JAKARTA, BISNISJAKARTA.ID – Unit Usaha Syariah (UUS) Maybank Indonesia (Maybank Syariah) terus mengalami pertumbuhan yang signifikan, terlihat dari jumlah laba dan jumlah nasabah yang terus meningkat. “Total aset Syariah tumbuh 7,0% menjadi Rp39,67 triliun dari Rp37,06 triliun, serta berkontribusi kepada total aset Bank sebesar 25,7%,” kata kata Presdir Maybank Indonesia Taswin Zakaria saat Media Briefing di Jakarta, Kamis (19/1).
Taswin mengatakan, Rasio Non Performing Financing (NPF) juga membaik, yakni 3,0% (gross) dan 2,4% (net) sejalan dengan pembiayaan Syariah yang terus bertumbuh. Sementara Financing-to-Deposit Ratio (FDR) berada pada tingkat yang sehat, yakni 89,7%. Hal ini selaras dengan strategi Bank untuk memperkuat likuiditas dengan mengoptimalkan simpanan dengan biaya rendah.

Selain itu, UUS tetap mengambil langkah konservatif untuk menjaga kualitas aset dengan meningkatkan level pencadangan untuk portofolio tertentu.
Unit Usaha Syariah Maybank, terus menerapkan strategi “Shariah First” dan Leverage Model, dimana keduanya telah memainkan peran strategis dalam meningkatkan bisnis Unit Usaha Syariah Maybank Indonesia. “Dengan dukungan OJK terhadap Leverage Model, Unit Usaha Syariah dapat mengakses seluruh sumber daya Bank untuk mengembangkan dan memasarkan produk serta layanan berbasis syariah,” jelas Taswin.
Sementara Head Shariah Banking Maybank Indonesia Romy Buchari menyampaikan porsi aset perbankan syariah di Indonesia perlu terus ditingkatkan, mengingat Indonesia merupakan negara dengan populasi muslim terbesar di dunia yaitu sebanyak 237,56 juta jiwa.

Romy mengatakan, total aset perbankan syariah di Indonesia masih sekitar 7 persen dibandingkan dengan perbankan konvensional pada tahun 2022.
Sebetulnya, Romy menjelaskan total aset perbankan syariah terus mengalami kenaikan dari tahun ke tahun, yaitu menjadi sebesar Rp745 triliun pada 2022, dari sebelumnya sebesar Rp694 triliun pada tahun 2021.
Bahkan, dalam kurun waktu lima tahun terakhir total aset perbankan syariah mengalami kenaikan yang signifikan, yang mana sebelumnya tercatat hanya sebesar Rp490 triliun pada tahun 2018. “Kita masih mencoba menumbuhkan perbankan syariah,” kata Romy.
Namun demikian, apabila dibandingkan dengan negara lain yang mayoritas penduduknya juga muslim, dia menegaskan industri perbankan syariah nasional masih kalah jauh.

Dia mengungkapkan, porsi total aset perbankan syariah Malaysia sudah mencapai di atas 30 persen dibandingkan perbankan konvensional, United Arab Emirat (UAE) sudah mencapai 35 persen, dan Arab Saudi sudah mencapai 70 persen. “Dibandingkan negara lain untuk ukuran populasi muslim banyak, kita masih jauh ketinggalan, kita masih di sekitar 6 persen. Tetapi, beberapa tahun terakhir awareness mengenai perbankan syariah dan dorongan serta support dari pemerintah ke perbankan syariah sudah mulai terlihat,” kata Romy.
Dalam kesempatan ini, dia menjelaskan model bisnis bank syariah di Tanah Air terbagi menjadi dua, diantaranya Unit Usaha Syariah (USS) yang merupakan bagian dari divisi suatu bank konvensional yang melakukan usaha syariahnya secara penuh.
Kemudian, Bank Umum Syariah (BUS) yaitu bank yang berdiri sendiri dan menjalankan konsep syariah secara keseluruhan.

Dia pun mengungkapkan saat ini terdapat sekitar 21 Unit Usaha Syariah di Indonesia dan 13 Bank Umum Syariah. “Keberadaan USS sangat membantu pemain- pemain dari berbagai macam background untuk masuk dan membantu membesarkan unit syariah,” kata Romy.
Dia berharap porsi aset berbagai Unit Usaha Syariah (USS) di Indonesia dapat terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan.
Dia mencontohkan porsi USS Maybank Syariah dari total aset Maybank terus meningkat setiap tahunnya, dari 18 persen pada 2018, naik menjadi 25 persen pada 2021 hingga 26 persen pada kuartal II-2022. “Perbankan syariah bisa menjadi financial system yang mainstream di Indonesia, tidak hanya player, tidak hanya spesialis, tetapi semua bisa memakai atau memanfaatkan faedah dari perbankan syariah,” kata Romy. (son)










