SUMEDANG, BISNISJAKARTA.ID – Founder Made-in-Indonesia Superconnection (MSC), sekaligus Founder dan CEO Industry and Businees Institute of Management (IBIMA), I Made Dana Tangkas, menyebutkan bahwa pihaknya memiliki cita-cita Indonesia harus maju karena teknologi. Salah satu caranya, dengan membangun integrated farming di seluruh Indonesia.
Oleh karena itu, Made Tangkas akan mengembangkan Superconnection Integrated Farming National Project. “Setelah di Sumedang, kita akan masuk ke Pekalongan dan Bali,” ungkap Made Dana.
Di Sumedang, di atas lahan seluas 3000 meter persegi di tahap awal ini, akan dikembangkan produk pertanian padi, jagung, porang, dan sebagainya. Bahkan, di lahan tersebut juga akan dikembangkan lahan untuk pakan ternak berupa rumput Taiwan. “Kita juga menyiapkan peternakan ayam, kambing, dan sapi,” tukas Made Tangkas.
Dalam hal itu, Made Tangkas akan menggulirkan aneka pelatihan, pengembangan produk, hingga business development. “Kita integrasikan di desa-desa dan berkolaborasi dengan IBIMA dan MSC,” tandas Made Tangkas.
Menurut Made Tangkas, dalam hal ini yang paling penting itu menyiapkan offtaker-nya, yang rata-rata merupakan usaha besar. “Kita yang akan menyambungkan integrated farming dengan pihak offtaker,” kata Made Tangkas.
Dalam struktur usahanya, akan berdiri yang namanya Holding Integrated Farming yang memiliki anak-anak usaha di bawahnya berupa PT, koperasi, dan KUBE (inti plasma). Akan tercipta juga sebuah kolaborasi dengan pihak lain dalam hal teknologi informasi (TI).
Pada 2022 ini, Made Tangkas mentargetkan pembentukan integrated farming sebanyak 250, dengan masing integrated farming menyiapkan modal antara Rp500 juta hingga Rp1 miliar.
Ke depan, Made Tangkas berharap pengelolaan integrated farming melalui koperasi. Bisa koperasi primer, sekunder, dan jenis koperasi lainnya, dari hulu ke hilir. Juga, ada plasma dan inti plasma. “Benchmark kita adalah integrated framing milik Sri Darmono yang ada di Cikampek,” ungkap Made Tangkas.
Mendorong Koperasi
Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sumedang Herman Suyatman berharap program integrated farming bisa dijalankan secara totalitas, bukan sekadar sporadis. “Yang penting menjadi fokus kita adalah output, outcome, hingga benefit dari integrated farming,” kata Herman.
Bahkan, Herman menyebutkan bahwa bila integrated farming di Desa Ujungjaya berjalan sukses, maka bisa direplikasi di desa-desa lainnya di Sumedang yang berjumlah 270 desa. Terlebih lagi, saat ini, Sumedang memiliki modal strategis sebagai wilayah terdepan dalam hal transformasi digital di Indonesia.
Bagi Herman, dengan mengembangkan integrated farming, produk yang dihasilkan petani dan peternak bisa memiliki nilai tambah. Hal itu bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus mengentaskan kemiskinan di Sumedang. “Saya meyakini Sumedang bisa mengembangkan integrated farming, hingga mencapai smart farming. Dengan bergotong-royong kita bisa mewujudkan itu,” tandas Sekda Sumedang.
Oleh karena itu, Herman akan mendorong pembentukan koperasi petani yang pada prosesnya akan menyerap (membeli) produk yang dihasilkan petani dengan harga baik. Jangan sampai produksi integrated farming sebaik mungkin, namun saat masuk pasar harganya jatuh. “Jadi, integrated farming harus disiapkan secara matang semua proses dari hulu hingga hilir. Dan sangat memungkinkan bila dikembangkan dalam wadah koperasi,” pungkas Sekda Sumedang. (son)










