Press "Enter" to skip to content

Karhutla Sebabkan Indonesia Alami Kerugian Rp 221 Triliun

Media Social Share

BISNISJAKARTA.ID. JAKARTA – Akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi selama ini, Indonesia mengalami kerugian hingga mencapi Rp 221 triliun. Bahkan, tahun 2019 lalu kerugian mencapai Rp 72,95 triliun. Demikian diungkapkan Kepala Kampanye Hutan Indonesia Greenpeace Indonesia Kiki Taufik saat diskusi virtual yang digelar Forum Editorial the Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) di Jakarta, Sabtu (3/10).

Diskusi bertajuk Build Back Better, Bangkit dari Krisis dengan Pembangunan Rendah Karbon di Sektor Kehutanan – Tantangan dan Peluang di Sektor Kehutanan menghadirkan sejumlah nara sumber. Selain Kiki Taufik juga hadir CEO – Executive Director KEHATI Foundation Riki Frindos dengan judul makalah Sustainable & Responsible Investment serta Senior Manager, Forests & Commodities, WRI Indonesia Andika Putraditama dengan judul makalah Build Back Better, Memutus Rantai Deforestasi.

Kiki mengatakan, kerusakan lingkungan sebagai bagian dari ongkos alamiah pembangunan ekonomi. Implikasinya, keberlanjutan lingkungan selalu dikorbankan untuk pembangunan ekonomi. Fenomena itu akan berdampak pada kelompok masyarakat rendah dan miskin pedesaan.

Bagaimana ongkos perubahan iklim di Indinesia, Kiki mengatakan, Pemerintah Indonesia bagus dalam membuat komitmen, tetapi implementasinya tidak transparan dan tidak jelas bagaimana delivery-nya, terutama untuk topik yang penting seperti Karhutla, terlalu banyak over cliam sementara secara konsisten penegakan hukumnya gagal atau tidak bekerja dengan benar.

Ia mencontohkan, gugatan warga yang meminta pertanggungjawaban pemerintah karena gagal mencegah kebakaran hutan dan lahan yang telah dikabulkan Mahkamah Agung, tetapi Pemerintah tidak patuh terhadap putusan tersebut.

Oleh karena itu, jika Karhutla terus berlangsung tanpa peningkatan komitmen nol deforestasi yang signifikan dari dunia industri dan pemerintah, Kiki memprediksi asap karhutla akan menyebabkan kematian dini tahunan 36.000 di seluruh Indonesia dan negara tetangga.

Dari total luas lahan gambut Indonesia yang dikonversi menjadi perkebunan industri pada tahun 2015, 73%-nya adalah untuk kelapa sawit.

“Proyek Lahan Gambut Sejuta Hektar, selain gagal menghasilkan pangan, juga menimbulkan risiko kebakaran yang berkepanjangan,” katanya.

Sementara Riki Frindos menyebut, Yayasan KEHATI bertujuan untuk menghimpun dan mengelola pendanaan yang selanjutnya disalurkan dalam bentuk dana hibah, fasilitasi, konsultasi dan berbagai dukungan lain guna menunjang berbagai program pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia dan pemanfaatannya secara adil dan berkelanjutan.

Selama lebih dari dua dekade, kata Riki, KEHATI telah mengelola dan menyalurkan dana hibah lebih dari 200 juta dolar kepada ratusan CSO lokal. Sumber pendanaan berasal dari donor multilateral dan bilateral, lembaga filantropi, koporasi, lembaga keuangan, crowd funding, dan endowment fund Yayasan KEHATI. (son)

Mission News Theme by Compete Themes.