Press "Enter" to skip to content

Saatnya Negara Hadir Selamatkan Pengusaha Angkutan

Media Social Share

BISNISJAKARTA.ID. JAKARTA – Pemerintah diminta hadir dan menyelamatkan pengusaha yang terdampak pandemi covid-19. Penyelamatan terhadap pengusaha angkutan di antaranya dengan memberikan kompensasi selama tidak beroperasi maupun relaksasi segera terhadap kredit hingga pertengahan tahun depan. Demikian suara pengusaha angkutan yang terungkap dalam diskusi virtual di Jakarta, Jumat (14/8) malam.

Diskusi yang digelar Forum Wartawan Perhubungan (Forwahub) dengan tema Diskon Naik Bus Aman dan Nyaman menghadirkan sejumlah narasumber antara lain Ketua Perkumpulan Transportasi Wisata Indonesia (PTWI) Yuli Sayuti, Ketua Umum Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI) Kurnia Lesani Adnan, Owner PO Sumber Alam Anthony Steven Hambali, stakeholder transportasi serta para wartawan.

Menurut Yuli Sayuti, yang dinantikan dari negara saat ini adalah  menyelamatkan pengusaha angkutan lewat stimulus atau relaksasi kredit, karena sejak kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) maupun larangan mudik dan dilanjutkan dengan adanya aturan yang telah menghentikan operasional bus menyebabkan terabainya kebutuhan tetap perusahaan. “Jangan sampai operator sudah berhenti, tidak operasi tetapi masih harus menanggung beban tetap. Itu pasti akan mengalami kebangkrutan,” katanya.

Pemberian relaksasi atas beban finansial kepada perbankan, leasing, maupun pada pemerintah (pajak-pajak dan perizinan), kata Yuli, agar tidak ada kebangkrutan angkutan umum. Kalau angkutan umum tidak diselamatkan, lalu pemerintah berharap usai pandemi pariwisata bisa naik tanpa didukung angkutan umum yang baik, maka pemerintah bisa dikatakan gagal.

Stimulus dirasakan sangat penting mengingat saat ini pengusaha angkutan dibebani harus membayar kapasitas atas kursi yang tidak boleh ditempati, karena adanya pembatasan kapasitas angkutan umum yang hanya boleh separuhnya. “Masalah utama kami adalah dari usaha angkutan wisata 1.200 pengusaha dengan belasan ribu kendaraan, 90 persen saat ini mati suri nggak bergerak,” ungkapnya.

Bahkan, kata Yuli, pemutusan hubungan kerja (PHK) di bidang pariwisata akan segera menjadi ancaman besar. Hal itu karena akan terjadi penarikan bus akibat terkendala pembiayaan. “Kami mohon pada pemerintah, perhatikan kami agar bisa hidup dan bukalah tempat pariwisata agar kami bisa bergerak lagi,” ucapnya.

Ketua Umum Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI) Kurnia Lesani Adnan mengatakan, bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) pariwisata butuh dikampanyekan untuk kembali bergairah.

Kurnia merasa angkutan bus seperti dianaktirikan jika dibandingkan dengan angkutan lainnya seperti pesawat. “Kami juga butuh dikampanyekan bus aman dan nyaman di masa new normal. Justru urat nadi itu ada di jalan raya dimana angkutan bus menjadi darahnya,” tegasnya.

Menurutnya, angkutan bus juga menerapkan protokol kesehatan yang ketat dalam operasinya. Tidak kalah dengan angkutan lain. Sayangnya di lapangan bus seringkali menerima tindakan diskriminatif.

Kurnia mencontohkan, penumpang bus AKAP jurusan Jakarta-Yogakarta sudah tiba di daerah Wates malah dilarang masuk dan diperiksa macam-macam. Padahal sebelumnya tidak ada periksa apapun.

Justru sebaliknya, banyak kendaraan pribadi bisa masuk kemana-mana tanpa ada pemeriksaan apapun. Ia juga menegaskan buat para penumpang yang ingin naik bus, berdasarkan peraturan tidak lagi dibutuhkan hasil rapid tes dan surat apapun untuk kembali naik bus. “Pemerintah harus tegas. Jangan main petak umpet. Kalau ada kasus dibilang kewenangan daerahlah, Kemendagri bilang tidak, polisi sebagai penegak hukum harus bertindak tegas dan adil,” ucapnya.

Sementara Anthony Steven Hambali berharap, pandemi covid-19 segera berakhir sehingga kehidupan bisa kembali normal. “Saya berharap penanganan soal virus ini lebih optimal, baik pusat maupun daerah untuk menghindari rancunya informasi dan kebijakan yang diambil,” ujarnya.

Saat ini total armada bus Sumer Alam mencapai 150 unit. Perusahaan memiliki 60 karyawan di luar kru bus, dimana karyawan tersebut masuk secara bergiliran sejak wabah virus corona merebak. “Dampak corona, penumpang drop hingga 90 persen,” kata dia. (son)

Mission News Theme by Compete Themes.