TANGERANG, BISNISJAKARTA.ID – Family Gathering yang dihelat Warga Mahkota Simprug RT 002 RW 015 Paninggilan Utara – Ciledug, Kota Tangerang menyisahkan cerita sedih bagi sang legenda. Nikson, nama sang legenda itu. Apa pasal ?
Begini ceritanya. Sesaat meninggalkan villa di daerah Cianjur dimana menjadi tempat gelaran Family Gathering tahun ini, bus yang kami tumpangi terjebak macet, karena sebagaimana biasanya – lalu lintas di destinasi wisata Puncak ini diatur sistem buka tutup dan genap ganjil bagi kendaraan yang melintas saat akhir pekan dan hari libur naaional.
Untuk menghibur warga yang kesel, gunda, dan lapar, sang legenda mencoba merayu kru bus untuk menghidupkan vedio agar sang legenda dapat menyumbangkan beberapa judul lagu, sebagai pengantar tidur penumpang bus.
Dimulai dengan lagu Ikan Dalam Kolam, Bunga Tanjung, dan Fatwa Pujangga membuat bisik-bisik ibu-ibu yang merasa tidurnya terganggu, tertawa terpaksa. Selain lagu-lagu tersebut jadul dan kental dengan nuansa Melayu, yang sebenarnya hanya dapat dinikmati manusia lansia, suara penyanyinya membuat kuping pendengarnya jadi gatel. “Emang gak ada lagu zaman now,” celetuk salah seorang ibu-ibu, yang disebut-sebut sebagai ketua geng.
Dasar orang tua, gak peduli dan gak paham sindiran bahwa suara sang legenda sudah tak merdu lagi seperti ketika masih menjadi penyanyi panggung. Seperti suara kletekan, kaleng Khong Guan – begitulah gambaran suara sang legenda. Meski begitu, ia trus saja bernyanyi, karena prinsifnya harus PeDe jika ingin terkenal dan pansos. Sampai akhirnya lagu berjudul ‘Pak Tua’ yang dipopulerkan Elpamas ini, menutup ‘keganjilan’ sang legenda yang tampak kelelahan dan akhirnya tertidur pulas.

PAK TUA
- Kamu yang murah senyum memegang perut
- Badanmu s’makin tambun memandang langit
- Hari menjelang magrib Pak Tua ngantuk
- Istri manis menunggu istirahatlah
- Diluar banyak angin
Dalam tidurnya, sang legenda mendengar ancaman ibu-ibu jika gathering berikurnya jangan sewa bus yang ada karaokenya, jika perlu sewa bus tanpa AC. “Sewa mobil tentara aja, pake AC alami,” celetuk sang legenda seakan mengigau.
Sebenarnya, sang legenda sudah sering rekaman. Suara aslinya sangat merdu. Bisa didengar ketika beliau menjadi muadzin di Musholla Alkautsar yang berjarak beberapa meter dari rumahnya.
Beberapa presiden dan menteri sejak jaman Gus Dur, Mega, SBY, dan JKW sering terkesima. Misalnya, Menlu Ali Alatas ketika itu kaget dengan suara sang legenda yang bernyanyi soal lemahnya diplomasi diplomat Indonesia sehingga Timtim lepas dari NKRI.
Pada akhirnya, perjalanan selama lebih dari 6 jam dari Puncak Pas hingga ke pintu Tol Ciawi itupun berlalu. Wargapun terlelap setelah sebelumnya ‘mengisi bahan bakar’ di Warung Nasi Alam Sunda – Gadog, dan itu tak gratis, tapi giliran bapak-bapak yang merogoh kocek. ***










