ENTAH disengaja atau tidak, semua tindakan pasti terselip maksud baik di dalamnya. Termasuk perlakuan acuh membiarkan jalan rusak tanpa adanya perbaikan.
Memang, bicara soal jalan rusak yang ada di negara ini kayak nggak ada selesainya. Lha gimana mau selesai kalau ada kejadian baru selesai diperbaiki tapi sebulan kemudian rusak lagi.
Model jalan yang amburadul lantas sukses bikin yang lewat mengelus dada dan sedikit sambat karena “kaki-kaki” kendaraannya makin cepat rusak gara-gara jalanan tersebut.
Namun, pembiaran yang terjadi agaknya ada maksud baiknya bila ditelaah lebih “guyon” lagi, seperti jalan Trans Subur hingga Lakitan, yang konon katanya itu masuk katagori jalan provinsi. Apalagi jika dilihat secara saksama dan sesingkat kenangan bersama mantan, tentu kelewat asyik untuk direnungkan.
Dan, sampai di ujung kontemplasi, saya mengambil sisi baik di balik tak kunjung diperbaikinya jalan Trans Subur yang rusak parah tapi tak kunjung diperbaiki, seperti :
Langkah Preventif
Kondisi jalan Trans Subur hingga Lakitan jelas terlihat seperti belum tersentuh kata pembangunan. Bisa jadi hal ini sebagai langkah preventif terhadap makin masifnya ‘balap liar’. Sebab, jalan mulus dan lurus menjadi idaman pelaku ‘balap liar’.
Mungkin ini yang ada dipikiran yang punya wewenang memperbaiki. Seperti sudah banyak diketahui juga, hadirnya ‘balap liar’ sungguh mengkhawatirkan bukan saja untuk yang balapan tapi pengguna jalan yang lain merasa terancam.
Pelbagai cara untuk menuntaskan balap liar sudah dicoba. Dan mungkin saja, tak kunjung dilakukannya perbaikan jalan adalah salah satu cara yang dicoba. Kalau jalan rusak nggak segera diperbaiki, kan nggak ada tuh balap liar.
Melatih Skill Berkendara
Melewati jalanan rusak butuh effort dan kehati-hatian lebih juga. Tanyakan saja sama orang yang suka offroad. Pasti mereka menjawab selaras betapa melelahkan melewati jalanan tanpa aspal dan tak beraturan tesebut, tapi di sisi lain skill berkendara mereka bisa makin lihai. Mungkin hal tersebut yang ingin ditumbuhkan dari nggak diperbaikinya jalan Trans Subur yang rusak itu.
Yups, saya rasa semakin sering melewati jalan rusak, apalagi rusak parah seperti jalur offroad, skill berkendara jadi makin jago. Bakal tahu betul bagaimana memilih sisi jalan biar ban nggak nyangkut, pun tahu memutir grip gas yang pas biar nggak jatuh kelabakan.
Skill menekan rem depan dan belakang akan makin terasah. Saking jagonya melakukan pengereman, fitur ABS di motor-motor sekarang bakal nggak begitu dibutuhkan lagi.
Memaksa Pengendara Lebih Pelan
Jalanan mulus secara nggak langsung bikin orang-orang pengin ngebut, satset waswus salip sana-sini pas naik kendaraan. Istilah anak sekarang kalau naik motor kudu speeding, cornering ala motoGP.
Beda cerita kalau jalanannya pada rusak. Anak muda yang mau kebut-kebut pasti mikir-mikir. Riskan kalau dipaksakan ngebut, bukan saja bahaya bagi pengendara tapi buat motornya juga.
Tentu saja, motor jadi rentan rusak, terutama kaki-kaki. Tiap panel bodi bakal mengeluarkan suara getar sampai mesin rawan jebol kalau terus-terusan dibawa kebut-kebutan.
Sekiranya orang-orang yang paham ngebut di jalan rusak sama saja kayak mempercepat kunjungan ke akhirat. Mau nggak mau pengendara bakal memelankan kendaraannya. Pokoknya jargon alon-alon asal kelakon jadi bergema di tengah lubang jalan yang terus menganga.
Pun, berkendara itu enaknya santai, pelan-pelan sambil menikmati perjalanan. Cara berkendara yang santai bikin parts motor juga makin awet.
Jalanan rusak yang terus dibiarkan tanpa adanya perbaikan serius, sedikit banyak memiliki maksud baik. So, nggak perlu sambat lagi saat jalan-jalan di sekitar Anda rusak parah dan tak kunjung dibenerin. Hal tersebut memang disengaja oleh orang-orang yang punya wewenang di atas pundaknya.
Jika saja Gubernur Sumatra Selatan Herman Deru ingin deru kendaraan makin lancar, perekonomian masyarakat meningkat – sebagai gubernur terkaya kedua di republik ini, tentu tak sulit mencairkan sebagian dari kekayaannya untuk menyiram sedikit aspal pada jalan poros Karang Dapo – Muara Lakitan.
Sedekah, pahalanya besar pak gub … !










