BISNISJAKARTA.ID. JAKARTA – Direktur Consumer dan Commercial Lending Bank Tabungan Negara (BTN) Hirwandi Gafar mengungkapkan, jumlah portofolio Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Bank Tabungan Negara (BTN) hingga September 2020 mencapai Rp196,51 triliun atau setara 1,7 juta unit rumah. Jumlah itu terdiri dari Rp116,32 triliun KPR Subsidi dan Rp80,19 triliun KPR non-subsidi. Hal tersebut diungkapkan Hirwandi saat Webinar Urban Forum Outlook Property & Banking 2021 di Jakarta, Kamis (12/11).
Webinar bertajuk Siasat Industri Menghalau Gempuran Corona yang ditayangkan melalui Zoom meeting dan live streaming di Youtube urbancity.id tersebut menampilkan sejumlah pembicara. Selain Hirwandi, juga tampil Ketua Umum DPP Apersi Junaidi Abdillah, Direktur Utama TMA Group Tuti Mugiastuti, Direktur Marketing PT Alsun Suksesindo Nicolas Kesumadan, dan Pengamat Properti Ali Tranghanda.
Dari portofolio tersebut, menurut Hirwandi, perseroan menguasai pangsa pasar sebesar 40%. Pada segmen KPR bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), BTN memiliki market share terbesar yaitu 89%.
Hirwandi mengatakan pandemi Covid-19 memberikan dampak terhadap realisasi KPR memasuki kuartal II/2020. Namun, memasuki kuartal III/2020 realisasi KPR mulai meningkat.
Kredit di sektor perumahan memang mulai menunjukkan pertumbuhan setelah sempat menurun karena terdampak pandemi Covid-19. “Mungkin November akan lebih baik, tetapi Desember penuh tantangan karena hanya ada 23 hari kerja,” katanya.
Adapun tahun 2021, Hirwandi mengatakan, BTN memproyeksikan penyaluran KPR bakal lebih tinggi. Optimisme ini didorong sejumlah faktor di antaranya anggaran FLPP meningkat menjadi Rp16,63 triliun untuk 157.500 rumah pada 2021.
Selain itu, proyeksi pertumbuhan ekonomi 2021 diperkirakan di kisaran 4,5% hingga 5,5%. Selain itu, adanya kebiasaan gaya hidup baru di mana lebih banyak orang bekerja dan berinteraksi dari rumah juga ikut menjadi faktor pendorong.
Di samping itu, perkiraan vaksin mulai bisa digunakan di Indonesia pada awal tahun depan sehingga ekonomi dan bisnis akan bergerak ke arah yang lebih positif. “Kami berkeyakinan serapan tinggi di 2021 karena rumah merupakan kebutuhan paling pokok saat ini, di mana orang lebih banyak berada di rumah,” katanya.
Untuk menggenjot penyaluran kredit KPR, sejumlah program dan layanan disiapkan seperti program KPR Patriot yang menawarkan suku bunga fix 7% selama 5 tahun dan khusus bagi anggota TNI, serta portal web BTN properti dan rumahmurah.btn.co.id.

Sementara itu, Ketua Umum DPP APERSI, Junaidi Abdillah mengatakan, sejatinya minat konsumen membeli rumah masih ada. Hanya saja, faktor pelemahan ekonomi akibat pandemi COVID-19 memaksa calon pembeli menunda rencana mereka.
Melihat kondisi saat ini, Junaidi berharap pemerintah dan perbankan turut membantu industri properti. Salah satu yang diusulkan APERSI adalah penurunan suku bunga KPR. “Harapan kami pemerintah saat seperti ini memberikan penurunan suku bunga, khususnya di perumahan subsidi. Kami berharap untuk meningkatkan daya angsur kepada masyarakat,” ujar Junaidi.
Menurut Junaidi, pemerintah sejatinya telah memberikan penurunan suku bunga kredit untuk rumah tipe 70 ke bawah. Namun sayangnya pemerintah tidak melakukan hal yang sama pada rumah subsidi. Padahal, nasabah rumah subsidi juga terdampak pandemi. “Pemerintah kita minta untuk memperhatikan (nasabah rumah subsidi) atau bunganya sepeti apalah pada saat pandemi ini. Sehingga daya angsur masyarakat bisa terkonsentrasi untuk pemulihan ekonomi konsumer,” ujarnya.
Junaidi juga mendesak perbankan agar proses pengajuan kredit perumahan bisa dipermudah. Apalagi saat ini pengembang susah payah mencari konsumen. Harapannya, jika pengembang berhasil menggaet konsumen, proses di perbankan bisa lebih simpel. “Pencarian konsumen jadi kendala. Sehingga kalau dapat konsumen, kita harap adanya kemudahan-kemudahan proses di perbankan terutama Bank BTN yang sangat konsisten dengan rumah menengah ke bawah,” ujarnya.
Tidak hanya itu, Junaidi juga meminta perbankan bisa memberikan keringanan angsuran kepada nasabah, baik itu dalam angsuran pokok maupun beban bunga kredit. “Temen-temen pada saat ini perlu bantuan terutama dalam hal angsuran. Angsuran ini mungkin bagaimana bicara angsuran pokok dan bunga. Ini yang perlu saya sampaikan,” ujarnya. (son)










