Press "Enter" to skip to content

Emisi Produksi Biodiesel Lebih Besar Dibandingkan Energi Fosil

Media Social Share

BISNISJAKARTA.ID. JAKARTA – Kepala Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia Kiki Taufik menyebut emisi karbon dioksida (CO2) dari proses produksi biodiesel yang berasal dari kelapa sawit lebih besar ketimbang bahan bakar minyak (BBM) dari fosil. “Nilai emisi dari jejak karbon (carbon footprint) yang dihasilkan kelapa sawit sampai kenjadi biodiesel lebih besar dibandingkan bahan bakar fosil,” kata Kiki Taufik saat diskusi virtual yang gagas Forum Editorial the Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) di Jakarta, Sabtu (3/10).

Diskusi bertajuk Build Back Better, Bangkit dari Krisis dengan Pembangunan Rendah Karbon di Sektor Kehutanan – Tantangan dan Peluang di Sektor Kehutanan menghadirkan sejumlah nara sumber. Selain Kiki juga hadir CEO – Executive Director KEHATI Foundation Riki Frindos dengan judul makalah Sustainable & Responsible Investment serta Senior Manager, Forests & Commodities, WRI Indonesia Andika Putraditama dengan judul makalah Build Back Better, Memutus Rantai Deforestasi.

Kiki mengatakan kebijakan reduksi emisi yang sedang dijalankan pemerintah saat ini belum tepat, contohnya pengembangan energi baru terbarukan (EBT) memakai biofuel.

Menurut Kiki, nilai emisi karbon dioksida dari pembakaran satu liter biodiesel 38 persen lebih kecil dibandingkan dengan pembakaran minyak solar.

Berdasarkan data Kementerian Energi Sumbe Daya Mineral (ESDM) tahun 2018, implementasi program B20 di tahun 2017 dapat mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) senilai 3,84 juta ton CO2, atau setara penggunaan biofuel 13.392 bus kecil.

Namun demikian, menurut dia, nilai emisi jejak karbon atau carbon footprint yang dihasilkan dari kelapa sawit di Indonesia sampai menjadi biodiesel lebih besar dibandingkan bahan bakar fosil, selain koneksi dengan isu HAM di industri sawit.

Untuk memenuhi produksi B100, Kiki mengatakan membutuhkan produksi 10,58 juta ton crude palm oil (CPO), dan penambahan sekitar 3,78 juta hektare (ha) luas lahan.

Karena itu, menurut dia, kebijakan reduksi emisi karbon di Indonesia masih belum tepat. Untuk memenuhi Tujuan Pembangunan Bekelanjutan (SDG) dan Nationally Determined Contribution (NDC), pemerintah memang mengacu kepada dua titik untuk merendahkan emisi, yakni hutan dan transportasi.

Namun, kata dia, pemilihan biofuel yang berasal dari minyak sawit yang masih termasuk komoditas yang ekstraktif untuk mendefinisikan EBT tidaklah tepat.

Dari data Kementerian ESDM tahun 2019, Indonesia memiliki potensi EBT dari surya sebesar 207,9 Gigawatt (GW), sementara pemanfaatannya baru mencapai 0,9 GW. Untuk energi bayu atau angin, Indonesia memiliki potensi sebesar 60,6 GW, namun pemanfaatannya baru mencapai 0,076 GW.

Diakui komitmen pemerintah untuk mengurangi emisi karbon bagusnmamun pengimplementasiannya yang masih harus menjadi perhatian. (son)

Mission News Theme by Compete Themes.