JAKARTA, BISNISJAKARTA.ID – Asosiasi Experiential Learning Indonesia (AELI) menggelar Konferensi Nasional, dan Indonesia Experiential Learning Conference (IELC) di Jakarta. Mengusung tema “Beyond Destination, Into Experience”, forum ini dihadiri sekitar 200 peserta dari lintas sektor pemerintah, korporasi, akademisi, industri pariwisata, dan praktisi Experiential Learning.
Yang membuat IELC 2026 berbeda dari konferensi biasa bukan hanya siapa yang hadir. Yang luar biasa adalah apa yang terjadi ketika delapan pembicara dari latar yang berbeda, masing-masing membawa materi dan kepentingan sektornya sendiri, satu per satu menyampaikan kesimpulan yang sama yaitu destinasi Indonesia sudah harus diperlakukan sebagai ruang yang sengaja dirancang untuk membangun kapasitas manusia, bukan sekadar tempat yang dikunjungi.
Narasumber yang hadir antara lain Asisten Deputi Peningkatan Kapasitas SDM Aparatur dan Pendidikan Vokasi, Andar Danova L. Goeltom, Wakil Kepala BPIP Rima Agristina, Managing Director Human Capital Danantara Indonesia Agus Dwi Handaya, dari Direktorat Sekolah Menengah Pertama Kemendikdasmen yang diwakili Ninik Purwaning Setyorini, Kepala Divisi Pembelajaran dan Budaya Perusahaan Indonesia Financial Group (IFG) Mora Nasution, Founder Wit Gedhang Consulturement (WGC) dan Praktisi Experiential Learning Dian Wibowo Utomo, serta Ketua Umum DPP AELI Gigih Gesang.
Asisten Deputi Peningkatan Kapasitas SDM Aparatur dan Pendidikan Vokasi, Andar Danova L. Goeltom mengatakan, arah pembangunan pariwisata Indonesia sudah bergeser, bukan lagi mengejar jumlah kunjungan, melainkan membangun pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045. Visi ini dibangun di atas tiga pilar: transformasi ekonomi pariwisata yang inklusif, keberlanjutan lingkungan, dan penguatan identitas bangsa di tengah arus globalisasi.
Metode pembelajaran berbasis pengalaman, kata dia, adalah instrumen strategis dalam mewujudkan visi tersebut. Pariwisata berbasis pengalaman harus dirasakan, dikenang, dan dihormati, sebagai inkubator kapasitas bangsa yang mencakup kapasitas ekonomi, SDM, ilmu pengetahuan, budaya, nasionalisme, hingga diplomasi. “Mari kita jadikan setiap destinasi sebagai monumen kebesaran bangsa. Mari kita jadikan setiap kunjungan wisata sebagai momen pengembangan kapasitas manusia Indonesia,” kayanya.
Paradigma pariwisata Indonesia, tegasnya, sudah bergeser dari visit based menjadi experience based, bukan lagi dinilai dari volume kedatangan, melainkan dari kekuatan pengalaman bermakna yang dihasilkan. “Satu juta wisatawan berkualitas yang menghargai budaya, menjaga lingkungan, dan membelanjakan uangnya secara merata jauh lebih berharga daripada sepuluh juta wisatawan yang meninggalkan kerusakan,” ujarnya. (son)










