Press "Enter" to skip to content

Drs. H. Nikson : Saatnya Wujudkan Keadilan Bagi Seluruh Warga Karang Dapo

Media Social Share

TERLAHIR sebagai yatim menjadikan balita ini tumbuh tak sewajarnya. Pertumbuhan fisik tak dibarengi dengan gizi yang seimbang serta tak adanya akses dan fasilitas kesehatan ketika itu, menjadikan budak ini tak terlihat sebagai manusia normal.

Belum lagi genap lima tahun, bocah ini harus terpisah dengan umaknya, karena sebagai orang tua tunggal – wajib untuk menghidupi enam anak-anaknya dengan cara mantang di talang Sungai Putih, 25 kilometer dari Desa Karang Dapo.

Adalah Nikson Hear nama yang disematkan orang tuanya. Belakangan diketahui, nama itu diadopsi dari nama mantan Presiden Amerika Serikat, Richard Nixon. Hanya saja, nama yang didengar melalui siaran radio itu menjadi Nikson Hear, mendengar nama Richard Nixon.

Tentu saja, nama yang disematkan  kedua orang tuanya itu berharap kelak menjadi seorang presiden. Tapi nasibnya belum beruntung, karena yang terjadi – budak itu – hanya bisa leluasa memasuki istana presiden dan sebatas berinteraksi dengan beberapa presiden serta para menterinya.

Getir kehidupan balita yatim itu menjadikan motivasi Drs. H. Nikson untuk kembali ke daerah asalnya, berharap bisa mengabdi bersama masyarakat membangun tanah kelahirannya yang indah dan permai.

Hal itu didasari keprihatinan setelah ‘ditinggal pergi’ sejak 1981, dusun Karang Dapo tak banyak berubah. Ekonomi masyarakat, meski bergerak tetapi jalannya tertatih-tatih. Ini semua bermula dari hilangnya sumber pendapatan akibat klaim rezim yang tak kuasa dilawan.

Puluhan tahun membuka ladang di Talang Suban atau Beriding – pada akhirnya puluhan hektar pula lahan yang ditanam pohon karet itu kini tak lagi berbekas, akibat arogansi penguasa orde baru yang merampas hak-hak rakyat untuk dijadikan lokasi transmigran.

Belum hilang getir warga atas kehilangan puluhan hektar lahan kebon karet, dan masuknya investor kelapa sawit dengan dalil pola kemitraannya, telah menimbulkan konflik sosial dan horizontal yang seakan tak berujung, lantaran izin hak guna usaha yang dikantongi investor tak transparan, sehingga lahan milik warga dicaplok tanpa kuasa untuk melawan. Sejumlah contoh, warga yang coba melawan harus berakhir di balik jeruji besi.


Usaha untuk membuat segalanya menjadi terang, dan berbekal pengalaman sebagai wartawan dengan jangkauan liputan dalam dan luar negeri, hingga tercatat sebagai salah satu wartawan di istana kepresidenan, dan satu-satunya orang Musi Rawas Utara (Muratara) Sumatra Selatan yang leluasa memasuki kompleks Istana Kepresidenan – akan menjadi bekal Nikson mewujudkan tekad terciptanya keadilan dan pemerataan kesejahteraan masyarakat Karang Dapo, Insya Allah.

Panggilan untuk mengabdi di tanah kelahirannya begitu kuat dan dengan bekal keanggotaan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerinda), menjadi pintu masuk untuk pengabdian panjang bagi daerah asalnya.

Realitas tersebut akan mudah terwujud jika ada dukungan dari masyarakat Karang Dapo. Facebook : Nikson Karang Dapo, IG :  Nikson_Budak Rawas. (son)

Mission News Theme by Compete Themes.