Press "Enter" to skip to content

JCH, Pionir Coffee Shop di Jakarta yang Terus Berkembang di Tengah Pandemi Covid-19

Media Social Share

JAKARTA, BISNISJAKARTA.ID – Borie atau bernama lengkap Muhammad Buchari mendirikan Jakarta Coffee House (JCH) sejak 11 tahun silam, di kawasan Cipete Jakarta Selatan. JCH menyajikan biji kopi lokal dengan kualitas terbaik kepada para penikmat kopi.

Konsep JCH yang dibangun Borie  adalah sebuah factory dan warehouse. Borie ingin memasok biji kopi yang didapatkan dari petani yang dikenalnya, ke seluruh café dan coffee shop di Jakarta. “Namun, dalam prosesnya tentu harus ada pembuktian tentang kualitas biji kopi yang akan dipasok sehingga factory sebagian diubah menjadi coffee shop,” tutur Borie.

JCH juga diarahkan Borie menjadi tempat edukasi dan pelatihan bagi para barista dan pemilik café dan coffee shop untuk belajar mengenai kopi serta menjadi tempat konsultasi bagi café dan coffee shop yang memakai produk dari JCH.

Dari awal JCH didirikan sampai sekarang, pelanggannya masih yang itu-itu juga. Dari mereka SMA, kuliah dan kini menikah dan punya anak.

Mempresentasikan Kopi di Luar Negeri

Sebelum mendirikan JCH, Borie telah lebih dulu berkarier di dunia kopi selama lebih dari 20 tahun. “Saya punya visi memajukan perkopian Indonesia sekaligus berharap agar masyarakat Indonesia juga bisa menikmati kopi asal Indonesia. Kopi Indonesia apapun jenisnya adalah kopi terenak di dunia,” ungkap Borie  bersemangat.

Dengan pengalaman panjangnya di dunia kopi, Borie sempat diundang dan diajak Kementerian Pariwisata dan Kementerian Perdagangan untuk memperkenalkan kopi Indonesia  ke banyak negara pada periode 2019-2020. “Kami baru sempat jalan ke delapan negara. Terakhir ke Belgia dan Turki, namun kemudian masuk masa pandemi. Di April 2020 kegiatan terpaksa terhenti. Kedengarannnya mau dimulai lagi nih. tahun ini,” ungkap Borie.

Dalam perjalanan keliling dunia itu, JCH mengaku sempat melakukan uji coba pada kopi orang luar yang kurang enak. “Tetapi saya presentasikan dengan cara saya. Dan mereka sangat exicted

dengan hasilnya. Padahal kopinya sama, ya kopi dia juga. Hanya beda  roasting profile saja. Kunci dalam me-roasting itu kan sederhana. Jangan sampai hangus!”  kata Borie membocorkan rahasia kecilnya.

Bangkit Melorot, dan Bangkit Lagi

JCH pertama dibangun tahun 2011 di  Jalan Cipete Raya No 2, Jakarta Selatan. “Saking lamanya JCH ada di situ, banyak orang mikir tempat itu rumah saya. Padahal di situ saya masih ngontrak,” ungkap  Borie tergelak.

Sebelum pandemi, menurut Borie sebetulnya jumlah gerai cabang JCH yang dimilikinya sempat mencapai 18 outlet. Ini tersebar di Jakarta. “Selama dua-tiga tahun kita pademi, terpaksa 8 outlet ditutup. Sisanya masih 10. Tapi sekarang baru bangkit satu outlet. Berarti sekarang ada 11 yang beroperasi,” jelas Borie.

Secara pribadi, Borie menyebut, ia tidak bisa membangun JCH di Bandung. Ini gara-gara ada kata “Jakarta” pada Coffee Housenya. “Ini sesungguhnya  bukan karena soal apa-apa. Ini erat terkait dengan sepakbola. Gue bisa dihajar Persib nanti. Begitu juga dengan di Surabaya, akan berlawanan langsung dengan Bonek. Lokasi awal di Surabaya malah di kawasan Bonek, dan sekarang sudah kita pindahin!” katanya serius.

Dari 11 Outlet yang aktif beroperasi,  Borie menyebut outlet di kawasan Cipete  Jakarta Selatan dan Wahid Hasyim  di Jakarta Pusat lah yang  sangat padat dikunjungi konsumen di saat weekends. “Outlet di Wahid Hasyim bisa dikunjungi sampai 300 orang. Mungkin karena banyak rombongan bersepeda yang mampir ke sini. Dan kami  buka dari  pukul 06.00 pagi di sini!”

Luxury Coffee House

Borie menyebut banyak  kesan dan pengalaman   yang dihadapinya sepanjang  11 tahun membangun JCH.

Dalam mengembangkan JCH ke  masa depan,  Borie tidak akan berkonsentrasi untuk mengembangkan Jakarta Coffee House  di kategori luxury seperti yang dibangunnya di Menteng, Jakarta Pusat, dekat dengan kantor Kedutaan negara sahabat. Kalau outet luxury,  artinya harga harus beda dari outlet lain. Konsumen malah complaint kalau  harganya disamain,” kata Borie.

Bukan hanya harga kopi yang jadi soal,  namun interior  café, sampai tempat parkir bahkan tukang parkirpun harus terlihat eksklusif. “Jadi saya pikir, saya  akan berkonsentrasi di kelas menengah aja. Kelas ini lebih dekat dengan saya,“ kata Borie.

Borie mengaku banyak suka duka yang dialami dalam membangun JCH. Dan yang paling mengesankannya adalah saat  Borie harus mengusir  orang asing dari kedainya di Cipete. “Setiap datang, dia selalu bawa bir. Sempat saya ajak ngobrol baik-baik. Kalau dia bawa air mineral masih  bisa saya terima.  Tapi karena tetap ngeyel, ya lebih baik saya usir,” paparnya.

Pengalaman berkesan kedua adalah saat  di outlet Wahid Hasyim ramai dikunjungi para pesepeda. Sementara ada pelanggan warga negara Dubai  merasa  kurang nyaman dengan keramaian di situ. Ia langsung mengadu  ke hotline pengaduan Gubernur. “Hari berikutnya kami didatangi satpol PP. Kebetulan, masih masa PPKM, sih. Akhirnya,  kami harus tutup seminggu. Padahal keramaiannya terjadi di parkiran, bukan dalam ruangan JCH!” ungkap Bori yang masih punya impian besar, yakni  Membangung JCH di New York. (son)

Mission News Theme by Compete Themes.