SEJATINYA, digitalisasi yang diterapkan PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) dalam layanan pembelian tiket tak lain muaranya adalah untuk memberikan kenyamanan pengguna jasa penyeberangan. Efektifitas menjadi kata kunci dalam penerapan digitalisasi ticketing mengingat masyarakat dapat memanfaatkan teknologi lewat aplikasi Frizi digenggaman tangan.
Tetapi di lapangan tidak semudah apa yang diwacanakan. Setidaknya, upaya digitalisasi tak sepenuhnya dijadikan pengguna jasa sebagai solusi agar efisen. Operator bus Angkutan Kota Antar Provinsi (AKAP) justru memanfaatkan celah tersebut sebagai peluang. Bukankah harga tiket bus AKAP sudah termasuk tiket penyeberangan ?.
Modusnya, jika penumpang bus AKAP kisaran 60 orang, ternyata hanya sekitar 50 orang penumpang atau kurang dari itu yang dibelikan tiket penyeberangan oleh kondektur bus. Indikasinya, kondektur secara acak meminta penumpang menyerahkan identitas seperti KTP sebagai syarat pembelian tiket, dan banyak penumpang yang tidak menyerahkan identitas, ketika bus sebelum mencapai loket pembelian tiket penyeberangan. Praktik semacam itu juga terjadi pada lintasan sebaliknya.
Jika potential loss ini ‘digarap’ dengan baik lewat mekanisme yang dijalankan secara efektif, tentu ada tambahan pemasukan bagi ASDP untuk menambah pundi-pundi pendapatan perusahaan. Mungkin nilainya kecil yaitu satu bus sekitar 5 sampai 10 orang yang tak dibelikan tiket, tetapi ratusan atau ribuan bus yang melakukan hal yang sama, dapat dipastikan betapa besar peluang pendapatan yang terbuang.
Dirut PT ASDP Ira Puspadewi mengakui, lintas Merak-Bakauheni masih menjadi primadona layanan yang berpotensi besar menarik jumlah pengguna jasa, mengingat telah tersedianya akses tol Trans Jawa dan Trans Sumatera yang atraktif bagi masyarakat di kedua pulau tersebut, karena telah saling terhubung.

Performa Kinerja Positif
Meski demikian, ASDP mengklaim pendapatan perusahaan meningkat di tengah pandemi Covid-19. Dirut PT ASDP Ira Puspadewi mengatakan, ASDP mencatat performa kinerja yang positif jelang akhir tahun lalu, karena membukukan pendapatan induk lebih dari Rp 3,2 triliun atau naik 14% dari realisasi periode tahun sebelumnya sebesar Rp 2,8. triliun.
Menurut Ira, ASDP berhasilkan membukukan laba bersih induk sebesar Rp 317 miliar atau naik 184% dibandingkan realisasi periode sama tahun sebelumnya Rp 112 miliar.
Kemudian berdasarkan data produksi penyeberangan hingga November-2021, ASDP mencatat telah melayani sebanyak 3,57 juta penumpang atau turun 0,2% dari realisasi periode sama tahun 2020.
Diikuti kendaraan roda dua dan tiga sebanyak 1,91 juta unit atau turun 22% bila dibandingkan realisasi periode sama tahun 2020. Lalu, kendaraan roda empat/lebih sebanyak 2,44 juta unit atau naik 32% bila dibandingkan realisasi periode sama tahun 2020.
Sedangkan untuk barang, ASDP berhasil mengangkut hingga 1,35 juta ton atau naik 48% dari realisasi periode sama tahun 2020. “Ada pergeseran tren dari pejalan kaki dan pengguna sepeda motor ke mobil pribadi sehingga trafik kendaraan roda empat mengalami peningkatan,” ungkap Ira.
Sementara itu, angkutan barang yang menjadi kekuatan sektor logistik juga menjadi penopang produksi penyeberangan ASDP selama pandemi Covid-19. Hal ini sesuai arahan Presiden Joko Widodo bahwa distribusi logistik dan kebutuhan pokok tak boleh terhambat di tengah pandemi sehingga layanan penyeberangan bagi sektor logistik harus terlayani dengan baik. “Layanan terhadap angkutan logistik tetap beroperasi normal. ASDP melayani secara penuh truk barang utamanya yang membawa barang kebutuhan pokok demi menjaga pasokan di daerah tetap stabil,” ujarnya.

Akselerasi Cashless
Saat ini, ASDP terus memperkuat program pengembangan bisnis perseroan diantaranya melalui akselerasi program Cashless di seluruh cabang dalam mendukung digitalisasi bisnis penyeberangan serta proyek pengembangan kawasan pariwisata terintegrasi Bakauheni Harbour City.
Saat ini pengembangan kawasan Bakauheni Harbour City sudah dalam tahap konstruksi dimana salah satunya adalah pembangunan Masjid BSI. Area Masjid BSI saat ini masih dalam tahap land clearing, dan ditargetkan bisa rampung pada bulan Mei 2022.
Masjid BSI ini diproyeksikan dapat menampung jamaah sekitar 2000 jamaah dengan fasilitas pendukung yaitu area sholat, area wudhu, ruang serbaguna, green space, observation deck, artistic lightning, dan area parkir.
Adapun pembiayaan masjid BSI saat ini bersumber dari dana wakaf yang dikelola oleh BSM Umat dibawah pengawasan Bank Syariah Indonesia. Dana wakaf pembangunan masjid dibuka untuk masyarakat umum serta berasal dari nasabah BSI, pegawai ASDP, dan juga dibagikan kepada pengguna jasa kapal ASDP yang dipublikasikan secara luas baik berupa poster atau umbul-umbul, flyer, dan spanduk di sekitar pelabuhan dan kapal.
Sementara itu, penerapan metode cashless di penyeberangan ini sejalan dengan upaya percepatan transformasi digital di tengah pandemi Covid-19 yang juga telah mengubah cara bertransaksi masyarakat, dari sebelumnya melalui physical space menjadi menjadi digital space (online). (son)










