JAKARTA, BISNISJAKARTA.ID – PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia (GMF) membukukan pendapatan sebesar USD 491,9 juta (Rp8,25 triliun), tumbuh 16,8% secara tahunan dengan laba perusahaan meningkat 26,3% menjadi USD 33,9 juta (Rp570 miliar). Dari sisi neraca, total aset meningkat signifikan menjadi USD 813 juta (Rp13,6 triliun), sementara struktur permodalan berhasil berbalik positif dengan ekuitas mencapai USD 114,6 juta (Rp1,92 triliun).
Peningkatan kinerja ini turut didukung oleh aksi korporasi berupa inbreng lahan senilai Rp5,6 triliun yang memperkuat nilai aset tetap Perseroan serta mengembalikan posisi ekuitas menjadi positif. Selain itu, akselerasi lini bisnis non-commercial aircraft, khususnya melalui SBU Defense Industry, Industrial Solutions, dan Power Services, turut berkontribusi terhadap pertumbuhan dengan capaian pendapatan sebesar USD 36,7 juta (Rp615,9 miliar) atau tumbuh 59,9%.
Direktur Utama GMF Andi Fahrurrozi mengatakan, capaian ini merupakan hasil dari konsistensi Perseroan dalam menjaga disiplin operasional dan finansial, sekaligus memperkuat peran GMF sebagai strategic enabler dalam ekosistem Garuda Indonesia Group.
Di sisi operasional, GMF juga berhasil menjaga turnaround time secara disiplin guna memastikan serviceability dan reliability pesawat tetap terjaga, meskipun tantangan global supply chain masih terus membayangi. Hal ini menjadi fondasi penting dalam mendukung program reaktivasi armada yang dijalankan sepanjang tahun 2025, sekaligus memperkuat kesiapan operasional Garuda Indonesia Group secara berkelanjutan.
Kinerja GMFI tersebut semakin menegaskan bahwa transformasi yang dijalankan Garuda Indonesia Group tidak bersifat kosmetik, melainkan menyasar perbaikan fundamental yang terukur—mulai dari kesiapan armada, peningkatan utilisasi, hingga penguatan kualitas layanan secara menyeluruh.
Sebelumnya, PT Garuda Indonesia mencatatkan rugi bersih sekitar US$319,39 juta atau Rp5,42 triliun pada tahun 2025. Kerugian ini melonjak 4,5 kali lipat dari tahun 2024 akibat penurunan pendapatan dan beban operasional yang tinggi, terutama dari biaya bahan bakar (avtur) yang melonjak drastis serta banyaknya armada yang tidak bisa digunakan (grounded). (son)










