Press "Enter" to skip to content

Sensasional Dusun Butuh – Nepal van Java

Media Social Share

BELUM lama terlelap ketika pesan Whatsapp Grup terbaca segera ke lobi, karena rombongan akan segera bergerak. Dalam kondisi yang belum stabil akibat baru tiba dari perjalanan wisata sebelumnya, rombongan wartawan yang tergabung dalam kegiatan Presstour Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Forwarparekraf) – akhirnya bergerak.

Deru suara dua mobil colt Hiace dan sebuah mini bus lainnya, rombongan menyelinap di tengah gemerlap Kota Yogyakarta menuju arah Magelang.

Sesampai di Pasar Muntilan, laju konvoi tersendat, karena masyarakat menggelar dagangan hingga ke tengah jalan.

Selepas itu perjalanan lancar, dan saya pun tersadar sudah berada di titik awal menuju Dusun Butuh, terbangun karena badan terantuk jendela akibat mobil terguncang keras disebabkan jalan yang tak bersahabat.

Rupanya, itulah titik mula perjalanan menuju Dusun Butuh Desa Kaliangkrik – Magelang yang dikenal dengan Nepal van Java, spot ideal berburu Sun Rise dan pintu pendakian menuju puncak Gunung Sumbing – Jateng.

Udara dingin menyemangati rombongan menuju pemberhentian terakhir kendaaran roda empat, untuk selanjutnya menggunakan sepeda motor menuju spot pertama gerbang menuju pendakian gunung Sumbing. Dengan sepeda motor tertentu, akan dijumpai spot ideal merekam bangkitnya sang surya menerangi bumi, Punthuk Nepal.

Untuk mencapai Punthuk Nepal, bisa dengan berjalan kaki atau sepeda motor yang dirancang khusus untuk medan dan rute menanjak tajam. Penumpang pun harus duduk di depan pengemudi agar ketika sepeda motor melaju di jalan berbatuan, penumpang tidak melorot jatuh. Atau motor jenis trail dimana penumpang harus berpegang erat pada pengemudi untuk mengurangi resiko melorot.

Di sepanjang jalan, wisatawan bisa melihat aktivitas warga yang akan menuju lahan garapan mereka. Tak jarang juga terlihat para orang tua memanggul hasil pertanian menuju tempat pengempul hasil pertanian sebelum didistribusikan ke sentra-sentra ekonomi di seantaro Jateng.

Dari Punthuk Nepal, terlihat jelas rumah warga yang tampak bertingkat atau bertumpuk-tumpuk seperti di Nepal. Dari ketinggian 1.700 meter dari permukaan laut ini, wisatawan dapat melihat awan menyelimuti beberapa rumah penduduk. Sebuah pemandangan langka, yang sulit ditemukan di tempat lain.

Untuk melihat fenomena di atas, wisatawan tidak dianjurkan datang di bulan September, atau memasuki musim hujan, karena pada pagi hari, di lokasi ini sering tertutup kabut dengan suhu mencapai 13 derajat celsius.

Dianjurkan untuk datang pada bulan Mei-Agustus atau musim kemarau, dimana cuaca Nepal van Java dengan latar belakang Gunung Sumbing akan jelas terlihat dalam cuaca cerah. Langit biru, terlihat segar memanjakan mata. Itulah Dusun Butuh.

Keindahan Dusun Butuh, Desa Temanggung, Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang yang kerap disandingkan dengan indahnya Nepal dan deretan pegunungan Himalayanya, belakangan makin populer saja.

Rumah-rumah penduduk yang seolah bertumpuk di lereng gunung Sumbing, pemandangan alam yang disajikan bak Negara Nepal dengan Gunung Everest-nya, itulah yang menjadi daya tarik wisatawan untuk berkunjung.

Dusun Butuh pun kini makin populer dengan julukan yakni Nepal van Java atau Nepal dari Jawa. “Jika di Nepal ada Gunung Everest, di Dusun Butuh ada Gunung Sumbing,” seloroh Dudut, salah seorang anggota Presstour yang beruntung memotret sunrise.

Ada yang memang sengaja ingin berfoto di Dusun Butuh, menikmati udara sejuk, dan suhu dingin khas pegunungan. Ada juga yang sekaligus ingin melakukan pendakian Gunung Sumbing melalui jalur Dusun Butuh. Tetapi yang lebih sensasional dan jika beruntung adalah menunggu bangkitnya sang surya menerangi bumi, Sun Rise.

Dikatakan beruntung, karena tidak setiap hari cuaca bersahabat, sehingga kemunculan Sun Rise tertutup awan atau kabut. Jiika sudah demikian, yang terlihat hanya gumpalan awan menyerupai salju. (son)

Mission News Theme by Compete Themes.