Press "Enter" to skip to content

Menuju Sejuta Barel Sehari, SKK Migas Siapkan Lima Strategi

Media Social Share

JAKARTA, BISNISJAKARTA.ID – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) telah menyiapkan lima strategi utama untuk memenuhi target produksi satu juta barel sehari. Demikian dikatakan Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto di Jakarta, Rabu (17/8).

Lima strategi dimaksud, ungkapk Dwi, yaitu optimalisasi produksi lapangan existing, transformasi sumber daya contingent ke produksi, mempercepat chemical enhanced oil recovery (EOR), menggalakkan kegiatan eksplorasi migas; dan mempercepat peningkatan regulasi melalui one door service policy (ODSP) dan insentif hulu migas.

Komitmen untuk mencapai target tersebut telah ditunjukkan dengan program kerja tahun 2022 yang masif dan agresif, dengan beberapa aktivitas hulu migas melampaui sebelum adanya pandemi Covid-19. “Semangat melakukan kegiatan extra ordinary meskipun masih dalam situasi pandemi Covid-19, ditunjukkan industri hulu migas dengan program pengeboran sumur pengembangan yang sangat agresif dan masif. Hingga 31 Juli, jumlah sumur yang dibor telah terealisasi 419 sumur pengembangan, atau hampir 2 (dua) kali lipat dari pemboran pada Juli 2021 yang mencapai 220 sumur 190%,” kata Dwi Soetjipto.

Dwi menambahkan, terdapat sejumlah indikator kinerja industri hulu migas yang menunjukkan hasil yang menggembirakan, antara lain: reserve replacement ratio(RRR) mencapai 79% dari target 100% dengan penambahan cadangan selama periode in adalah sebesar 501,5 juta barrel minyak ekuivalen (MMBOE), dengan komitmen investasi mencapai US$ 9,6 Milyar atau sebesar Rp. 139 triliun. “Pada saat situsi perekonomian belum sepenuhnya pulih, kontribusi hulu migas bagi penerimaan negara sangat dirasakan , yang sampai Juli 2022 sudah mencapai US$ 11,05 miliar atau sekitar Rp 160 triliun. Capaian ini adalah sebesar 111% dari target APBN sebesar US$ 9,95 Miliar,  atau 66,1% dari target APBN-P 2022 sebesar US$ 16.7 miliar”, imbuh Dwi.

 

Ia mengatakan, industri hulu migas berhasil menjaga operasional secara efisien sehingga berdampak pada terjaganya biaya cost recovery sebesar US$ 3.88 Miliar atau 44.8% dari ketetapan APBN sebesar US$ 8,65 miliar. “Hal ini tentu memberikan kontribusi pada penerimaan negara yang menjadi lebih optimal”, ujar Dwi.

Untuk menjaga kehandalan operasional hulu migas guna mencapai target tahun ini dan menjadi pondasi bagi peningkatan produksi jangka panjang, SKK Migas dan KKKS telah melakukan upaya untuk meningkatkan pengeboran sumur, workover & well service. Kemudian mengurangi unplanned shutdown, mempercepat proyek on stream dan mempercepat program filling the gap. Langkah lainnya adalah melakukan strategic alliance: no cure no pay & new KSO, serta percepatan komersialisasi gas.

Industri hulu migas mendukung sepenuhnya target net zero emission yang telah dicanangkan Pemerintah untuk membebaskan Indonesia dari emisi karbon di tahun 2060. Dwi mengatakan bahwa hulu migas telah mengurangi emisi dalam operasional, zero flaring, CCUS, dan lainnya. Komitmen lainnya adalah dengan menargetkan penanaman pohon yang untuk tahun ini mencapai 1,7 Juta Pohon dengan realisasi hingga bulan Juli mencapai 538 Ribu. “Kami menyadari, bahwa hulu migas yang sudah mencapai 71 tahun memberikan kontribusi dalam pembangunan nasional sejak berproduksi pertama kali di tahun 1951 perannnya akan semakin dibutuhkan untuk mengantarkan bangsa Indonesia menuju fase pembangunan berikutnya yang tanpa emisi karbon. Oleh karena itu, perjalanan industri hulu migas kedepannya masih sangat dibutuhkan. Maka,  target 1 juta barel dan 12 BSCFD adalah ladang perjuangan bagi insan hulu migas untuk meneruska cita-cita para pahlawan kemerdekaan,” terang Dwi. (son)

Mission News Theme by Compete Themes.