Press "Enter" to skip to content

SKK Migas Ajak Daerah Penghasil Migas Tingkatkan Iklim Investasi Hulu Migas

Media Social Share

BANDUNG, BISNISJAKARTA.ID – Proses transisi energi dariberbasis fosil ke energi yang lebih bersih membutuhketersediaan kecukupan energi minyak dan gas sebagaisalah satu sumber energi utama yang digunakan saat ini. Melonjaknya harga minyak dan gas dunia menyebabkanbeban keuangan negara dengan tingginya beban subsidienergi. Indonesia memiliki 128 cekungan migas, yang sudahberproduksi sebanyak 20 cekungan dan sisanya menjaditantangan bagaimana dapat diproduksi sehingga dapatmenjadi penopang ketahan energi nasional

Potensi migas nasional lebih didominasi oleh gas, sehinggamenjadi tantangan bersama bagaimana agar gas dapatdimanfaatkan dengan baik, menggantikan peran minyak, sehingga produksi gas di Indonesia yang surplus dapatmenkompensasi kekurangan minyak yang saat ini sebagaianmasih imporIndustri migas saat ini bersaing dengan energi terbarukan, beberapa negara di Eropa sudah menghentikan pembiayaanenergi fosil. Seiring dengan komitmen Indonesia menuju nettzero emission sampai 2060, maka gas menjadi salah satualternatif dalam mengisi energi transisi, sampai sumber energibersih siap memenuhi kebutuhan energi nasional”, kata Sekretaris SKK Migas Taslim Z. Yunus dalam pembukaankegiatan focus group discussion (FGD) media gathering SKK Migas dan KKKS di Bandung, Senin (3/10).

Taslim menyampaikan bahwa posisi Indonesia saat ini  masihdirasa kurang menarik bagi investor dibandingkan negaralain. Melalui Asosiasi Daerah Penghasil Migas dan EnergiTerbarukan (ADPMET), SKK Migas mengharapkan dukungandari Pemerintah Daerah untuk bersama-sama meningkatkandaya tarik investasi di Indonesia, untuk mendukung target pencapaian peningkatan produksi migas nasional di tahun2030 yaitu produksi minyak 1 juta barel dan gas 12 BSCFD.

Terkait upaya peningkatan produksi migas nasonal, Taslimmenyampaikan bawah SKK Migas terus berupayamemaksimalkan aset yang sudah ada menjadi produksi, mempercepat EOR, mengakselerasi temuan yang adamenjadi produksi dan melakukan eksplorasi yang masif. Untuk mewujudkannya maka membutuhkan dukungan dariKontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dan PemerintahDaerah penghasil migas.

Sebagai keynote speech di acara tersebut, Gubernur JawaBarat Ridwan Kamil  yang akrab disapa dengan sebutan RK yang juga adalah sebagai Ketua Umum Asosiasi Daerah Penghasil Migas dan Energi Terbarukan, menyampaikanbahwa APDMET memiliki aspirasi agar pengelolaan migasdiamalkan sesuai dengan sila ke lima Pancasila, yaitu agar ada kesejahteraan bagi daerah. RK menambahkan bahwasaat ini sedang melakukan koordinasi dengan Pertamina agar sumur-sumur yang sudah ditinggalkan di Jawa Barat dapatdikelola oleh daerah dengan formula ekonomi.

Lebih lanjut RK menyampaikan bahwa APDMET terusmemperjuangkan participating interest 10% sebagai bagiandari upaya memberikan mensyejahterakan daerah. Terkaitdengan energi, RK menyampaikan bahwa ada 3 prinsip yang terus diperjuangkan yaitu murah, bersih dan berkelanjutan.

RK menambahkan bahwa bagaimaan melatih ketergantungandari minyak ke gas yang jumlahnya banyak tetapi belumtermanfaatkan dengan optimal, kemudian dilanjutkan penggunaan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) yang patutdisyukuri bersama bahwa Indonesia memiliki sumber EBT terbesar di dunia“SKK Migas punya tanggung jawab, bagaimana agar potensigas yang besar tersebut dapat ditindaklanjuti dnegan transisikonversi gas bisa dimaksimalkan sebelum berada sebagainegara yang sepenuhnya menerapkan penggunaan EBT. Sehingga upaya mendorong penggunaan EBT juga harussejalan dengan penggunaan energi gas yang lebih besaruntuk mengurangi penggunaan minyak”, kata RK.

Menutup paparannya, RK menyampaikan menunggurekomendasi dari FGD yang diselenggarakan ini, agar apayang dibahas dan dihasilkan dapat disosialisasikan denganpemerintah daerah penghasil migas, sebagai upaya bersamameningkatkan iklim investasi hulu migas di Indonesia untukmendukung proses transisi energi ke EBT dimasa mendatang. (son)

Mission News Theme by Compete Themes.