Press "Enter" to skip to content

Gairahkan Industri Dalam Negeri, RTM Minta Pemerintah Batasi Impor Pipa

Media Social Share

BATAM, BISNISJAKARTA.ID – PT Rainbow Tubulars Manufacture yang memproduksi pipa seamless dan satu-satunya di Indonesia. Perusahaan yang menjadi bagian dari PT Sunindo Pratama ini juga telah mencapai Tingkat Komponen dalam Negeri (TKDN) lebih dari 50%.

Direktur PT Rainbow Tubulars Manufacture Rudi Barkeilona mengatakan, pipa seamless yang diproduksi oleh perusahaan sudah tersertifikasi API 5CT (Casing & Tubing) dan API 5L (Line Pipe). Penggunaan pipa seamless dalam negeri dalam proyek migas menurutnya pun membuat operasional menjadi lebih efisien. “Kalau selama ini kita impor karena belum ada dibuat di dalam negeri, sekarang kita sudah bisa membuat di dalam negeri sendiri tentunya kita harus bisa lagi lebih mandiri,” ujar Barkeilona saat menerima rombongan wartawan yang tergabung dalam kegiatan Media Gathering SKK Migas – KKKS di Batam, Rabu (20/11).

Sebelumnya, industri pendukung migas dalam negeri baru bisa mengulir sehingga masih membutuhkan produk impor. Namun kini, dengan PT Rainbow terus mendukung hal ini dengan memproduksi pipa seamless sendiri. Oleh karena itu, saatnya pemerintahan baru mendorong bertumbuh kembangnya industri dalam negeri diantaranya membatasi impor pipa.

Tidak hanya itu, dukungan PT Rainbow juga dilakukan melalui kerja sama dengan Pertamina EP, Pertamina Hulu Rokan, dan perusahaan lainnya. Dia juga berharap, target produksi 1 juta barel minyak per hari (bph) pada 2030 akan lebih terbuka. “Hampir rata-rata sudah memakai (produk PT Rainbow). Pengeboran makin banyak. Kami percaya cita cita pemerintah dapat tercapai, dan juga penggunaan material kami juga meningkat, itu yang kami harapkan,” katanya.

Barkeilona memaparkan, RTM didirikan pada tahun 2016 dengan 100% kepemilikan modal asing, dan pada tahun 2019 PT Sunindo Pratama Tbk (SUNI) mengakuisisi saham RTM sebanyak 60%. Setelah listed di Bursa Efek Indonesia pada 9 Januari 2023, SUNI kembali melakukan akuisisi terhadap 39,6% saham RTM, sehingga kepemilikan RTM menjadi 100% dimiliki oleh Perusahaan Dalam Negeri dengan komposisi saham yang dimiliki sebesar 99,96% oleh SUNI dan 0,04% dimiliki oleh PT Sinarindo Prima.

Ia mengatakan, RTM membuka babak baru dalam industri pipa untuk kebutuhan Migas dengan menjadi pabrikan pipa OCTG Seamless pertama yang berproduksi di Indonesia. Produksi perdana RTM dimulai pada tahun 2017 untuk pasar ekspor dan pada tahun 2018 mulai memasok kebutuhan domestik. Sejak tahun 2018 sampai saat ini kontribusi RTM terus bertambah dalam memasok kebutuhan pipa khususnya Tubing untuk kebutuhan domestik.

Menurut Barkeilona, kemajuan ini tidak lepas dari campur tangan SKK Migas yang terus mendorong penggunaan produk dalam negeri melalui Program KapNas. SKK Migas melakukan dukungan secara komprehensif, tidak hanya mendorong KKKS untuk memakai produk dalam negeri tetapi juga melakukan pembinaan kepada RTM untuk memastikan kualitas produk pipa seamlessnya dapat diterima.

Bersama Dirjen Migas dan beberapa KKKS besar, lanjut Barkeilona, SKK Migas melakukan evaluasi dan pembinaan produsen dalam negeri. “Untuk initial assement RTM berhasil mendapat score 78,” ungkap Barkeilona.

Dukungan terhadap produk dalam negeri saat ini terus digalakkan oleh pemerintah, antara lain melalui SKK Migas, adalah untuk dapat meningkatkan perekonomian nasional, lebih lagi dengan target pertumbuhan ekonomi tinggi (8%) yang digaungkan oleh pemerintah saat ini, maka penggunaan produk lokal akan dapat membantu pencapaian target tersebut. Yang terutama, penggunaan produk lokal akan dapat menciptakan lapangan kerja dan memberikan multiplier effect bagi perekonomian pada sektor-sektor lainnya.

Saat ini, RTM sedang dalam Pembangunan Plant-2 sehingga kapasitas total dapat meningkat menjadi 60.000 – 70.000 ton per tahun. Dengan adanya Plant-2 ini, maka RTM diharapkan dapat memenuhi kebutuhan domestik yang diperkirakan meningkat sejalan dengan rencana pemerintah untuk meningkatkan lifting minyak di Indonesia, dan akan dapat memiliki kapasitas lebih untuk memenuhi kebutuhan ekspor yang sejak 2023 dihentikan karena RTM mengutamakan untuk memenuhi kebutuhan domestik.

RTM berkomitmen untuk terus menigkatkan kualitas dan keselamatan kerja dan menjalankan operasi Perusahaan dengan mengedepankan prinsip sustainability sebagai bentuk tanggung jawab kepada lingkungan dan sosial. “Mari kita bersama tunjukan cinta kita kepada produk dalam negeri dengan meninggkatkan penggunaan produk dalam negeri,” kata Barkeilona. (son)

Mission News Theme by Compete Themes.