Press "Enter" to skip to content

Dampak Pandemi Covid-19, Industri Manufaktur Berharap Tersentuh Relaksasi

Media Social Share

BISNISJAKARTA.ID. JAKARTA – Pandemi Covid-19 telah memporak-porandakan pondasi ekonomi nasional. Dampaknya terasa pada semua sektor tak terkecuali di sektor manufaktur. Atas berbagai permasalahan ini, dibutuhkan adanya insentif dan relaksasi serta berbagai kelonggaran, karena industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) di tanah air masih sangat berpotensi untuk kembali bangkit dan kembali berkembang. Demikian terungkap dalam Webinar Nasional Setelah Setahun Pandemi Covid-19 – INDONESIA SEHAT dan MAJU – Kebangkitan Ekonomi Pascapandem yang digelar di Jakarta, Rabu (10/3).

Webinar yang digagas Syndicate Forum itu menghadirkan sejumlah narasumber antara lain Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jemmy Kartiwa Sastraatmadja, Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Aria Bima, Rektor Unika Atma Jaya Jakarta Dr. A. Prasetyantoko, CEO PT Bogasari Flour Mills Franciscus Welirang, dan sebagai Key-note SpeakerSekretaris Eksekutif I Komite Penanganan Covid-19 Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC-PEN) Raden Pardede PhD.

Jemmy membawakan sub-segmen Prospektus Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) dalam Menunjang Kebangkitan Ekonomi Nasional mengatakan, narasi kebangkitan ini penting karena selama pandemi TPT termasuk salah satu sektor industri manufaktur yang sangat terpukul, padahal industri ini memiliki rentang hulu-hilir yang panjang dan mampu menyerap banyak tenaga kerja dan melakukan padat karya.

Untuk menunjang kebangkitan industri TPT, jelas Jemmy, sangat disayangkan bahwa masih adanya ganjalan besar yang harus dihadapi oleh pelaku industri, salah satunya adalah masalah sulitnya akses permodalan.  

Hal ini, kata dia, menambah panjang deretan permasalahan yang dihadapi setelah terjadinya banyak penundaan kontrak dan pembayaran, kenaikan harga bahan baku, nilai tukar yang bergejolak, kesulitan transportasi logistik selama pandemi, pengurangan pegawai, pembatasan jam operasional, hingga kenaikan biaya pengapalan dan masih banyak lagi lainnya.

Meski industri TPT sempat mengalai perlambatan pertumbuhan yang disebabkan oleh berhentinya kegiatan perdagangan di dalam dan luar negeri karena pandemi Covid-19, Jemmy mengatakan, saat ini industri TPT mulai bangkit, terbukti dengan meningkatnya utilisasi, penyerapan tenaga kerja, serta peningkatan PMI industri manufaktur.

Ia juga mengungkapkan, kebijakan PPKM Mikro menjadi ancaman lain karena pembatasan jam buka peritel dibatasi sehingga otomatis membatasi akses konsumen. “Industri TPT mengharapkan adanya pelonggaran PPKM Mikro agar dapat member lebih banyak ruang untuk percepatan pemulihan ekonomi nasional;” jelas Jemmy.

Untuk mengatasi persoalan industri ini, Jemmy juga menandaskan pentingnya inovasi agar IKM lebih mudah dijangkau masyarakat. “Solusinya bisa dilakukan melalui pemberdayaan dan digitalisasi IKM melalui sinergi antara pemerintah, lembaga perbankan, dan para pelaku industri,” kata Jemmy.

Melalui digitalisasi IKM ini, industri berkesempatan untuk membantu secara signifikan dalam memberdayakan ekonomi masyarakat, dalam kemudahan pemberian modal kerja yang terkontrol, serta dalam meningkatkan kepatuhan terhadap perpajakan.

Bagi industri, digitalisasi sangat membantu penyerapan hasil produksi dalam negeri dan untuk peningkatan daya saing produk TPT Indonesia di luar negeri.

Sementara bagi perbankan, melalui digitalisasi ini, mereka juga bisa memberikan modal kerja yang tepat sasaran sekaligus menjadikan IKM bankable, sehingga bisa melepaskan IKM dari jerat rentenir.

Selain melalui program digitalisasi, menurut Jemmy, program pemberdayaan juga bisa dilakukan melalui optimalisasi penggunaan non-tariff measures (NTMs).

Atas permasalahan yang ada, ia berharap pemerintah bisa memberikan bantuan kebijakan melalui skema pembiayaan perbankan, kelonggaran-kelonggaran dan insentif yang diperlukan sebagai stimulus untuk mendorong pemulihan dan utilisasi industri TPT. (son)

 

 

Mission News Theme by Compete Themes.