Press "Enter" to skip to content

PELNI Lepas Struktur Terumbu Karang Buatan di Banyuwangi

Media Social Share

BISNISJAKARTA.ID. BANYUWANGI – PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) menurunkan struktur terumbu karang buatan (artificial reef) sepanjang 15 meter dan tinggi 5 meter di Pantai Bangsring, Banyuwangi, Senin (14/12). Struktur yang diberi nama Domus Coronarius Circularis merupakan kolaborasi PT PELNI dengan Yayasan Terumbu Rupa yang dipimpin seniman sekaligus seorang penyelam, Teguh Ostenrik.

Kepala Kesekretariatan Perusahaan PT PELNI Yahya Kuncoro menyampaikan, tahun 2020 menjadi tahun keempat pelaksanaan Program Bina Lingkungan yang berkomitmen dengan konsep konservasi ekosistem laut. Penurunan struktur juga bertepatan dengan Hari Nusantara 2020 yang jatuh sehari sebelumnya.

“Nama struktur ini mengandung kata Corona untuk mengingat betapa besar dampak yang diberikan bagi semua sektor industri, termasuk pariwisata. Dengan kehadiran struktur ini di bawah laut Pantai Bangsring, Banyuwangi PELNI berharap dapat membantu memulihkan kondisi pariwisata di wilayah tersebut,” terang Yahya.

Sang seniman, Teguh Ostenrik, mewujudkan struktur raksasa dengan pahatan laser yang menyerupai virus COVID-19. Untuk penamaannya, ‘Domus’ sendiri memiliki arti rumah bagi terumbu karang. Sementara ‘Coronarius’ memiliki makna sebagai penanda kebangkitan bangsa dari pandemi yang diakibatkan oleh Virus COVID-19. Serta ‘Circularis’ yang mewakili roda kehidupan di mana akan datang masanya kita semua keluar dari krisis yang sedang dihadapi.

Rumah terumbu karang buatan telah ditenggelamkan pada kedalaman 15 meter dan memiliki bentuk seperti lorong dengan panjang 15 meter, lebar 5 meter, dan tinggi 3 meter. Dibutuhkan 40 orang di darat untuk membawa struktur sebesar 2 ton tersebut ke tepi pantai dan 40 orang lainnya dengan perlengkapan selam untuk membawa dan menurunkan struktur ke bawah laut.

Yahya yakin keberadaan artificial reef di Pantai Bangsring akan menjadi ikon wisata baru di Pantai Bangsring. “Kami berharap kehadiran artificial reef ini dapat mendorong masyarakat dan wisatawan lokal dan internasional untuk bersama-sama menjaga kelestarian ekosistem bawah laut bagi generasi mendatang,” ungkap Yahya.

Penenggelaman terumbu karang ini bukan kali pertama yang dilakukan oleh PELNI. Sebelumnya, PELNI telah berkontribusi pada penenggelaman struktur terumbu karang buatan ‘Domus Arcae Similis’ di Pulau Sepa – Kepulauan Seribu (2017), ‘Domus Hippocampi’ di Pulau Bangka – Sulawesi Utara (2018), dan ‘Domus Frosiquilo’ di Pantai Jikomalomo – Ternate (2019).

Kepedulian PELNI untuk ekosistem laut ini pun juga semakin menunjukkan bahwa kegiatan TJSL (Tanggung Jawab Sosial Lingkungan) PELNI ini sejalan dengan SDG’s (Suistanable Development Goals) untuk Bidang Air Bersih dan Sanitasi Layak, BIdang Penanganan Perubahan Iklim, dan Bidang Ekosistem Lautan; di mana melalui terumbu karang ini diharapkan ada keberlanjutan ekosistem baik untuk biota laut dan dapat membantu meningkatkan pembangunan ekonomi lingkungan dan sosial sehingga mendorong daerah tersebut untuk menjadi daerah pariwisata yang semakin layak. (son)

Mission News Theme by Compete Themes.