TANGERANG, BISNISJAKARTA.ID – Waspada penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Himbauan yang selalu muncul setaip musim hujan, menjadi peringatan bagi masyarakat untuk peduli terhadap lingkungan agar tak ada tempat bagi berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti, sumber penyakit demam berdarah.
Sebagai antisipasi dan mewaspadai munculnya penyakit demam berdarah, warga melakukan fogging di Lingkungan RT 002 Perumahan Mahkota Simprug – Paninggilan Utara, Ciledug – Kota Tangerang, Minggu (7/8).

Ketua RT 002 Dr. Irfan Humaini mengatakan, upaya yang dilakukan untuk mencegah kasus DBD ini sudah sangat maksimal, seperti rutin melakukan fogging. “Kita sudah sangat massif melakukan upaya pencegahan kasus DBD. Namun kembali lagi kepada gerakan masyarakat untuk bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan,” kata pria tampan asli Palembang ini.
Terkait dengan DBD ini, jelas Irfan, tentu semua harus tetap waspada walaupun masih dalam penanganan Covid-19. DBD ini perlu penanganan secara cepat dan diagnosanya hampir mirip-mirip dengan Covid-19 gejala awalnya. “Kewaspadaan tinggi dari warga betul-betul harus dilakukan. Sebab penanganan DBD pada prinsipnya kalau kasus ditemukan ditangani dengan cepat maka juga bisa sembuh dengan cepat. Tetapi kalau terlambat juga tentu resiko akan terjadi lebih buruk,” jelasnya.

Menurut Irfan, upaya-upaya yang dilakukan saat ini terkait dengan kasus DBD yang dilakukan dan diagnosa betul-betul positif maka dilakukan fogging sebagaimana biasa dengan radius 100 meter dari titik kejadian DBD. Selain itu, upaya 3M (Menguras, Menutup dan Mengubur) terkait dengan gerakan masyarakat juga terus digalakkan. “Satu kasuspun akan difogging dengan catatan betul-betul diagnosa DBD. Karena fogging itu hanya membunuh nyamuk terbang dan jentik akan mati kalau kita lakukan dengan 3M tadi plus abatesasi,” terangnya.
Irfan mengingatkan agar warga selalu peduli terhadap lingkungan, seperti tak ada genangan air yang berpotensi munculnya tempat berkembang biaknya nyamuk. “Justru yang sangat beresiko ini adalah genangan air yang tertampung di kaleng-kaleng bekas, bak mandi dan lain sebagainya. Sebab jentik ini hidup di air bersih. Kalau genangan air di tanah tidak menjadi trigger utama sebab ada mikroorganisme yang akan memakannya,” paparnya. (son)










