BANDUNG, BISNISJAKARTA.ID – Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk memulai menggunakan energi baru terbarukan, mengingat potensi sumber daya yang cukup melimpah. “EBT, Energi Kebaikan Bangsa. Bersih, karena tidak menimbulkan kerusakan lingkungan. Berkelanjutan, karena dapat terus diolah dan dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia. Energi Kerakyatan, karena terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat,” papar Ridwan Kamil saat berbicara pada Forum Group Discussion – Media Gathering SKK Migas & KKKS di Bandung, Senin (3/10).
Mengutip data Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), Emil mengatakan, total potensi energi terbarukan Indonesia mencapai 417,8 giga watt (GW) dan potensi terbesar berasal dari surya atau matahari sebesar 207,8 GW.
Potensi energi terbarukan lainnya berasal dari arus laut atau samudera (17,9 GW), panas bumi (23,9 GW), bioenergi (32,6 GW), bayu (60,6 GW), dan hidro (75 GW). Namun, realisasi bauran EBT baru mencapai 13,55 persen per April 2021.
Emil mengatakan, untuk beralih menggunakan 100 persen energi terbarukan tahun 2050, tidak ada bauran energi yang sama. Ia mencontohkan Sudan yang sudah sangat bergantung pada panel surya, Swiss bergantung pada pembangkit liatrik tenaga air. Amerika Serikat bergantung pada tenaga angin, sedangkan Indoneaia cenderung beragam.

Ridwan Kamil memastikan, potensi Indonesia menjadi salah satu eksportir energi baru terbarukan terbesar dunia pada 2050 mendatang. Bahkan sebuah studi yang dilakukan Stanford University, California, Amerika Serikat terkait energi terbarukan menjelaskan potensi dimaksud. “Stanford University membuat studi di mana negara yang neraca energi terbarukannya sempurna. Ternyata Indonesia,” kata Kang Emil.
Studi tersebut, kata Kang Emil, merujuk pada potensi kekayaan alam yang dimiliki Indonesia. Kekayaan alam nasional bahkan disebut dapat mendukung penuh untuk menjadikan Indonesia sebagai pemasok energi terbarukan. “Tuhan memberikan takdir dari matahari, air, gas, panas bumi dan lain-lain. Itu bisa menghasilkan 400 ribu mega watt kalau ditransformasikan jadi energi,” katanya.
Kang Emil memandang, bahwa momentum Presidensi G20 dapat menjadi ajang bagi Indonesia untuk merumuskan kebijakan ekonomi hijau. Namun, menurutnya, hal tersebut harus diiringi dengan kebijakan konkret. “Pertanyannya, political will-nya mau apa engga? Dalam UU energi terbarukan kita hanya menargetkan 30% di tahun sekian. Jadi bukan tidak ada resourcesnya, tapi kemauannya,” tegasnya. (son)










