Press "Enter" to skip to content

Tlilir Art and Culture Festival, From Village to The World

Media Social Share

TEMANGGUNG, BISNISJAKARTA.ID – Desa wisata Kampung Mbako menjadi salah destinasi wisata unik yang ada di kaki gunung Sindoro atau tepatnya di Desa Tlilir, Kecamatan Tlogomulyo, Kabupaten Temanggung. Meski berada di ketinggian antara 1.700 mdpl, suhu udaranya tidak terlalu ekstrim seperti di dataran tinggi Dieng.

Menyambangi Kampung Mbako Tlilir, wisatawan akan menemukan keramahan khas warga kaki gunung yang santun dan melayani. Di kampung ini pun wisatawan dapat belajar banyak hal tentang tembakau, bahkan dapat melihat secara langsung tembakau Srintil yang tidak dapat tumbuh di semua wilayah di Temanggung. Dan tembakau Srintil ini menjadi ciri khas Desa Tlilir.

Yang paling berkesan adalah, wisatawan dapat live in di Kampung Mbako. Konsep Homestay sesungguhnya yang berbaur dengan pemilik rumah, kemudian ngobrol banyak hal tentang seni budaya dan tradisi tembakau dengan melinting tembakau menjadi ciri khasnya.

Berbagai keunikan itulah yang coba dilengkapi Pemkab Temanggung dengan gelaran event 1st Tlilir Art and Culture Festival, 1 – 3 September 2023. Hallmark event yang mengangkat tema From Village to The World dengan latar belakang view Puncak Gunung Sumbing itupun berlangsung sukses.

Event Tlilir Art & Culture Festival ini menarasikan Tlilir : Tembakau, Tradisi dan Takdir, serta mengampanyekan ‘Sustainability & Eco-Friendly Event’. Dimana dalam penyelenggaraan event ini seluruhnya menggunakan material dari bamboo.

Kepala Biro Komunikasi Publik Kemenparekraf/Baparekraf, I Gusti Ayu Dewi Hendriyani mwngatakan, event seperti festival budaya merupakan bagian dari 3A (Akses, Atraksi, Amenitas) dan menjadi unsur penting untuk memajukan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Indonesia.

Dia juga menilai, event festival Tlilir sebagai wujud inovasi dan adaptasi terhadap tren perubahan sikap wisatawan pascapandemi dalam berwisata yang bersifat personalize, customize, localize dan smaller in size. “Wisatawan pascapandemi cenderung lebih menyukai aktivitas pariwisata luar ruangan atau outdoor dan suasana di Tlilir cocok untuk pengembangan desa berbasis ecotourism,” tuturnya.

Dewi menambahkan, Kemenparekraf mengapresiasi dan mendorong keberlanjutan event Tlilir Art & Culture Festival serta mengajak seluruh stakeholders pariwisata untuk berkolaborasi. “Kami berharap festival ini berkelanjutan sehingga bisa menjadi event tahunan di Jawa Tengah dan khususnya di Temanggung, serta bisa mendatangkan banyak pengunjung dari berbagai daerah. Sehingga, pada akhirnya akan bisa mendukung pencapaian target 1,2-1,4 miliar pergerakan wisnus di 2023,” paparnya.

Fungsional Adiatama Kepariwisataan dan Ekraf (Sukor Pemasaran Wisata Din Budpar Kabupaten Tamanggung) Siti Kumalasari saat menerima wartawan anggota Forwaparekraf yang melaksanakan Famtrip mengatakan, ada beberapa event pendukung dalam gelaran tahun pertama ini.

Tlilir Art and Culture Festival menghadirkan konser musik etnik dengan line up; Irene Ghea x Arlida Putri, Orkes Sinten Remen, dan Jogja Hip Hop Foundation.

Hadir juga outdoor fashion show dari fashion designer nasional dan lokal yang mengangkat tema ordinary traveling, dengan latar belakang puncak Gunung Sumbing.

Yang menarik dari hallmark event ini adalah digelar dari Desa penghasil tembakau terbaik di dunia dengan nama Tembakau Srintil. Kemudian diselenggarakan di bawah lereng Gunung Sumbing, di atas ketinggian 1.100 mdpl, dan tempat penyelenggaraannya di atap rumah warga. (son)

Mission News Theme by Compete Themes.