Press "Enter" to skip to content

Industri Hulu Migas Harus Optimasi Biaya Berkelanjutan

Media Social Share

BISNISJAKARTA.ID. JAKARTA – Industri hulu migas dituntut melakukan optimasi biaya yang berkelanjutan agar tetap bertahan menghadapi situasi global dengan harga minyak rendah dan pandemi Covid-19 yang menyebabkan biaya meningkat. Berkaca dari pengalaman berbagai perusahaan, efisiensi biaya harus dilakukan secara terstruktur dan berkelanjutan agar menghasilkan hasil optimal.

Demikian salah satu kesimpulan dari diskusi dengan topik “Reimagining Cost Efficiencies in The New Normal”, pada rangkaian 2020 International Convention on Indonesian Upstream Oil & Gasyang diselenggarakan oleh Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), akhir pekan lalu.

Panel diskusi ini menghadirkan narasumber Head of Upstream Finance & Risk, Petronas, Norliwati Abdul Wahab, Direktur Marketing dan Strategi, Schlumberger, Fred Majkut, General Manager Pertamina Hulu Mahakam (PHM), Agus Amperianto, dan Kepala Divisi Perencanaan Anggaran, SKK Migas, Dyah Anjarwati.

Dyah menjelaskan, optimasi biaya menjadi tanggung jawab SKK Migas karena biaya operasi turut berdampak pada pencapaian pendapatan pemerintah dari sektor hulu migas.

Sejak 2017, optimasi biaya menjadi prioritas sebagai bentuk dari lesson learnedpasca penurunan harga minyak secara drastis pada tahun 2015-2016. Di 2019, program optimasi menjadi bagian rencana strategis SKK Migas.

Hasilnya, tahun 2019, terdapat penghematan biaya hingga US$ 2 miliar. “Di sisi lain, untuk menjaga tingkat produksi, SKK Migas mendorong anggaran yang berdampak pada peningkatan produksi hingga US$ 300 juta pada 2019,” katanya.

SKK Migas berkomitmen melakukan peningkatan berkelanjutan dan berkolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan untuk lebih mengeksplorasi berbagai potensi optimasi biaya. “Dukungan dari penyedia teknologi juga diharapkan agar kegiatan eksplorasi lebih akurat, penemuan lebih cepat, serta produktivitas sumur dan keekonomian lapangan meningkat,” kata Dyah.

Agus Amperianto mengungkapkan, Blok Mahakam dapat menjadi contoh penerapan optimasi biaya di lapangan migas di Indonesia. Dengan lapangan matureyang telah berproduksi lebih dari 45 tahun membuat biaya produksi PHM cenderung meningkat. “Kami dituntut untuk efisien agar operasi dapat berkelanjutan,” katanya.

Tahun 2018, belanja operasional (operating expenditure/Opex) PHM mencapai US$ 1,115 miliar. Angka ini meningkat pada tahun 2019 menjadi US$ 1,144 miliar. “Opex meningkat sementara produksi menurun,” katanya.

Dampaknya, biaya per barel naik dari US$ 17,9 per barel pada 2018, menjadi US$ 22,9 per barel. Tahun 2020 ini, PHM melakukan optimasi biaya hingga 34 persen. Opex diproyeksikan sebesar US$ 750 juta. Biaya per barel pun turun menjadi US$ 17,9 per barel.

Optimasi biaya ini diperoleh dari optimasi pengeboran, konstruksi, asuransi fasilitas dan sumur, rantai suplai, hingga digitalisasi. “Hal ini dicapai tanpa mengorbankan integritas operasi,” kata Agus. (son)

Mission News Theme by Compete Themes.