Press "Enter" to skip to content

Jembatan Gantung, Ikon Instagramable Desa Karang Dapo

Media Social Share

BAGI sebagian warga Sumatra Bagian Selatan (Sumbagsel), mendengar nama Dusun Karang Dapo terasa tidak asing lagi. Sejarah kelam warga dusun yang saat ini menjadi bagian dari Kabupaten Musirawas Utara yang dulunya bagian dari Kabupaten Musi Rawas itulah yang mengantarkan nama Karang Dapo menjadi begitu populer di kalangan petinggi keamanan republik ini. Tapi, itu dulu…

Upaya untuk memghapus stigma negatif itu, sejumlah warga berupaya untuk membangun image positif dengan berinisiif menjadi Desa Karang Dapo sebagai destinasi wisata baru di Kabupaten Muratara.

Karang Dapo terbagi dalam tiga wilayah yaitu Kelurahan Karang Dapo, Desa Karang Dapi I, dan Desa Karang Dapo II. Ketiga wilayah itu berada dalam satu Kecamatan Karang Dapo. Untuk menuju Karang Dapo tidaklah sulit, karena hanya memerlukan waktu 20 menit dari ibukota Kabupaten Muratara, Muara Rupit.

Untuk mencapai Desa Karang Dapo tidaklah sulit, karena hampir semua warga Muratara mengenal desa ini, bahkan warga Kabupaten Musi Rawas banyak yang mengenal desa Karang Dapo lantaran banyak pejabat dari daerah ini pernah ‘berkuasa’ di kabupaten induk ini.

Banyak potenai yang bisa dikembangkan di Desa Karang Dapo mengingat alam dan kondisi geografis yang masih menarik untuk dieksploitasi dan eksplorasi.

Pada tahap awal, kata salah seorang warga bernama H. Muhammad Yusuf, Pemkab Musirawas Utara tengah membangun jembatan gantung yang menghubungkan pemukiman warga dengan daerah seberang Sungai Rawas, dan nantinya jembatan gantung yang merupakan salah satu yang terpanjang di Indonesia setelah jembatan gantung Situ Gunung, Sukabumi – Jabar ini, nantinya bakal dijadikan spot selfie bagi wisatawan. “Jembatan gantung ini ikon Desa Karang Dapo yang sangat instagramable,” promosi Yusuf.

Sensasi berada di atas jembatan Gantung yang membentang di atas Sungai Rawas ini akan sulit dijumpai di tempat lain. “Melewati jembatan dengan pemandangan hutan yang hijau, apalagi ketika banjir datang akan menjadi spot yang bagus untuk berfoto selfie,” kata Yusuf.

Di seberang dusun, banyak warga yang berinisiatif untuk membuka pusat kuliner, meski nantinya dibuka pada hari-hari tetentu saja. Banyak kuliner khas dusun Karang Dapo dengan teste yang berbeda dari dusun tetangga meski nama kulinernya sama, akan menjadi menu andalan yang siap disajikan kepada wisatawan.

Bahkan beberapa investor sudah melirik ribuan hektar lahan tidur di seberang dusun itu untuk dijadikan kebun sawit yang secara simultan akan dibangun destinasi wisata buatan.

Warga terutama kalangan Karang Taruna dapat memanfaatkan lahan yang tesedia untuk dijadikan sport atau arena gathering maupun outbound dengan sajian berbagai permainan outdoor. “Potensi itu ada, warga bisa mengadopsi permainan di banyak daerah. Mungkin pada tahap awal bisa memanfaatkan dana desa,” tambah mantan Kades ini.

Ribuan hektar sawah yang selama ini tak lagi digarap pemilik lahan, akan coba ditawarkan dengan menghadirkan investor yang bergerak pada sektor agriculture, dan nantinya menggarap lahan sawah menggunakan teknologi modern.

Begitu pula kebun durian yang selama ini sangat terkenal dengan kualitasnya, akan dikelola pemilik kebun dengan supervisi dari ahli pertanian. Belum lagi jutaan pohon duku, dimana pada musim buah-buahan dapat disajikan kepada pengunjung secara gratis makan di pohon.

Beranjak ke selatan Sungai Rawas, perkebunan sawit yang membentang jutaan hektar itu diharapkan siap menjadi destinasi wisata, bahkan banyak warga berinisatif menawarkan kepada wisatawan teknik memanen kelapa sawit.

Sebagian warga lainnya berharap lahan perkebunan sawit dijadikan lokasi berburu babi hutan yang selama ini menjadi hama utama pohon kelapa sawit muda.

Inisiatif dan wacana warga pun kini sudah direspon Pemkab Muratara dan Pemprov Sumsel yang akan membangun mapun rekonstruksi jalan Trans Subur mulai dari Dusun Karang Dapo sampai ke Muara Lakitan sejauh 40 kilometer.

Akses jalan ini tentu saja memberikan peluang bagi wisatawan maupun terbukanya sentra ekonomi baru, yang pada dasarnya infrastrultur jalan Trans Subur yang sudah membuat penderitaan warisan turun temurun warga Karang Dapo ini nantinya mempermudah warga untuk berproduksi dan memasarkan hasil pertanian menuju sentra-sentra ekonomi.

Pendapatan Asli Desa

Pundi-pundi eķonomi dan sumber pendapatan asli desa dapat dari sektor perparkiran, dimana nantinya wisatawan yang berniat untuk menuju spot selfie di jembatan gantung wajib menitipkan kendaraan mereka yang nantinya dikelola baik secara swakelola maupun melalui perangkat desa.

Retribusi yang sama juga dikenakan kepada para pemburu babi hutan atau wisatawan yang ingin menikmati sensasi penen buah sawit. Belum lagi retribusi kendaraan yang mengangkut buah sawit agar secara sukarela turut menyumbang bagi kemajuan Desa Karang Dapo. (son)

Mission News Theme by Compete Themes.