional serta  suratkabar 

Singkat kata, keempat buku itu, kecuali yag refleksi media, merupakan curahan hati dan mayoritas – opini sang penulis yang merefleksikan realitas di masa pandemi ini.

Tentu saja agar lebih fokus, setiap bahasan dilengkapi data seperti sejarah dan statistik. Ambil contoh ketika bercerita tentang sejarah pandemi, penulis melengkapinya dengan sejarah pandemi dunia.

Intinya penulis ingin menggambarkan realitas pandemi dengan segala pernak perniknya dalam bahasa dan pengungkapan yang sederhana. Tak lupa, tanpa bermaksud sok tahu dan mendikte, penulis pun menyertakan serangkaian usulan atau gambaran bagaimana solusi yang harus dilakukan semua pihak, usulan-usulan yang muncul soal penanganan pandemi termasuk tetek bengeknya, serta gambaran dan ilustrasi penanganan dan respon terhadap segala hal terkait pandemi baik yang terjadi di dalam negeri maupun luar negeri.

Sekali lagi, sang penulis hanya bermaksud menularkan opininya, sehingga benar atau salah, ada manfaatnya. Jadi tidak seperti ketinggalan kereta. Tentu, penulis tidak bermaksud atau berharap seperti  Slavoj Žižek seorang filsuf terkemuka Eropa kontemporer yang  April  lalu meluncurkan buku tipis yang berjudul “Pandemic! Covid-19 Shakes the World” yang merupakan  buku refleksi filosofis pertama terkait pandemik Corona.

Seperti biasanya filsuf yang “unik” ini memberi pandangan yang mengejutkan bagaimana ia menafsirkan pandemic Covid-19 ini secara filosofis. Dalam cover bukunya ini menarik, ia menaruh kata “pandemic” menyatu dengan kata “panic”.

Secara singkat, buku Žižek ini memberi kita wawasan terhadap apa yang sedang berubah dalam dunia global ini. Tentu penulis buku ini,- Yudhi Hertanto- belum berpikir sejauh itu, “Cuma  asal jangan ketinggalan kereta,’ selorohnya.

Kata penulis, Sungguh, lelucon bijak yang banyak tafsir dan makna. Yang pasti semoga pandemi segera berlalu. (son)

Mission News Theme by Compete Themes.