Press "Enter" to skip to content

Putri Sonya Kinanti, Berdarah Karang Dapo, Berkarir di Ibukota

Media Social Share

PERJALANAN hidup dan karir Putri Sonya Kinanti mengalir bagaikan air. Terlahir sebagai anak sulung dari tiga bersaudara, tentu berharap menjadi figur tauladan bagi adik-adiknya. Spirit tersebut menjadikan perempuan berdarah Karang Dapo ini sebagai super women.

Terlahir di Denpasar – Bali, sejak kecil Putri – begitu perempuan ini biasa disapa keluarganya – selalu ingin mandiri. Ketika usianya belum genap empat tahun, saat memulai pendidikan di TK Aisyiyah – Denpasar, Putri tak ingin dianter oleh orang tuanya, tetapi mau jalan sendiri ke sekolah yang berjarak tak lebih dari 200 meter dari rumahnya itu.

Namun belum selesai pendidikan TK Aisyiyah, Putri harus mengikuti perjalanan karir ayahnya di Ibukota Jakarta. Beberapa bulan menetap di Jakarta, Putri mulai bersekolah di SDN 06 Srengseng – Jakarta Barat. Terdapat tiga SDN di kompleks yang sama yaitu SDN 05,  SDN 06, dan SDN 08.

Enam tahun menjalani pendidikan, Putri memggapai cita-citanya untuk dapat berseoklah di SMPN 75 Kebon Jeruk, sebuah sekolah paling pavorit dambaan banyak anak Jakarta Barat.

Rupanya, Putri satu-satunya anak yang berhasil lolos dari 80 anak SDN 06 kala itu, atau satu dari empat anak yang berasal dari satu kompleks sekolahan yang berlokasi di Jalan Srengseng Raya ini. Untuk diketahui, masing-masing sekolah terdapat sekitar 80 anak yang terbagi dalam Kelas VI A & B.

Selepas SMPN, Putri melanjutkan ke SMAN 85, sekolah yang berjarak sekitar 12 kilometer dari rumahnya di Ciledug – Tangerang. Iapun sekolah harus membawa kendaraan sendiri, bersama adiknya Dara Widya Sonata yang juga berhasil masuk SMPN 75 Kebon Jeruk – Jakarta Barat.

Selepas SMA, Putri pun memilih Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Bandung sebagai tempat kuliah yang dianggap memiliki prospek bagus sehubungan dengan geliat kepariwisataan di Tanah Air. Meski diterima pada jurusan Hubungan Internasional di sebuah PTN di Jatim, Putri tetap memilih kuliah di STP Bandung, karena selama ini telah banyak melahirkan sarjana terapan di bidang kepariwisataan.

Bener saja, selepas dari Perguruan Tinggi Negeri binaan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ini, Putri langsung ‘diambil’ sebuah kantor biro perjalanan wisata terkemuka di Tanah Air yaitu Panorama Tour. Meski belum menyandang gelar sarjana, karena secara resmi belum mengikuti prosesi wisuda, Putri sudah dihadapkan pada banyak pekerjaan sebagai tour guide, baik membawa wisatawan dalam negeri maupun wisatwan ke luar negeri.

Menguasai sejumlah bahasa, Putripun mulai dipercaya membawa tamu keluar negeri maupun airport handling untuk wisatawan asing yang hendak liburan di Tanah Air.

Bersamaan dengan kesibukannya sebagai tour guide atau tour leader, Putri melanjutkan kuliah S2 di Universitas Trisakti. Berbekal sarjana S2 tersebut, Putri mencoba melamar sebagai dosen di dua perguruan tingggi ternama di Jakarta. Konsistensinya sebagai dosen, berbuah Nomor Induk Dosen Nasional, sebuah pengakuan dari Kemendikbud yang diapresiasi berupa pembayaran honor yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Sebelumnya, atau tepatnya enam bulan sebelum covid-19 mewabah di Indonesia, putri pasangan H. Nikson dan Hj. Widowati ini diminta untuk mengajar di SMKN 9 Jakarta. Kemampuannya berbahasa Inggris menjadikan Putri  sebagai guru pada jurusan Kepariwisataan.

Tiga bidang tugas sekaligus – Dosen – Tour Guide – Guru – tak membuat Putri “menyerah”. Bahkan ia nyaris tak bisa pulang dari Korea Selatan saat membawa tamu, ketika negara itu menerapkan lockdown. Work from home menjadikan Putri sedikit rilex, seiring dengan redupnya industri pariwisata.

Pada akhirnya, Putri harus memilih salah satu dari tiga bidang tugas yang dijalankannya selama ini ketika diterima sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) DKI Jakarta beberapa bulan lalu. Lolos dengan meraih nilai tertinggi, merupakan suatu keajaiban dari Allah yang patut disyukuri.

Ia harus rela melepas statusnya sebagai dosen karena tak ingin dianggap menikmati uang negara dari dua sumber anggaran yang berbeda. Iapun tak akan bisa lagi membawa tamu selain faktor pandemi covid-19 juga tak diizinkan lagi sama suaminya Devo Andriyano, yang menikah Maret 2020 lalu.

Pernikanan tanpa resepsi akibat larangan berkumpul di DKI Jakarta, padahal persiapan sudah dilakukan sejak akhir Tahun 2019 itu berujung pembatalan sejumlah agenda. Namun semua itu diambil hikmahnya, karena dengan tanpa menggelar resepsi, biaya yang selama ini untuk sewa ini dan biaya  untuk itu dapat digunakannya untuk membeli sebuah rumah dan mobil. “Inilah hikmahnya,” kata Putri yang hampir setiap dua tahun sekali pulang ke Karang Dapo, bersilaturahmi dengan nenek dan saudara-saudara ayahnya.

Nikmat yang telah diberikan Allah ini, mengantarkan Putri memenuhi perintah agamanya, melaksanakan ibadah umroh, jauh sebelum terjadi Pandemi Covid-19 melanda dunia.

Ia pastikan, sukses yang diraih selama ini tak lepas dari dukungan dan doa orang tua. “Berbakti kepada orang tua, awal menuju pintu sukses,” pesannya. (son)

Mission News Theme by Compete Themes.