Press "Enter" to skip to content

Ironi, Ikon Karang Dapo Itu ‘Bertabur’ Sampah

Media Social Share

KARANG DAPO, BISNISJAKARTA.ID – Persoalan sampah tak hanya dihadapi kota-kota besar. Desa Karang Dapo yang berpenduduk tak lebih dari seribu jiwa itu bisa menghasilkan banyak sampah. Ironisnya, sebagian sampah itu dibuang di lingkungan jembatan gantung, yang merupakan ikon Desa Karang Dapo itu.

Padahal sebagai destinasi wisata yang instagramble, jembatan yang merupakan salah satu jembatan gantung terpanjang di negeri ini, haruslah ditata dengan apik agar minat orang yang berkunjung makin banyak, dan tak terganggu dengan aroma tak sedap dari sampah-sampah yang berserakan itu.

Jembatan yang dibangun belum genap dua tahun itu, kini mulai rusak. Pipa besi yang dijadikan pengaman agar pengunjung aman dan tak terjatuh saat melintas, pada beberapa bagian sudah hilang, mungkin dicuri.

Harga besi kiloan yang mahal agaknya menjadi ancaman bagi eksistensi jembatan gantung yang seluruh bagian bangunannya menggunakan besi dan plat atau lempengan baja. Bahkan lempengan baja yang menjadi lantai jembatan akan cepat korosi apabila tidak dilakukan perawatan secara rutin.

Oleh karena itu, saatnya warga sekitar dan masyarakat Karang Dapo peduli dengan bangunan monumental ini. Bukan karena pembangunannya yang menguras biaya yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang notabane uang rakyat, tapi fungsinya kini sangat diperlukan sebagai sarana mobilitas masyarakat Karang Dapo.

Kades Karang Dapo I Kecamatan Katang Dapo Kabupaten Muratara  Junsi Rosyadi prihatin melihat kondisi tersebut. Menurut Kades, upaya yang dilakukan dengan cara menghimbau warga agar tak membuang sampah di situ sudah dilakukan berulang kali. Bahkan plang larangan buang sampah sudah beberapa kali dipasang, pada akhirnya hilang juga.

Ia berharap tumbuh kesadaran warga untuk menjaga lingkungan agar tetap bersih dan rapi dengan tidak membuang sampah sembarangan. Banyak opsi untuk hal itu, seperti dengan cara dibakar di sekitar rumah masing-masing.

Akan halnya banyaknya pipa pagar jembatan yang hilang, Kades berharap, masyarakat ikut menjaga aset daerah ini dengan cara saling mengingatkan dan tumbuhnya rasa memiliki. “Kalau kita merasa memiliki, tentu tumbuh rasa untuk menjaga agar jembatan gantung itu tetap dalam kondisi baik dan aman dilalui,” paparnya.

Sementara itu, beberapa tokoh masyarakt setempat mendorong Kades Karang Dapo mencari lahan yang bisa dijadikan Tempat Pembungan Akhir (TPA) Sampah. Lewat Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) Desa, Kepala Desa dapat saja mengajukan anggaran pembangunan TPA kepada Pemkab Muratara. “Opsi lainnya dapat menggunakan Dana Desa,” katanya, tanpa menyebut nama. (son)

More from KESEHATANMore posts in KESEHATAN »
Mission News Theme by Compete Themes.