Press "Enter" to skip to content

Wärtsilä : Fleksibilitas Jaringan Listrik Kunci Indonesia Percepat Energi Terbarukan 

Media Social Share

JAKARTA, BISNISJAKARTA.ID – Indonesia memasuki fase baru dalam transisi energi, yang didorong oleh ekspansi energi terbarukan dan meningkatnya permintaan listrik dari industrialisasi, elektrifikasi, serta pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI). Kelompok teknologi global Wärtsilä menyoroti pentingnya fleksibilitas jaringan listrik untuk mendukung pertumbuhan ini sekaligus menjaga ketahanan energi dan menurunkan emisi. 

Berdasarkan RUPTL 2025–2034, Indonesia berencana menambah kapasitas pembangkit listrik sebesar 69,5 GW pada tahun 2034, yang mencakup 42,6 GW energi terbarukan dan 10,3 GW kapasitas gas baru. Seiring semakin besarnya kontribusi pembangkit tenaga surya dan angin dalam bauran energi, sistem tenaga listrik perlu menyeimbangkan pasokan yang semakin variatif dengan meningkatnya kebutuhan listrik dari sektor industri dan infrastruktur digital.

Membangun sistem tenaga listrik yang tangguh tidak hanya membutuhkan kapasitas pembangkitan yang memadai. Sistem tersebut juga memerlukan sumber daya yang mampu merespons dengan cepat terhadap perubahan kondisi operasi, mendukung stabilitas jaringan, dan menjamin keandalan pasokan listrik seiring berkembangnya pola permintaan energi. “Ketahanan energi pada akhirnya berarti memiliki sistem tenaga listrik yang mampu beradaptasi,” ujar Ossi Ylinen, Managing Director PT Wärtsilä Indonesia.

Ossi mengatakan, Indonesia memiliki peluang besar untuk memperluas pemanfaatan energi terbarukan sambil tetap mendukung pertumbuhan ekonomi dan digital. Dengan arsitektur sistem tenaga yang tepat, Indonesia dapat memperkuat ketahanan energi, mengintegrasikan lebih banyak energi bersih secara signifikan, serta menyediakan fondasi yang andal untuk memenuhi kebutuhan energi masa depan.Integrasi Energi Terbarukan 

Ambisi Indonesia yang telah diumumkan untuk mengembangkan 100 GW tenaga surya menunjukkan skala dan kecepatan transisi energi negara ini. Seiring dengan meningkatnya pembangkit listrik tenaga surya, kapasitas penyeimbang yang fleksibel akan memainkan peran penting dalam menjaga keandalan sistem ketika output tenaga surya berfluktuasi atau berhenti setelah matahari terbenam.

Pembangkit listrik berbasis mesin dengan kemampuan start-up cepat menyediakan fleksibilitas operasional yang dibutuhkan untuk mengintegrasikan lebih banyak energi terbarukan sekaligus menjaga pasokan listrik tetap andal.

Kondisi geografis Indonesia menambah kompleksitas tersendiri. Jaringan kelistrikannya membentang di wilayah kepulauan yang luas, mulai dari sistem interkoneksi besar dan pusat industri yang berkembang pesat hingga sistem kelistrikan pulau-pulau kecil yang terisolasi.

Oleh karena itu, tidak ada satu solusi yang dapat memenuhi seluruh kebutuhan sistem, sehingga teknologi yang fleksibel dan dapat diskalakan menjadi semakin penting. “Pembangkit listrik berbasis mesin Wärtsilä dirancang untuk melengkapi pembangkit energi terbarukan yang bersifat variabel,” kata Frederic Carron, Vice President, Middle East and Asia, Wärtsilä Energy.

Frederic mengatakan, mesin-mesin tersebut dapat dinyalakan dan mencapai beban penuh dalam waktu kurang dari dua menit, serta outputnya dapat disesuaikan dengan cepat sesuai kebutuhan jaringan. Hal ini memungkinkan pembangkit memberikan kapasitas penyeimbang saat produksi energi terbarukan berfluktuasi, sehingga keandalan dan stabilitas sistem tetap terjaga.Febron Siregar, Energy Solutions Director, PT Wärtsilä Indonesia mengatakan, tahap berikutnya dalam transisi energi Indonesia bukan hanya mengenai seberapa besar kapasitas energi terbarukan yang dibangun, tetapi juga seberapa efektif energi tersebut dapat diintegrasikan dan dimanfaatkan. “Perencanaan sistem tenaga yang lebih fleksibel sejak saat ini dapat membantu Indonesia menghindari tantangan keandalan dan stabilitas ketika penetrasi energi terbarukan semakin tinggi,” katanya.

Indonesia telah menunjukkan nilai penting fleksibilitas dalam praktiknya. Di Lombok, Nusa Tenggara Barat, sebuah pembangkit listrik berkapasitas 135 MW yang dilengkapi 13 mesin dual-fuel Wärtsilä 34DF memasok hampir 40% kebutuhan listrik pulau tersebut, sementara sebagian kapasitas pembangkit digunakan untuk mendukung penyeimbangan jaringan.

Fleksibilitas operasionalnya telah membantu sistem mengintegrasikan 20 MW PLTS, menunjukkan bagaimana teknologi mesin yang fleksibel dapat mendukung pertumbuhan energi terbarukan sekaligus menjaga stabilitas jaringan listrik. Terdekarbonisasi Secara Bertahap

Dekarbonisasi Indonesia dalam jangka panjang memerlukan lebih dari sekadar mengganti satu sumber pembangkitan dengan sumber lainnya. Kemajuan akan sangat bergantung pada seberapa efektif energi terbarukan, penyimpanan energi, infrastruktur transmisi, dan kapasitas pembangkit yang dapat dioperasikan sesuai kebutuhan bekerja bersama dalam keseluruhan sistem tenaga listrik.

Pendekatan Wärtsilä menggabungkan pembangkit energi terbarukan, penyimpanan energi, dan pembangkit mesin fleksibel untuk penyeimbang sistem. Portofolio mesin Wärtsilä juga terus dikembangkan agar dapat menggunakan bahan bakar berkelanjutan ketika tersedia secara komersial dalam skala besar, sehingga menyediakan jalur menuju emisi yang semakin rendah tanpa mengorbankan keandalan sistem.

Keputusan yang diambil akan menentukan aspek ekonomi dan ketahanan sistem tenaga listrik Indonesia di masa depan. “Dengan memprioritaskan teknologi yang fleksibel, Indonesia dapat memperkuat keandalan jaringan, mempercepat integrasi energi terbarukan, dan mendukung perjalanan menuju target net-zero.” tambah Frederic Carron.

Wärtsilä juga menyediakan layanan siklus hidup (lifecycle services) untuk membantu utilitas, produsen listrik independen, dan pelanggan industri mengoptimalkan aset yang ada sekaligus mengembangkan jalur menuju emisi yang lebih rendah. Layanan tersebut mencakup perjanjian layanan jangka panjang pembangkit listrik, peningkatan siklus hidup aset, layanan dekarbonisasi, penyediaan suku cadang, dan layanan lapangan. AI dan Pusat Data Sektor Kelistrikan

Perkembangan pesat kecerdasan buatan (AI), komputasi awan (cloud computing), dan layanan digital sedang mengubah pola permintaan listrik. Pusat data membutuhkan kapasitas daya yang besar dan sangat terkonsentrasi, sering kali berada di lokasi yang infrastruktur jaringannya sudah terbatas atau koneksi listrik tidak dapat tersedia dalam waktu yang sesuai dengan jadwal pembangunan proyek.

Bagi pengembang pusat data, akses terhadap listrik kini menjadi faktor penentu yang sangat penting dalam menentukan seberapa cepat fasilitas baru dapat mulai beroperasi.

Keterbatasan jaringan dan lamanya waktu koneksi sudah meningkatkan minat terhadap pembangkitan listrik di lokasi (onsite generation) di berbagai pasar pusat data utama dunia.

Wärtsilä melihat peluang serupa dalam jangka menengah hingga panjang di Asia, termasuk Indonesia. Pembangkit listrik modular berbasis mesin gas yang fleksibel dapat menyediakan pasokan listrik utama di lokasi yang kapasitas jaringannya terbatas.

Kapasitas pembangkit juga dapat ditambahkan secara bertahap seiring pertumbuhan kebutuhan pusat data. Aset-aset ini juga dapat mengambil peran berbeda ketika koneksi jaringan listrik sudah tersedia.

Alih-alih menjadi tidak terpakai, pembangkit mesin dapat berfungsi sebagai kapasitas penyeimbang atau pembangkit beban puncak (peaking plant), membantu mengelola fluktuasi pasokan dan permintaan listrik sekaligus mendukung peningkatan porsi energi terbarukan dalam sistem. “Bagi pusat data, kecepatan memperoleh pasokan listrik kini hampir sama pentingnya dengan akses terhadap listrik itu sendiri,” ujar Patrik Farkas, General Manager, Market Development, Middle East and Asia, Wärtsilä Energy.Para pengembang, kata dia, semakin menilai infrastruktur energi sebagai bagian strategis dari keputusan investasi mereka. Pembangkitan listrik onsite yang dapat diskalakan memungkinkan proyek berjalan meskipun kapasitas jaringan terbatas, sambil tetap mempertahankan opsi untuk mengalihkan fungsi aset tersebut ketika sistem tenaga di sekitarnya berkembang.

Pengalaman Wärtsilä di pasar pusat data global yang berkembang pesat menunjukkan besarnya peluang ini. Perusahaan telah menjual proyek-proyek terkait pusat data dengan total kapasitas lebih dari 2,4 GW di Amerika Serikat dan Eropa.

Wärtsilä mengidentifikasi Indonesia, Malaysia, Jepang, dan Australia sebagai pasar yang menawarkan peluang jangka menengah hingga panjang untuk solusi kelistrikan pusat data. “Transisi energi dan pertumbuhan digital Indonesia sedang berlangsung secara bersamaan,” papar Febron Siregar.

Peluangnya terletak pada pengembangan infrastruktur yang mampu mendukung keduanya. Akses terhadap pasokan listrik yang andal dapat membuka investasi digital, sementara aset energi yang adaptif dapat terus memberikan nilai saat jaringan berkembang dan bauran pembangkitan berubah.Diselenggarakan pada 22-24 September 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Jakarta Raya, Enlit Asia x MKI Electricity Connect akan mempertemukan lebih dari 11.000 profesional dan lebih dari 280 peserta pameran internasional. Para peserta akan mengeksplorasi bagaimana Asia Tenggara dapat memperkuat ketahanan energi, mempercepat dekarbonisasi, dan merespons sumber-sumber baru permintaan listrik.

Wärtsilä akan menampilkan keahlian sistem tenaganya, teknologi penyeimbang jaringan, dan layanan siklus hidup yang dapat membantu Indonesia mengintegrasikan lebih banyak energi terbarukan, memenuhi pertumbuhan kebutuhan listrik, serta membangun sistem tenaga yang siap menghadapi pertumbuhan di masa depan. (son)

Mission News Theme by Compete Themes.