Press "Enter" to skip to content

Inilah Tantangan Indonesia Menuju Target 1,5 Derajat Celcius

Media Social Share

BISNISJAKARTA.ID. JAKARTA – Indonesia memiliki potensi sumber energi terbarukan melimpah, misalnya energi matahari sebesar 200-500 GW dan baru dimanfaatkan sekitar 0,02 persen. Berbagai hambatan dan tantangan menjadikan energi baru terbarukan belum mendapat tempat di negeri ini, apalagi menjadikan Indonesia target 1,5 Derajat Celcius. Demikian sebagaian kesimpulan diskusi publik Catatan Akhir Tahun bertajuk Transisi Energi di Indonesia Sampai Di mana yang digelar secara virtual di Jakarta, belum lama ini.

Diskusi yang digagas The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) bersama dengan Greenpeace Indonesia menampilakn sejumlah narasumber antara lain Ekonom Senior Faisal Basri, Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional (DEN) Djoko Siswanto, Analis Keuangan IEEFA Ghee Peh, dan Manajer Kampanye Energi & Iklim Greenpeace Indonesia Hindun Mulaika dibuka Ketua Umum SIEJ Rochimawati.

Djoko Siswanto mengatakan, energi bersih dan terbarukan memiliki tiga potensi sekaligus yaitu menopang pertumbuhan ekonomi, menciptakan kesempatan kerja, dan memitigasi perubahan iklim. Sehingga seharusnya tidak ada trade-off antara ketiga hal tersebut.

Djoko mengatakan, dari sisi ekonomi bahwa energi bersih dan terbarukan mampu memenuhi kebutuhan energi di yang akan terus meningkat. Energi baru dan terbarukan juga tidak terpengaruh fluktuasi harga bahan bakar fosil.

Kemudian tersedianya kesempatan kerja, karena energi terbarukan menyerap tenaga kerja tiga kali lebih banyak dari PLTU batu bara

Hal yang terpenting, jelas Djoko, mencegah perubahan iklim, dimana energi bersih dan terbarukan akan memitigasi Indonesia dari krisis iklim. “Untuk berada pada jalur 1,5 derajat celcius, energi batu bara harus berkurang sebanyak 80 persen dari 2010-2030,” papar Djoko Siswanto.

Djoko menjelaskan pentingnya pembangkit listrik tenaga matahari dan angin untuk menghasilkan penilaian berdasarkan transisi energi, perencanaan energi, dan peran pembangkit listrik tenaga matahari dan angin di dalam program pemulihan ekonomi nasional.

Ia mengatakan, memang selama ini ada target energi terbarukan tetapi target tersebut masih sangat lemah (23%) dibandingkan target energi terbarukan IPCC (50 persen di 2030). Kesulitan untuk mencapai target tersebut, kata dia, karena masa operasi PLTU batu bara dan gas yang menghambat pengembangan energi terbarukan.

Djoko meyakini, energi matahari dan angin meningkatkan ketahanan energi dibandingkan energi batu bara, dan tren kerjasama regional dalam sektor kelistrikan bidang energi terbarukan lebih memungkinkan dan prospektif.

Oleh karena itu, Djoko berharap semua pihak membongkar mitos bahwa investasi energi terbarukan tidak berisiko, mahal, dan unbankable. “PLTU batu bara dan bahan bakar fosil yang sudah beroperasi dengan lifetime yang panjang menjadi beban untuk mencapai target 1,5 derajat,” kata Djoko.

Djoko berpendapat, Indonesia tidak akan mencapai target 1,5 derajat di 2030 karena terbebani oleh PLTU batu bara yang sudah beroperasi dan perlu segera fokus pada 100 persen pengembangan energi matahari dan angin.

Beberapa penghambat utama antara lain kepentingan elite batu bara yang mengganggu transisi energi dan menyebabkan kegagalan sistemik, kelebihan kapasitas dan subsidi untuk energi batu bara, penetapan harga, kerangka kebijakan dan pengambilan kebijakan yang bersifat ad-hoc.

Oleh karena itu, Djoko mendesak pemerintah untuk menghentikan pembangunan PLTU batu bara dan gas baru, segera mendorong target 50 persen energi terbarukan, memperbaiki pasar, khususnya menghilangkan penetapan harga yang terkait dengan batu bara bersubsidi.

Hal ini diyakini Djoko akan berdampak pada perekonomian dan manusia. Apalagi, Pandemi Covid-19 menunjukkan faktor non-ekonomi dapat menimbulkan resesi ekonomi, begitu pula dengan krisis iklim. (son)

 

Mission News Theme by Compete Themes.