Press "Enter" to skip to content

Menantikan Kebangkitan Industri Penerbangan Indonesia

Media Social Share

SEBAGIAN besar aktivitas penerbangan dihentikan sejak pandemi Covid-19 melanda dunia sejak  2020. Dilansir dari Mastercard.com. Hal ini menyebabkan industri penerbangan mengalami kerugian secara global hingga 350 milliar dollar AS.

Kendati demikian, industri penerbangan mempunyai harapan untuk bangkit pada 2022 -2023berkat penerbangan domestik. Berdasarkan survei yang dilakukan Mastercard Economic Institute di 32 negara pada Mei 2021, pemulihan perjalanan dapat dilihat dari lonjakan pemesanan penerbangan domestik di beberapa negara.

Negara yang mengalami lonjakan di antaranya adalah Amerika Serikat (87,1 persen), Brazil (39,8 persen), dan Australia (78,3 persen). 

Pemulihan Penerbangan di Tanah Air.

Di Indonesia, Indonesia National Air Carriers Association (INACA)  sudah melakukan kajian pemulihan industri penerbangan melalui kegiatan forum group discussion (FGD) yang dilakukan beberapa kali di tahun 2021.

Hasil kajian INACA White Paper menyatakan, industri penerbangan diprediksi akan mulai membaik pada  tahun 2022 untuk penerbangan domestik.

Sementara itu, penerbangan internasional diprediksi baru akan mulai pulih pada akhir tahun 2023.

Diberitakan sejumlah media, Ketua Umum Indonesia National Air Carriers Association (INACA) Denon Prawiraatmadja mengatakan,kajian ini dapat memberikan informasi yang dibutuhkan untuk mendorong pemulihan industri.

INACA juga berharap kajian ini dapat membantu para pengambil keputusan, pemerintah dan maskapai penerbangan, dalam menyusun berbagai strategi dan intervensi untuk memulihkan sektor penerbangan selama dan pascapandemi Covid-19.

Perkembangan Penerbangan Internasional

Mastercard.com juga menyatakan bahwa penerbangan internasional untuk perjalanan keperluan hiburan (leisure) menunjukkan tanda-tanda pemulihan.

Sepanjang tahun 2022, , jumlah penerbangan internasional keperluan hiburan (leisure) global meningkat hampir dua kali lipat dibanding  sepanjang  2021

Upaya kebangkitan industri penerbangan Indonesia kian diperkuat oleh “terbangnya ” lagi salah satu masakapai I penerbangan baru tapi lama, Pelita Air Service (PAS), terutama pada saat kedatangan dua pesawat Airbus A320 di Bandara Soekarno-Hatta pada Senin, 11 April 2022 lalu.

Dalam siaran pers-nya saat itu, maskapai Pelita Air yang merupakan anak perusahaan dari BUMN Pertamina ini memastikan telah siap mengembangkan bisnis dan memperluas layanannya ke segmen penerbangan komersial berjadwal (regular flight).

Hingga  tahun 2021, jumlah maskapai berjadwal nasional tercatat 13 maskapai. Namun apabila dilihat dari data ,  nampaknya  hanya terdapat tiga group maskapai yang mempunyai pangsa pasar lebih dari 5 persen.

Hadirnya lagi Pelita Air Service diharapkan kian mewujudkan bangkitnya lagi industri penerbangan nasional.

Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo menjelaskan PAS diarahkan untuk melayani penumpang di segmen medium dengan Garuda Indonesia (GIAA) tetap di segmen premium. Sementara anak usaha Garuda Indonesia, Citilink diarahkan menjadi maskapai bertarif hemat (low cost carrier/LCC) dengan harga yang sedikit berada di atas Lion Air.

PT Pelita Air Service (PT PAS) secara otonom adalah anak perusahaan dari PT Pertamina (Persero). Perseroan penerbangan ini didirikan dengan akta notaris Tan Thong Kie No. 21 tanggal 24 Januari 1970 dan kemudian disahkan dengan keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia No. Y.A.5/444/20 tanggal 19 Desember 1974.

Kapten Repon yang pada 1962 mengurusi armada pertama Aero Commander pun menjadi manajer operasi Pelita. Mimbar Kekaryaan ABRI nomor 184 April 1986 (1986:23) menyebut ketika baru mulai dengan nama Pelita Air Service armada hanya sebuah pesawat baling-baling.

Seiring majunya industri minyak Pertamina armada bertambah. Tak hanya 73 pesawat, termasuk di dalamnya lebih dari 50 helikopter yang di antaranya tipe puma, Volvo dan Sikorsky.

Helikopter lebih bisa menjangkau proyek tambang yang tidak terpencil dan tidak punya landasan udara lebar untuk pesawat konvensional. Di antara para penerbang helikopter, di antaranya terdapat mantan pilot helikopter TNI yang sudah pensiun dari kedinasan. Indonesia di masa-masa itu kekurangan pilot. Di tahun 1973, Pelita mempekerjakan pilot asing.

Era 1970-an Pelita punya 60 pilot asing dan 73 pilot Indonesia. Di tahun 1980-an pilot asing tersisa 23 orang saja. Tak semua armada yang ada di tangan mereka dikelola sendiri, di antaranya ada yang dipindah ke lembaga lain.

Pelita yang beroperasi jauh dari kota besar, membangun diri sebagai maskapai yang punya kemampuan merawat pesawatnya sendiri hingga di daerah terpencil sekalipun. Terkait kemajuan Pelita dan dunia penerbangan Indonesia, pada tanggal 24 November 1987, sebuah perusahaan lain berdiri.yakni PT Indopelita Aircraft Services (IAS). 

Perusahaan itu lahir dari divisi perawatan Pelita. Perusahaan itu bergerak di bidang jasa pemeliharaan komponen berputar, seperti turbin, kompresor dan pompa, serta layanan umum dan mekanik lapangan. Hingga hari ini setelah lebih dari lima dekade, Pelita Air Service masih ada, meski tidak sebagai maskapai besar yang menguasai banyak rute penerbangan.

Lalu, bila menengok ke belakang, saat ini makin  banyak kemajuan dalam bidang teknolog teknologi penerbangan di tanah air.

Karena bukan hanya menjadi konsumen, Indonesia juga telah mampu membuat atau memproduksi pesawat terbang. Inilah yang menjadi kebangkitan industri penerbangan di Indonesia sehingga dapat bersaing dengan negara maju.

Bukan hanya mampu memproduksi pesawat terbang. Indonesia juga memiliki perusahaan perawatan dan maskapai (Airline). Membuat industri penerbangan di Indonesia semakin berkembang dan maju. Membangun sebuah industri penerbangan bukanlah sesuatu hal yang mudah. Karena perlu teknologi yang canggih dan sumber daya manusia (SDM) yang berkompeten.

Untuk itu pentingnya generasi muda Indonesia dapat serius dalam menjalani pendidikan. Agar industri penerbangan di Indonesia dapat terus berkembang ke arah yang jauh lebih baik.

Industri penerbangan atau pesawat terbang adalah industri penunjang penerbangan dengan membangun pesawat dan manufaktur suku cadang untuk pemeliharaan. Pesawat yang dibangun atau diproduksi umumnya digunakan untuk menunjang dalam pernerbangan sipil dan militer. Dalam proses produksi dan pemeliharaan pesawat terbang dilakukan sesuai dengan jenis sertifikat dan standar pertahanan yang diterbitkan oleh lembaga pemerintah yang berwenang.

Dengan adanya industri penerbangan kemajuan teknologi yang sangat pesat perkembangannya dapat dimanfaatkan dengan baik. Karena teknologi yang digunakan dalam dunia penerbangan sangatlah canggih. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya jenis pesawat terbang yang bermunculan baik sipil dan militer. Ditambah dengan pertumbuhan bisnisnya yang cukup pesat

Semua aspek yang dilakukan oleh industri penerbangan sangatlah memperhatikan dari segi keamanan dan keselamatan. Jadi, berdirinya sebuah industri penerbangan pada sebuah negara haruslah sesuai dengan ketentuan dan regulasi yang sudah ditetapkan oleh pihak terkait yang berwenang dalam mengeluarkan izin.

Dengan terus mengalami perkembangan baik dari segi teknologi dan inovasi membuat industri penerbangan juga memerlukan sumber daya manusia (SDM). Perlu untuk sobat dirgantara tahu! bahwa tidak sembarang orang yang dapat bekerja di industri penerbangan. Karena ada persyaratan yang harus dipenuhi yaitu, pendidikan yang sesuai dengan jurusan penerbangan dan memiliki sertifikasi.

Salah satu faktor  lain yang mendorong kemajuan industri penerbangan di Indonesia adalah banyaknya daerah kepulauan. Tercatat kurang lebih ada 17.000 pulau sehingga, Indonesia terkenal dengan sebutan negara kepulauan. Dengan kondisi geografis negara Indonesia yang terdiri dari pulau-pulau menjadikan pesawat terbang menjadi transportasi penghubung antar daerah yang sangat efisien.

Kemajuan industri penerbangan di Indonesia tidak lepas dari sosok visioner yaitu, presiden ke-3 Bacharuddin Jusuf Habibie. Banyak sumbangsih yang diberikan terhadap negeri ini, khususnya di bidang pengembangan teknologi. Sehingga membuat Indonesia dapat dengan mudah bersaing dengan negara-negara maju yang juga mempunyai industri penerbangan.

Sejarah mencatat pesawat yang diproduksi oleh Indonesia dimulai dari berdirinya perusahaan Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) pada tanggal 26 April 1976. Menjadi direktur utama IPTN Habibie sukses meluncurkan uji coba terbang pesawat N250 Gatot Kaca. Sekaligus menjadi  pesawat kebanggaan Indonesia karena diproduksi dan dibuat oleh anak negeri.

Selain industri manufaktur, kemajuan industri penerbangan di Indonesia juga didukung oleh hadirnya perusahaan maskapai. Memiliki fokus dalam menyediakan transportasi udara untuk memudahkan mobilitas antar pulau di Indonesia dan negara lain. Maskapai yang menjadi wajah Indonesia sekaligus ikon adalah Garuda Indonesia pastinya sobat dirgantara sudah mengetahuinya.

Ditambah dengan sumber daya manusia yang ada di Indonesia yang semakin berkompeten di bidangnya. Terutama pada bidang dirgantara membuat industri penerbangan di Indonesia semakin mengalami kemajuan. Hal dapat terlihat dengan mulai aktifnya produksi pesawat, terdapat perusahaan maintenance pesawat, dan perusahaan maskapai. 

Bukan hanya memikirkan dari segi bisnis semata tetapi, industri penerbangan yang ada di Indonesia saling bersinergi satu sama lain. Tujuannya satu yaitu, untuk memajukan kualitas penerbangan di Indonesia yang bisa jauh lebih baik lagi kedepannya. ***

*Dr. Ira Purwitasari, Dosen Komunikasi, Anggota KFAI, Peminat dan Pemerhati Dunia Penerbangan

Mission News Theme by Compete Themes.