SUBANG, BISNIAJAKARTA.ID – Di tengah hiruk-pikuk aktivitas di Gedong Sinder, Kasomalang, Subang, sekelompok pemuda tampak serius memegang kamera ponsel mereka. Mereka bukan sekadar mengambil gambar; jari-jari mereka sibuk mengatur komposisi, cahaya, dan sudut pengambilan gambar. Bersama mereka, tim dosen dari lima universitas berbeda memperhatikan dengan saksama, sesekali memberikan arahan. “Ingat, kita menangkap momen, bukan cuma gambar,” terdengar suara seorang dosen.
Adegan ini adalah bagian dari Penguatan Branding Digital Komunitas Kreatif Gedong Sinder Melalui Pelatihan Pembuatan Konten Fotografi dan Desain Media Sosial yang diselenggarakan pada 17-18 April 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Kolaborasi VII yang melibatkan Universitas Nasional (Unas), Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI), Universitas Pelita Harapan (UPH), London School of Public Relations (LSPR), Universitas Dr. Soetomo (Unitomo), dan Universitas Trilogi. Pelatihan ini menjadi momentum penting dalam memperkuat sinergi antara dunia akademik dan masyarakat desa, khususnya dalam mendorong pengembangan potensi lokal berbasis pemberdayaan komunitas.
Komunitas kreatif Gedong Sinder dipilih sebagai lokasi pelaksanaan bukan tanpa alasan. “Kami melihat potensi luar biasa di sini. Mereka sudah memiliki konten yang bagus, tinggal diasah lagi agar bisa bersaing di ruang digital,” ujar Dr. Irfan Fauzi, salah satu koordinator kegiatan dari Universitas Nasional.
Di tengah kebisingan era digital saat ini, audiens tidak lagi sekadar mencari informasi, melainkan koneksi. Hal ini menjadi pokok bahasan utama dalam pelatihan. Dr. Diah Widyawati dari UBSI menekankan bahwa tantangan bagi para kreator konten saat ini adalah beralih dari sekadar merekam aktivitas menjadi penangkap “momen” yang mampu menetap di hati. “Melalui pendekatan visual yang intim dan narasi tulus sebagaimana dibuktikan oleh Gedong Sinder, konten lokal dapat meraih daya pikat viral dengan cara membangun rasa daripada sekadar memproduksi video,” papar Dr. Diah dengan penuh semangat. “Pada akhirnya, audiens mungkin melupakan apa yang mereka lihat, namun mereka tidak akan pernah lupa bagaimana perasaan mereka saat menikmatinya.”
Pernyataan ini sejalan dengan esensi pelatihan yang tidak hanya mengajarkan aspek teknis, tetapi juga filosofi di balik setiap konten yang dibuat. Para peserta diajak untuk memahami bahwa konten yang berkualitas bukanlah yang paling rumit atau paling mahal produksinya, melainkan yang mampu menyentuh emosi dan membangun koneksi dengan audiens.
Stephanie Bella Saputri, UPH, mengingatkan para content creator Gedong Sinder bahwa konten mereka sebenarnya sudah bagus. “Tinggal satu hal yang perlu diperhatikan: pastikan bahasa yang dipakai relate dengan audiens,” pesannya.
Dengan gaya yang energik, Stephanie menjelaskan empat elemen kunci konten yang efektif: “Konten kalian udah oke, tapi jangan lupa empat elemen kuncinya: hook buat bikin orang berhenti scroll, cerita yang bikin mereka betah nonton, hashtag yang tepat biar mudah ditemukan, dan mirroring content biar tetap relevan sama tren.”
Pemateri lain, Dr. Anita Rosana dari LSPR, menambahkan pentingnya konsistensi dalam pembuatan konten. “Konsistensi bukan berarti monoton. Tapi tentang bagaimana kita membangun identitas visual yang kuat sehingga audiens langsung mengenali karya kita meski hanya melihat sekilas,” jelasnya sambil menunjukkan beberapa contoh konten dengan identitas visual yang konsisten.
Sementara itu, Abdul Hakim Santoso dari Universitas Trilogi lebih fokus pada aspek teknis desain grafis. Ia mempraktikkan cara-cara sederhana namun efektif untuk meningkatkan kualitas visual konten menggunakan tools yang tersedia secara gratis. “Kalian tidak perlu software mahal untuk membuat konten yang menarik. Yang penting adalah pemahaman tentang prinsip desain dan cara mengaplikasikannya,” tuturnya.
Pelatihan ini dirancang secara interaktif dengan kombinasi antara presentasi, diskusi, dan praktik langsung. Para peserta dibagi menjadi beberapa kelompok kecil yang masing-masing mendapat bimbingan dari tim pemateri. Mereka diberi tugas untuk membuat konten secara langsung dengan menerapkan prinsip-prinsip yang telah dipelajari.
Dr. Nurul Suhesti dari Unitomo yang memimpin sesi praktikum menjelaskan bahwa pendekatan hands-on ini sengaja dipilih untuk memberikan pengalaman langsung kepada peserta. “Teori saja tidak cukup. Mereka perlu merasakan sendiri proses kreatifnya, mulai dari ide hingga eksekusi,” ujarnya.
Hasilnya cukup mengesankan. Dalam waktu singkat, para peserta mampu menghasilkan konten-konten yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki kedalaman naratif. Salah satu peserta, Zaenal (26), mengakui bahwa pelatihan ini membuka matanya tentang pentingnya pendekatan emosional dalam konten. “Dulu kita cuma fokus ke teknis aja, sekarang jadi paham bahwa konten itu harus punya jiwa,” katanya.
Kolaborasi lima universitas ini bukanlah hal yang biasa. Dr. Irfan Fauzi menjelaskan bahwa PKM Kolaborasi ini dirintis sebagai wujud komitmen bersama untuk memberikan kontribusi yang lebih signifikan kepada masyarakat. “Setiap universitas memiliki keunggulan masing-masing. Dengan berkolaborasi, kita bisa memberikan pendampingan yang lebih komprehensif,” jelasnya.
Kegiatan ini juga menjadi pembelajaran bagi para dosen yang terlibat. Dr. Diah Widyawati mengaku terkesan dengan semangat dan kreativitas para peserta. “Mereka mengajarkan kami tentang keotentikan dan kekuatan komunitas. Ini adalah hubungan timbal balik yang sangat berharga,” ucapnya.
Pelatihan tidak berhenti pada sesi dua hari saja. Tim pemateri berkomitmen untuk melakukan pendampingan jangka panjang kepada komunitas Gedong Sinder. Rencananya, akan ada sesi evaluasi berkala serta pelatihan lanjutan untuk mengembangkan kompetensi yang telah diperoleh. “Kami ingin memastikan bahwa dampak dari pelatihan ini benar-benar dirasakan oleh komunitas. Bukan hanya sekadar transfer pengetahuan, tetapi transformasi yang berkelanjutan,” tandas Dr. Anita Rosana.
Bagi Gedong Sinder, pelatihan ini menjadi batu loncatan untuk mengembangkan potensi yang selama ini terpendam. Komunitas yang semula hanya bergerak di tingkat lokal kini memiliki modal untuk menjangkau audiens yang lebih luas melalui konten-konten berkualitas. “Kami sekarang punya panduan yang jelas tentang bagaimana membuat konten yang tidak hanya dilihat, tetapi juga dirasakan,” kata Zaenal. Lebih lanjut, dia berencana untuk mengembangkan channel YouTube tentang kebudayaan lokal Subang.
Di penghujung pelatihan, para peserta tampak antusias menyusun rencana aksi ke depan. Beberapa di antaranya berencana untuk membuat konten kolaborasi lintas komunitas, sementara yang lain ingin fokus pada pengembangan personal branding. Apa pun pilihannya, satu hal yang pasti: mereka tidak lagi sekadar membuat konten, tetapi menangkap momen yang mampu menetap di hati audiens. (son)










