Press "Enter" to skip to content

Pancasalah, Ancaman Destruktif Suatu Bangsa

Media Social Share

PANCASALAH adalah lima kesalahan yang jika dibiarkan dan dikembangkan akan memiliki kekuatan sangat destruktif dan menghancurkan keberadaan suatu bangsa. Pancasalah itu adalah Salah Kaprah, Salah Lihat, Salah Asuh, Salah Tafsir, dan Salah Tata Kelola.

Pancasalah adalah judul buku karya Laksamana Sukardi yang memuat pemikiran dan keprihatinannya atas nasib bangsa Indonesia yang belum mampu beranjak menjadi negara berpenghasilan tinggi, padahal bangsa Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah.

Saat peluncuran dan bedah buku yang menghadirkan narasumber Dahlan Iskan, Eros Djarot, dan  Yudi Latif di Jakarta, Selasa (30/8), Laksamana Sukardi mengatakan, pembiaran terjadi Pancasalah pada negara berkembang akan membuat negara tersebut tidak mampu tinggal landas menjadi negara maju. Jika Indonesia membiarkan dan memelihara Pansalah, maka bangsa Indonesia akan menjadi bangsa terbelakang sepanjang masa bahkan dapat hancur menjadi sebuah negara yang namanya hanya akan ada dalam sejarah.

Menurut Laksamana, Bangsa Indonesia dapat belajar dari perjalanan sejarah kesejahteraan beberapa negara dengan mengamati perkembangan kesejahteraan yang menggunakan ukuran pendapatan perkapita.

Pada awal 1970-an, Indonesia berada pada satu satu kelas dengan Korsel dan Taiwan. Bahkan China masih berada di bawah Indonesia. Memasuki tahun 1980-an, Indonesia bersama Korsel, Taiwan dan Hongkong mendapat sebutan sebagai macam kecil (little tigers) di Asia, karena memiliki pertumbuhan ekonomi yang cepat, dan diprediksi akan menjadi negara berpenghasilan tinggi.

Memasuki periode 1990-an, Korsel, Hongkong, dan Taiwan berhasil meninggalkan industri manufaktur padat karya dan naik kelas menjadi negara maju di Asia. Bahkan Hongkong dengan kepastian hukum dan tranparansi, telah berhasil menjadi pusat industri jasa keuangan internasional.

Sangat disayangkan, pada dekade ini Indoneaia tidak mampu naik kelas, karena bersama beberapa negara Asean justru terpuruk kedalam krisis ekonomi. Bahkan untuk menyelamatkan perekonomian, Indonesia harus meminta bantuan IMF dalam rangka mendongkrak kepercayaan investor dan dunia internasional.

Sebaliknya, China memanfaatkan momentum dengan melakukan deregulasi dan reformasi ekonomi. Pada akhirnya, dengan cepat China menyalip Indonesia. Realitas tersebut terlihat dari tingginya perkapita China saat ini.

Karena selalu tinggal kelas, Indonesia bisa terperangkap kedalam middle income trap atau tidak lolos menjadi negara maju alias tetap penyandang status sebagai negara berkembang. Bahkan Indonesia kini berada dalam satu liga kompetisi bersama Kamboja, Vietnam, dan Banglades. Negara-negara inipun di mata investor memiliki daya saing lebih baik ketimbang Indonesia. Tidak mustahil mereka akan menyalip dan meninggalkan Indonesia dalam beberapa tahun mendatang.

Bagaimana keadaan Indonesia setelah 77 Tahun Merdeka ? Laksamana menilai, Indonesia semakin tertinggal jauh dari negara-negara yang pernah satu kelas sebelumnya. “Indonesia telah ditinggalkan teman-teman sekelasnya,” sindir Laksamana.

Mencermati fenomena tersebut, Laksamana mempertanyakan, apakah bangsa Indonesia bodoh ? Semua itu akibat bangsa Indonesia tidak mampu mengelola sumber daya alam yang dimiliki.

Oleh karena itu, Indonesia harus bekerja keras agar tidak terjebak pada middle income trap, yang muaranya mengancam Indonesia kehilangan kemampuan untuk naik kelas menjadi negara maju. (son)

Mission News Theme by Compete Themes.