Press "Enter" to skip to content

Lewat Mangkuk Bakso, Bejo Merajut Mimpi Meraup Cuan 

Media Social Share

JAKARTA, BISNISJAKARTA.ID – Dirasakan dunia jurnalistik tidak lagi prospektif, Djauhari Effendi yang akrab disapa Bejo buru-buru alih profesi dengan memulai bisnis kuliner. Pilihannya jatuh pada sesuatu yang begitu akrab di lidah masyarakat Indonesia, yaitu bakso.

Tapi ini bukan sekadar bakso biasa. Ini adalah bakso tanpa bahan pengawet, buatan tangan, hasil dari kerja keras dan ketekunan yang tak sebentar.

Keputusan untuk meninggalkan dunia kewartawanan bukanlah hal mudah. Bersama sahabatnya – Pradityo Aribowo yang biasa dipanggil Adit – pilihan bisnis bakso bukan tanpa alasan. Adit yang berasal dari Wonogiri, tanah yang dikenal luas sebagai Kota Bakso, memiliki sertifikasi untuk bisnis usaha butiran-butiran daging itu.

Tapi meskipun mempunyai darah Wonogiri, Adit memulai semuanya dari nol. Adit belajar langsung dari Pakde Yanto, seorang perajin bakso senior di Bekasi. Hari demi hari dihabiskan untuk mengolah, mencampur, menggiling, membentuk. Berkali-kali gagal, berkali-kali mengulang.

Sampai akhirnya, datang pengakuan yang ditunggu-tunggu, yaitu Pakde Yanto menyatakan Adit berhasil.

Keberhasilan melalui ‘kursus’ itu, lahir produk pertama mereka, bakso frozen. Tak disangka, sambutan pasar sangat positif. Permintaan datang bertubi-tubi, dan Bejo pun mantap melangkah lebih jauh.

Bersama Adit, mereka membuka dua warung bakso dengan nama Abang Bakso Wonogiri. Warung pertama berdiri di kawasan Depok 2 Timur, Jalan Keadilan Raya, Pasar Musi. Yang kedua, tak tanggung-tanggung, bertempat di kantin Smesco Indonesia, Jl Gatot Subroto Kav 94, Jakarta.

Dengan modal awal sekitar Rp 150 juta, mereka mencoba menembus kerasnya persaingan dunia usaha kuliner. Tapi perjuangan itu bukan tanpa rintangan.

Lokasi yang berada di jalur cepat membuat pelanggan kesulitan untuk berhenti. Penjualan naik-turun. Ada masa surut yang membuat mereka nyaris goyah.

Namun Bejo bukan tipe orang yang mudah menyerah. Bisnis mereka bertahan, bahkan kini telah memasuki tahun ketiga. Perlahan tapi pasti, semangkuk bakso yang mereka sajikan tak hanya menjadi sumber nafkah, tapi juga wujud harapan. Pelanggan pun bukan orang sembarangan.

Mereka adalah Teten Masduki, serta Menteri UMKM, Maman Abdurrahman, bahkan menjadi pelanggan tetap. “Kami masih menerima order dari Pak Maman. Teten Masduki juga suka pesan bakso,” ujar Bejo dengan senyum yang sulit disembunyikan.

Selain pesanan dari tokoh nasional, Bejo dan Adit juga melayani permintaan bakso frozen dan katering pernikahan serta berbagai acara dan hajatan minimal 50 porsi.

Setiap pesanan sekecil apa pun, mereka melayani dengan hati. Karena bagi mereka, ini bukan sekadar jualan bakso. Ini adalah kisah perjuangan.

Kisah seorang wartawan yang menemukan kehidupan baru, dari balik kepulan kuah hangat dan aroma daging yang menggoda.

Sebuah cerita bahwa tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai lagi. Bahwa dari semangkuk bakso pun, harapan bisa lahir kembali. (son)

 

 

Mission News Theme by Compete Themes.