Press "Enter" to skip to content

Ini Dia Kuliner Legendaris dari Garut 

Media Social Share

LIBURAN di Garut terasa belum lengkap jika belum menikmati kuliner legendaris ini, Soto Achri. Dikatakan llegendaris, karena soto ini sudah ada sejak sebelum kemerdekaan Indonesia.

Dengan teste yang sama sejak sebelum Indonesia lahir, soto Achri yang diambil dari nama generasi pertama ini makin digemari masyarakat tak hanya warga Garut tetapi juga wisatawan banyak yang penasaran dengan kuliner berbahan dasar daging sapi dan santan ini.

Lokasinya tak jauh dari stasiun Garut persis di dalam pasar Mandala Giri, Garut. Tempatnya berada di gang sempit yang tak bisa berpapasan sepeda motor. Kursi yang disediakan juga tak banyak. Jadi ada rombongan yang datang lebih dari itu, dipastikan harus sabar nunggu alias antri.

Meski demikian, kuliner ini paling favorit buat sarapan. Kalau beruntung, bisa ditemui saat makan siang. Biasanya warung ini buka dari pagi dan sekitar jam 10  atau jam 11 sudah tutup, karena sudah habis.

Soto ini boleh direkomendasikan sebab bukan cuma tamu pendatang yang suka, bagi orang Garut sendiri makanan ini nikmat dan sudah terkenal secara turun temurun.

Seorang pengunjung setia Soto Achri, Ria mengaku, mengenal Soto Achri dari orang tuanya. Bahkan kini sudah mengenalkan kepada anaknya. “Bahkan anaknya kadang rindu bila beberapa minggu belum makan soto Achri lagi,” kata Ria.

Harga satu porsi soto Achri Rp 28 ribu saja. Rasanya pas gurihnya paduan rempah, santan dan kaldu daging sapi. Disajikan dengan perasan jeruk nipis, sambal, dan kacang kedelai goreng, jika mau

Soto Achri yang berdiri sejak tahun 1943, kini dilanjutkan oleh generasi kedua, H. Endang. Menurut Endang, perhari warung ini bisa menjual 300 porsi dengan sekitar 25 kg daging sapi dan 15 sampai 20 liter beras. “Masa pandemi ini memang agak sepi. Biasanya 40-50 kg daging sapi habis sehari. Tapi sekarang turun hingga setengahnya,” kata Endang.

Rahasia nikmatnya soto ini adalah dagingnya yang merupakan daging pilihan. Kebanyakan daging bagian kepala sapi meski daging bagian lain, kikil dan lidah juga ada. Bumbunya pun sederhana terdiri dari bumbu halus kunyit, lengkuas, jahe, lada, disisipkan daun salam, san serai.

Memasaknya dengan api dari kayu bakar, sehingga mempengaruhi rasa kuah sotonya. Selain itu proses memasaknya juga disiapkan sehari sebelumnya, jadi bumbu sudah meresap.

Biasanya daging dimasak dengan bumbunya tiga jam, sambil dicek bagian yang sudah empuk dipisahkan. Bila sudah empuk semua dagingnya, keesokan harinya mulai kembali dimasak dan disempurnakan rasanya.

Jam 06.00 WIB soto siap dijual. Hanya sekitar 6 jam saja biasanya soto habis terjual. “Saya tetap menggunakan bahan dan cara memasak seperti awal soto ini dijual 77 tahun lalu, sehingga rasa tetap terjaga,” kata Endang saat peserta Famtrip Fowarparekraf menyambangi warungnya, Kamis (29/10).

Tak heran para tokoh seperti bupati bahkan menteri pun pernah makan disini. Meski tempatnya sederhana tapi justru banyak orang yang tetap setia ke warung ini. (son)

Mission News Theme by Compete Themes.