Press "Enter" to skip to content

Ini Penyebab Dominan Kecelakaan Lalu Lintas Jalan, Simak Penjelasan Berikut

Media Social Share

JAKARTA, BISNISJAKARTA.ID – Kecelakaan lalu lintas jalan saat ini menjadi penyebab kematian, cedera dan kecelakaan yang dominan di seluruh dunia. “Kurang lebih sebanyak 1,3 juta orang meninggal dunia dan sekitar 20-50 juta orang terluka akibat kecelakaan pada tiap tahunnya,” kata Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono saat media rilis di Jakarta, Selasa (12/10).

Menurut Soerjanto, KNKT selalu lembaga non-struktural yang betugas mewujudkan keselamatan transportasi, berdasarkan hasil investigasi yang kerapkali dilakukan menunjukkan bahwa penyebab terjadinya kecelakaan didominasi oleh faktor geometrik jalan.

Perlu diingat bahwa sebagian besar jakan di Indonesia bukanlah jalan yang sengaja dibangun, melainkan jalan peninggalan jaman Belanda, jalan tikus, jalan setapak, jalan lingkungan yang kemudian dilebarkan dan diperkeras sehingga tampak menjadi bagus.

Soerjanto mengatakan, jalan-jalan tersebut terjadi tanpa melalui kaidah keselamatan infrastruktur jalan yang baik yng terdiri dari audit keselamatan jalan, inspeksi keselamatan jalan, analisa dampak keselamatan jalan, manajemen daerah rawan kecelakaan, serta laik fungsi jalan, sehingga sangat mungkin jalan tersebut menyimpan banyak hazard yang bisa kapan saja menyebabkan orang celaka.

Pada agenda kegiatan yang mengusung tema Kecelakaan Lalu Lintas Jalan yang disebabkan oleh Faktor Geometrik Jalan dengan Studi Kasus Investigasi Tabrakan Beruntun Tuas Jalan Solo Ngawi, Tikungan Harmoko Musi Banyuasin, dan Tebing Breksi Sleman Yogya berfokus pada titik daerah rawan kecelakaan.

Studi pertama, elemen penampang jalan melintang yang terjadi di Ruas  Jalan Solo Ngawi. Hazard pada kasus tersebut, kata Soerjanto, yaitu adanya desain kecepatan tinggi, mixed traffic (gap kecepatan), tabrak depan dan belakang. Rekomendasi yang dilakukan, jelas Soerjanto, diantaranya survei inspeksi keselamatan jalan, segregasi lalu lintas dengan kecepatan yang berbeda, manajemen traffic calming (aksesibiltas vs keselamatan).

Selanjutnya, elemen alinyemen horizontal di Tikungan Harmoko Musi Banyuasin yang kerapkali terjadi secara berulang kecelakaan tunggal kendaraan terguling atu menabrak tebing. Identifikasi Hazard pada ksus kecelakaan teraebut, jelas Soerjanto, yaitu tikungan patah setelah jalan lurus, adanya tikungan ganda serah, dan minimnya informasi delineasi jalan.

Terhadap kasus tersebut, kata Soerjanto, KNKT telah merekomendasi diantaranya perbaikan informasi delineasi jalan, pradesain perbaikan geometrik tikungan, dan perbaikan gwometrik tikungan.

Sementara elemen alinyemen vertikal pada tebing Breksi Sleman Yogyakarta. Menurut Soejanto, terdapat tinggi sebesar 191 meter dengan gradien maksimal 35 persen sejauh 1,81 km. Adapun hazard yang ditemukan, jelas Soerjanto, adanya turunan panjang dan ekstrem, jalan beton dan drainase beton, serta minimnya informasi delineasi jalan.

Rekomendasi yang harus ditindaklanjuti diantaranya perbaikan informasi delineasi jalan, penyediaan forgiving road, dan pemberian edukasi terkait delineasi jalan. (son)

Mission News Theme by Compete Themes.