Press "Enter" to skip to content

Menikmati Akulturasi Budaya di Kampung Pulo

Media Social Share

LUPAKAN sejenak ketakutan terhadap coronavirus disiase (Covid-19), dan saatnya menikmati wisata dengan protokol kesehatan di Kabupaten Garut – Jawa Barat. Daerah sejuk yang disebut sebagai Swiss Van Java ini menjanjikan destinasi wisata mulai dari dasar laut hingga ke puncak gunung. Eksplorasi berbagai destinasi wisata tersebut diyakini dapat menghilangkan keluh dan penat yang selama ini menghantui warga kota akibat lama tak liburan.

Sebelum menikmati satu persatu destinasi wisata tersebut, Famtrip Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang berlangsung di Kabupaten Garut, 28 – 30 Oktober 2020 mengunjungi Kampung Pulo – Desa Cangkuang Kecamatan Leles, Kabupaten Garut. Akulturasi budaya menjadi suguhan destinasi yang dikelilingi Situ Cangkuang ini, karena di lokasi yang sama terdapat candi peninggalan Hindu dan pemukiman adat yang penghuninya menganut agama Islam.

Kampung Pulo dapat dijumpai sebelum memasuki kota Garut atau beberapa kilometer dari jalan raya. Untuk menuju Kampung Pulo, wisatawan harus menyeberang menggunakan rakit yang terbuat dari rangkaian bambu. Masyarakat menyediakan puluhan rakit untuk mengantarkan wisatawan dengan panorama gunung Guntur yang menawan.

Akulturasi begitu kental di Kampung Pulo. Konon, sebelum Islam masuk dan berkembang di Kampung Pulo dan sekitarnya, disana sudah ada penghuni beragama Hindu. Jejak agama Hindu terekam dengan ditemukannya candi Cangkuang yang didalamnya terdapat patung Siwa.

Masuk dan berkembangnya agama Islam di Kampung Pulo khususnya dan Kabupaten Garut pada umumnya tak lepas dari nama Eyang Embah Dalem Arief Muhammad. Makamnya pun dapat dijumpai di kompleks Candi Cangkuang – Kampung Pulo.

Destinasi wisata Situ dan Candi Cangkuang dengan Kampung Pulo-nya ini punya sejarah panjang dan kehidupan masyarakat adatnya yang khas.

Kata Cangkuang berasal dari nama tanaman sejenis pandan (Pandanus furcatus), yang banyak terdapat di sekitar candi. Daun cangkuang umumnya dimanfaatkan untuk membuat tudung, tikar atau pembungkus gula aren.

Asal muasal Candi Cangkuang pertama kali sudah terdengar oleh Vorderman, warga negara Belanda yang kala itu menetap di Garut. Ia menuliskan penelitiannya di dalam buku Notulen Bataviaasch Genotschap terbitan tahun 1893, yang menyatakan bahwa di Desa Cangkuang terdapat peninggalan patung Dewa Siwa dan makam Embah Dalem Arif Muhammad, tokoh penyebaran agama Islam di daerah ini.

Namun candi ini baru ditemukan kembali pada tanggal 9 Desember 1966. Jejak penemuan terekam dalam museum yang berada di Kampung Pulo. Museum juga menampilkan berbagai menuskrip atau jejak penyebaran agama Islam, seperti bahan khotbah Idul Fitri dan Idul Adha, bahan khotbah Jum’at dan berbagai buku dengan tulisan menggunakan huruf Arab.

Setelah ditemukan kembali, candi ini mulai dilakukan penelitian dan pada tahun 1966, dan pemugaran Candi Cangkuang sendiri mulai dilakukan pada 1974.

Selain candi, di pulau itu juga terdapat pemukiman adat Kampung Pulo, yang juga menjadi bagian dari kawasan cagar budaya. Letaknya berada di kompleks Candi Cangkuang, persis sebelum pintu masuk candi tersebut.

Penduduk Kampung Pulo kini merupakan keturunan asli dari almarhum Eyang Embah Dalem Arif Muhammad. Beliau memiliki tujuh anak, enam di antaranya perempuan dan satu laki-laki. Jumlah putra putri Eyang Embah Dalem Arif Muhammad dimanifestasikan dalam bentuk enam rumah dan satu musholah.

Sejak abad ke-17, kompleks Kampung Pulo terdiri atas enam rumah dan satu mushala. Rumah-rumah tersebut diperuntukan bagi anak perempuannya, sementara mushala untuk satu-satunya anak laki-laki Eyang Embah Dalem Arif Muhammad, yang diketahui meninggal ketika usia muda.

Warga adat Kampung Pulo tidak boleh menambah kepala keluarga sehingga apabila ada warga adat yang menikah, mereka harus membangun atau memulai berumah tangga di luar Kampung Pulo.

Revitalisasi Kampung Pulo dilakukan secara masif. Setidaknya, ada tiga kementerian yang terlibat dalam proses revitalisasi yaitu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terkait dengan Candi Cangkuang, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat terkait dengan infrastruktur, dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang membangun berbagai sarana pendukung kepariwisataan seperti arena bermain dan sebagainya. (son)

 

 

 

Mission News Theme by Compete Themes.