“Tugas pemimpin adalah membantu masyarakat dari tempat mereka berada menuju tempat yang terkadang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya” Henry Kissinger (Leadership, Penguin Press 2022).
Salah satu tantangan terberat pemimpin saat ini, kata Kissinger mengutip pandangan Max Weber mengenai kepemimpinan, adalah hilangnya “Sense of Proportion”. Dalam konteks hari ini, informasi yang berlimpah membuat pemimpin berpotensi kehilangan proporsionalitas dalam menganalisis, merumuskan strategi untuk memecahkan masalah dan mengambil keputusan. Dan sebaliknya, informasi negatif bahkan hoax akan membuat publik cenderung pesimistis dan tidak puas terhadap para pemimpin politik.
Ini adalah era yang tidak mudah untuk memimpin. Menginspirasi dan mendorong masyarakat untuk bergerak menuju visi yang diinginkan seorang pemimpin di era media sosial seperti sekarang adalah sebuah tantangan besar. Tulisan ini mencoba menilai dan memahami karakteristik kepemimpinan ala Jokowi di era yang disebut orang sebagai abad yang berlari.
Jokowi dalam Perspektif Kissinger
Dalam Leadership, Kissinger menyebut bahwa salah satu kualitas terpenting dalam kepemimpinan adalah keberanian dan karakter. Keberanian untuk memilih arah diantara pilihan-pilihan yang rumit dan kompleks, yang memerlukan tekad untukmelampaui yang rutin, dan kekuatan karakter untuk mempertahankan suatu tindakan yang dianggap perlu diambil.
Awalnya tidak ada orang yang percaya bahwa kita bisa membangun sistem kereta bawah tanah karena ibukota rentanbanjir, Jokowi yang kala itu menjabat Gubernur DKI memperlihatkan karakter dan keberanian dengan merealisasikan pembangunan Mass Rapid Transportation yang kini menjadi kebanggaan ibukota.
Pesimisme juga muncul ketika Jokowi memulai proses pembangunan infrastruktur. Banyak kalangan mempertanyakan, baik manfaat maupun kesiapan kita membangun infrastrukturdalam skala besar-besaran. Tapi Jokowi tetap berkeras.
Kini, lebih dari duaribu seratus kilometer jalan tol yang dibangun Jokowi telah menghubungkan kota-kota, menggerakkan ekonomi, mempermudah pertukaran barang dan jasa. Pembangunan jalan tol di era kepemimpinan Jokowi lebihdari dua kali lipat dibanding pembangunan jalan tol sejak 1978.
Lebih dari duaratus ribu kilometer Jalan Desa yang dibangun telah menghubungkan satu desa dengan desa lain, membukaisolasi. Delapanbelas Pelabuhan yang dibangun menjadi titikhubung antara 17,000 pulau dari Sabang sampai Merauke. Duapuluh satu bandar udara baru, telah memperlancar lalu lintasbisnis dan perdagangan antar daerah. Sementara tigapuluhbendungan dan waduk yang dibangun mengaliri sawah-sawah. Memperkuat ketahanan pangan kita menghadapi perubahan iklim.
Inilah kebijakan yang lahir dari kepemimpinan yang memahami persoalan rakyat, kepemimpinan yang mampu menganalisis dan merumuskan strategi yang tepat untuk membangun fondasi yang kokoh untuk mensejahterakan rakyat.
Sebuah kebijakan yang didasarkan atas visi yang jelas bahwa Infrastruktur, pada akhirnya tidak hanya akan menggerakkan ekonomi. Karena kelak, jalan-jalan, pelabuhan, dan bandar udara, adalah titik-titik yang akan memudahkan rakyat Indonesia bertemu dan bekerjasama satu sama lain. Menggerakkanekonomi dan memperkuat persatuan.
Kualitas yang sama kembali diperlihatkan ketika Jokowi berkeras menjalankan kebijakan Hilirisasi Nikel, melawan Uni Eropa yang menggugat kebijakan itu di World Trade Organisation (WTO). Sebuah langkah berani dalam membelakepentingan nasional. Dulu tahun 2013-2014 ketika Indonesiahanya mengekspor biji mentah – nilai ekspor nikel hanya Rp 20 triliun. Setelah Hilirisasi berjalan dan biji nikel diolah industri dalam negeri, pendapatan negara naik hampir tujuhbelas kali lipat menjadi Rp 325 triliun.
Hilirisasi membuka peluang bagi kita untuk kembali membangun basis industri nasional memanfaatkan kekayaan sumber daya alam yang membuat dunia menjuluki Indonesia sebagai “The Next Green Superpower” mengingat kita memiliki seperempat cadangan nikel dunia yang merupakan elemen terpenting dalam pembuatan baterai kendaraan listrik.
Sebuah kebijakan yang berhasil menggerakkan ekonomi, membuka lapangan kerja bagi anak muda, memberi nilai tambah ekonomi bagi negara, dan menempatkan Indonesia sebagai pemain penting di dunia dalam proses transisi menuju kendaaanberbasis listrik.
Keberpihakan
Pada 2014, di India muncul perdebatan klasik antara duaekonom raksasa Amartya Sen peraih Nobel Ekonomi denganProfesor Jagdish Bhagvati dari Colombia University mengenaicara-cara untuk mencapai kemajuan.
Amartya Sen mewakili mazhab yang berpandangan bahwanegara harus berinvestasi lebih dalam bidang infrastruktur sosialuntuk meningkatkan produktivitas rakyat dan dengan demikianmenciptakan pertumbuhan. Sen percaya kemampuan manusiaakan berkembang maksimal jika negara turun tangan membantumereka melalui Program Sosial, Pendidikan, dan Kesehatanyang pada akhirnya akan menjadi sumber pertumbuhan berkesinambungan.
Pada kutub lainnya Jagdish Bhagvati menyarankan agar India lebih fokus kepada pertumbuhan. Bhagwati berpendapat bahwaKesejahteraan Sosial, Kesehatan, dan Pendidikan yang berkualitas hanya akan dapat dihasilkan melalui pertumbuhanyang cepat.
Dalam konteks Indonesia, Presiden Jokowi mengambil jalanAmartya Sen. Jokowi memperluas program Subsidi Sosial, Pendidikan dan Kesehatan. Dan itu menjadi modal pentingdalam menjawab isu keadilan dan ketimpangan sosial. Kebijakan yang lahir dari intuisi Jokowi yang peka dalammemahami kesulitan rakyat kecil. Intuisi untuk selalu berdirimembela kepentingan orang banyak.
Kepekaan dan pembelaan Jokowi terhadap yang lemah juga terlihat dalam visinya untuk mengatasi kesenjangan antaraIndonesia Bagian Barat dengan Indonesia Bagian Timur. Pembangunan infrastruktur secara massif di Indonesia bagianTimur adalah cara untuk mengatasi kesenjangan. Ditopang oleh kebijakan Hilirisasi, Indonesia Bagian Timur yang kaya mineral, akan tumbuh menjadi pusat pertumbuhan baru Indonesia yang pada gilirannya akan mengurangi kesenjangan dengan wilayah Indonesia Bagian Barat. Lewat dua kebijakan tersebut, Jokowi memperlihatkan visinya yang kuat tentang cara-cara mengatasikesenjangan dan menjawab masalah Keadilan Sosial.
Lulus Ujian
Jajak pendapat Lembaga Survei Indonesia pada April lalu memperlihatkan bahwa dukungan publik terhadap PresidenJokowi mencapai 82 persen. Angka kepuasan tertinggisepanjang sejarah. Salah satu sumber kepuasan publik adalahkinerja ekonomi. Pada saat perekonomian dunia memasukiresesi, Indonesia justru tumbuh 5,03 persen, melampauiperkiraan banyak kalangan.
Angka-angka kemajuan ekonomi tak berhenti menjadi sekadarstatistik belaka, angka-angka itu termanifes dalam bentukkepuasan dan dukungan publik terhadap kepemimpinan Jokowi.Fenomena langka mengingat dalam politik dikenal istilah“kutukan periode kedua”, dimana pemimpin politik di periodeakhir masa jabatannya cenderung semakin tidak populer.
Majalah The Economist dalam liputan khusus mengenaiIndonesia (Asia’s Overlooked Giant, edisi 14/11/22) mengutiplelucon yang menggambarkan bahwa sebelum era Jokowi, Indonesia was the planet’s biggest invisible object. Sebuahnegara besar namun tidak pernah dianggap penting di matadunia.
Dibawah kepemimpinan Jokowi, Indonesia tumbuh cepatmenjadi negara yang semakin diperhitungkan. Jokowi membawarakyat Indonesia mencapai tempat yang tidak pernah terbayangakan dicapai sebelumnya.
Jokowisme
Perjalanan kepemimpinan Jokowi adalah cerita tentangpemimpin yang tumbuh bersama kekuasaan. Pada masa awalterpilih di 2014, orang banyak meragukan kapasitasnya sebagaipemimpin. Tapi Jokowi berhasil mengecewakan para pesimis. Jokowi kini tidak lagi sekadar presiden – tapi menjelma menjadisebuah Gagasan, Ide Besar tentang Indonesia yang hebat, Indonesia yang maju, tanah air yang membanggakan.
Sebagai presiden ia berhasil menciptakan benchmark atau mistarukur baru kepemimpinan dalam wujud Jokowisme. Sebuah cirikepemimpinan yang dekat dengan rakyat, membela kepentinganrakyat lewat etos kerja keras dalam melayani rakyat. Jokowismeadalah metafora dari pemimpin yang bekerja keras memajukanrakyat. Kepemimpinan berani dan berkarakter yang membuatIndonesia menjadi tanah air yang membanggakan, negara yang semakin dianggap penting di mata dunia.
Pada tanggal 14 Februari 2024 nanti, Jokowisme akan menjaditolok ukur bagi rakyat dalam memilih calon pemimpinberikutnya. Standar baru telah terbentuk, dan rakyat menanti-nanti siapa kandidat yang paling Jokowisme. *
*Andy Budiman, Wakil Ketua Umum DPP PSI










