Press "Enter" to skip to content

Mau Transisi Energy Berjalan Cepat, Ini Solusi dari Presiden Wartsila

Media Social Share

TANGERANG, BISNISJAKARTA.ID – Regulasi terkait dengan transisi energi baru terbarukan (EBT) di Indoneaia sudah cukup baik, tetapi realiasi transisi energi ini dinilai masih sangat lambat bahkan seakan jalan di tempat, padahal dengan transisi energi tersebut dapat mengurangi sekitar 20 persen. “Bauran energi ini dapat menurunkan tingkat biaya listrik lebih dari 20%,” kata Presiden Wartsila Energy & Wakil Presiden Eksekutif Wartsila Energy EVP Warstsila Anders Lindberg saat Media Round Table Energi Transisi di ICE BSD Tangerang, Rabu (15/11).

Lindberg mengatakan, jalan menuju net zero merupakan sebuah pendakian yang menanjak, yang membutuhkan penggunaan kapasitas energi terbarukan sebesar 1.100 GW di seluruh Asia Tenggara dalam 30 tahun mendatang. Sebagai gambaran, kata dia, perlu menambahkan lebih dari 25 GW kapasitas tenaga surya dan angin setiap tahunnya hingga tahun 2050. “Dengan berinvestasi pada energi terbarukan, kita tidak hanya dapat mengurangi emisi CO2, namun juga mengurangi biaya listrik secara keseluruhan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi,” papar Lindberg seraya menyatakan, menambahkan energi terbarukan saja, tanpa menambahkan fleksibilitas adalah jalan buntu menuju net zero.

Ia mengatakan, energi terbarukan memiliki tantangan tersendiri karena produksi energinya bersifat intermiten dan sangat bervariasi. Oleh karena itu, energi tersebut perlu diimbangi dengan kapasitas yang fleksibel seperti mesin penyeimbang jaringan dan penyimpanan energi untuk memastikan daya yang stabil dan andal.

Tahun lalu, jelas Lindberg, Wartsila membuat model sistem ketenagalistrikan net zero di Indonesia, Vietnam, dan Filipina. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa sistem tenaga listrik yang fleksibel dapat mendukung integrasi lebih banyak energi terbarukan. Dan ketika mempertimbangkan kemungkinan pajak karbon di masa depan, bauran energi yang hemat biaya dapat menurunkan tingkat biaya listrik sebesar lebih dari 20%.

Menurut Lindberg, listrik yang terjangkau dan berkelanjutan sangat penting bagi pertumbuhan perekonomian di Asia. Saat ini, tingkat pertumbuhan tahunan Asia Tenggara yang luar biasa yaitu sekitar 8-10%, sebagian besar bergantung pada bahan bakar fosil.

 Sektor ketenagalistrikan, ungkap Lindberg, memainkan peran penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi, namun juga merupakan penyumbang emisi CO2 terbesar secara global, yaitu sekitar 38%. “Kami di sektor ketenagalistrikan mempunyai kesempatan dan tanggung jawab untuk mengambil tindakan dan memberikan dampak yang besar,” paparnya.

Oleh katena itu, net zero bukanlah sebuah impian belaka, namun hal ini dapat terlaksana secara ekonomi. Dan hal itu mungkin dicapai dengan teknologi yang sudah ada saat ini. Selin itu, fleksibilitas akan menjadi kunci percepatan transisi energi secara lancar dan dapat diandalkan. “Fleksibilitas dapat ditingkatkan dengan memilih teknologi yang tepat dan tahan di masa depan serta merancang pasar energi yang fleksibel,” jelas Lindberg.

Sementara Direktur Energy Business New Build Indonesia, Wartsila Energy Febron Siregar mengatakan, sistem ketenagalistrikan yang tidak fleksibel saat ini membatasi jumlah energi terbarukan yang dapat diintegrasikan. Sistem ini kesulitan beradaptasi dengan variabilitas energi terbarukan, yang dapat menyebabkan ketidakstabilan jaringan listrik, pemadaman listrik, pembatasan energi terbarukan, dan biaya sistem yang lebih tinggi.

 Jika aset pembangkit listrik tenaga panas yang tidak fleksibel diprioritaskan dibandingkan energi terbarukan berbiaya rendah, konsumen pada akhirnya harus membayar harga listrik yang lebih tinggi.

 Pada akhirnya, ketidakfleksibelan ini dapat menimbulkan risiko aset-aset pembangkit tertentu menjadi tidak ekonomis dan karenanya terbengkalai.

Oleh karena itu, pilihlah teknologi yang tepat untuk melengkapi energi terbarukan, yang fleksibel, dapat disalurkan, dan tahan masa depan. (son)

Mission News Theme by Compete Themes.