JAKARTA, BISNISJAKARTA.ID – INACA minta Pemerintah atau Dirjen Perhubungan Kementerian Perhubungan untuk melakukan penyesuaian fuel surcharge secara fleksibel, tidak mengikuti waktu 60 hari seperti tertuang pada KM 83 tahun 2026, tetapi mengikuti pergerakan harga avtur yang dirilis Pertamina. Demikian disampaikan Ketua Umum INACA, Denon Prawiraatmadja dalam keterangan pers yang diterima di Jakarta, Selasa (5/5).
Sebelumnya, harga bahan bakar pesawat (avtur) per tanggal 1 Mei 2026 dari Pertamina kembali naik, seperti misalnya di Bandara Soekarno-Hatta pada periode 1-31 Mei 2026 sebesar Rp.27.358,- per liter, naik 16% dari periode tanggal 1-30 April 2026 yang sebesar 23.551,- per liter.
Begitu pula kurs 1 USD per tanggal 4 Mei 2026 adalah Rp.17.425,- atau naik 2,5% dibanding tanggal 1 April 2025 yang sebesar Rp17.017,-
Denon mengatakan, masih belum meredanya konflik geopolitik di Timur Tengah mempengaruhi industri penerbangan secara global dan nasional.
Oleh karena itu, INACA minta pemerintah mempertimbangkan kembali untuk merevisi kesepakatan penundaan pembahasan Tarif Batas Atas (TBA), dan segera melakukan pembahasan revisi Tarif Batas Atas (TBA) penerbangan rute domestik kelas ekonomi secara fleksibel mengikuti kenaikan harga avtur dan kenaikan kurs USD terhadap Rupiah.
INACA mendorong Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan untuk meningkatkan koordinasi secara lebih intensif dengan Kementerian Perindustrian dan Kementerian Keuangan dalam hal mempercepat pelaksanaan kebijakan memberikan Bea Masuk 0% untuk sparepart pesawat.
Permintaan kepada Pemerintah tersebut, kata Denon, disampaikan mengingat kondisi finansial maskapai penerbangan yang kembali tertekan dengan adanya kenaikan harga avtur dan kurs USD sehingga dapat mengganggu konektivitas perhubungan udara, sektor – sektor terkait penerbangan dan perekonomian nasional. (son)










