Press "Enter" to skip to content

BNI Setujui Restrukturisasi Kredit Senilai Rp 119,3 Triliun

Media Social Share

BISNISJAKARTA.ID. JAKARTA – BNI secara aktif melakukan restrukturisasi kredit terhadap debitur yang berkinerja baik namun bisnisnya terdampak Covid-19. Langkah ini mengacu pada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 11 tahun 2020 tentang Stimulus Perekonomian Nasional Sebagai Kebijakan CountercyclicalDampak Penyebaran Corona Virus Disease 2019. Demikian paparan kinerja BNI Sementer I yang disampaikan Direktur Layanan dan Jaringan BNI Adi Sulistyowati di Jakarta, Selasa (18/8).

Hingga akhir Juni 2020, kata Sulistyowati, BNI telah menyetujui pemberian restrukturisasi kredit kepada debitur terdampak covid-19 sebesar Rp 119,3 triliun, atau sebesar 21,9% dari total kredit. Pemberian restrukturisasi kredit ini, kata dia, diharapkan dapat meringankan beban debitur dalam melewati krisis akibat pandemi covid-19. “Harapannya, saat Covid-19 dapat ditanggulangi, bisnis debitur dapat kembali ke arah yang lebih baik,” katanya.

Sejalan dengan program restrukturisasi tersebut, jelas Sulistyowati, BNI memilih untuk secara konservatif memupuk Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN). Pada Semester pertama ini, coverage ratioBNI telah mencapai 214,1%, jauh lebih besar dibandingkan coverage ratioSemester Pertama 2019 yang sebesar 156,5%.

Meningkatnya pencadangan kerugian ini, jelas dia, merupakan bentuk antisipasi risiko penurunan kualitas aset di masa depan. “Kami akan terus mencermati perkembangan dari pandemi Covid-19 ini serta dampaknya terhadap perekonomian global maupun domestik,” papar Sulistyowati.

Menurut hemat Sulistyowati, masih sulit untuk memprediksi kapan Covid – 19 akan berakhir, mengingat penularannya masih terus terjadi dan belum menunjukkan tanda-tanda perlambatan. WHO juga memperingatkan bahwa pandemi masih jauh dari akhir sehingga masyarakat dihimbau untuk tetap mengikuti protokol kesehatan.

Untuk itu, dengan kondisi yang masih tidak menentu ini, BNI telah menggariskan beberapa kebijakan strategis yang selaras dengan fase adaptasi kebiasaan baru, yaitu memastikan operasional perusahaan adaptif terhadap perkembangan situasi agar terus berjalan tanpa mengesampingkan kesehatan dan keselamatan nasabah dan pegawai.

Selain itu, menumbuhkan bisnis secara prudentdan diselaraskan dengan program pemulihan ekonomi nasional, serta menjaga likuiditas yang sehat dan mendorong pertumbuhan CASA yang berkelanjutan, serta tetap fokus pada upaya menjaga kualitas aset. (son)

 

Mission News Theme by Compete Themes.